Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. QRIS Bikin Mudah, Tapi Kenapa Semua Belum Pakai?

QRIS Bikin Mudah, Tapi Kenapa Semua Belum Pakai?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
22 April 2026, 13.44 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
QRIS bayar

Penulis: Hafidz Maulana Yusuf

JurnalPost.com - Bayangin aja, cukup satu kode, semua transaksi bisa langsung beres dalam hitungan detik. Nggak perlu lagi ribet bawa uang tunai atau buka banyak aplikasi pembayaran. Itulah yang ditawarkan QRIS buat pelaku UMKM di Indonesia. Secara konsep, ini sederhana tapi dampaknya cukup besar. Namun, kalau dilihat lebih dalam, penggunaan QRIS di lapangan ternyata belum sepenuhnya berjalan mulus. Masih ada beberapa tantangan yang bikin implementasinya belum optimal.

IKLAN

Perkembangan teknologi digital memang pelan-pelan mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia, terutama dalam hal transaksi. Sekarang, orang makin terbiasa dengan pembayaran non-tunai. QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) hadir sebagai salah satu solusi yang menyatukan berbagai metode pembayaran dalam satu kode. Jadi, baik itu lewat mobile banking atau e-wallet, semuanya bisa dipakai tanpa perlu penyesuaian yang rumit.

Di Era QRIS
Baca Juga

Di Era QRIS, Mengapa Rupiah Tunai Tetap Penting?

Buat pelaku UMKM, ini jelas jadi kemudahan tersendiri. Misalnya, pedagang kaki lima yang dulu hanya menerima uang tunai, sekarang bisa melayani pembayaran digital tanpa harus menyediakan banyak alat atau sistem. Cukup satu QRIS, semua bisa beres dalam hitungan detik, tanpa perlu menyediakan banyak metode pembayaran berbeda. Dari sisi efisiensi, QRIS ini membantu banget. Transaksi jadi lebih cepat, risiko uang palsu bisa dihindari, dan pencatatan keuangan juga bisa lebih rapi.

Menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 60 juta pengguna per tanggal 23 Februari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa QRIS punya daya tarik yang kuat dan mulai diterima luas oleh masyarakat. Di sisi lain, ini juga jadi tanda bahwa transformasi digital di sektor keuangan sedang berjalan. Tapi, meskipun angkanya besar, bukan berarti semuanya sudah merata.

Masalah yang muncul justru ada pada pemerataan penggunaan. Masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami cara kerja QRIS atau bahkan belum pernah menggunakannya sama sekali. Hal ini bukan hanya terjadi di daerah terpencil, tapi juga di beberapa wilayah yang sebenarnya sudah cukup berkembang.

Salah satu penyebabnya adalah literasi digital yang masih belum merata. Banyak orang yang masih ragu menggunakan pembayaran digital karena khawatir soal keamanan. Mereka takut terjadi penipuan, kebocoran data, atau kesalahan transaksi. Kekhawatiran ini sebenarnya wajar, tapi kalau rasa khawatir ini dibiarkan tanpa dibarengi dengan edukasi yang cukup, hal tersebut justru bisa jadi penghambat perkembangan QRIS itu sendiri.

Wabup Barru
Baca Juga

Wabup Barru Instruksikan ASN Wajib Gunakan QRIS dan Mobile Banking

Selain itu, faktor infrastruktur juga tidak bisa diabaikan. Tidak semua daerah punya akses internet yang stabil. Padahal, QRIS sangat bergantung pada koneksi internet untuk bisa digunakan dengan lancar. Di daerah dengan jaringan yang kurang baik, transaksi bisa jadi terhambat atau bahkan gagal. Ini tentu membuat sebagian pelaku usaha enggan beralih ke sistem digital.

Faktor lain yang cukup berpengaruh adalah kurangnya sosialisasi yang konsisten. Informasi tentang QRIS memang sudah cukup banyak, tapi penyampaiannya belum tentu menjangkau ke semua masyarakat. Ada yang sudah tahu QRIS, tapi belum paham cara pakai dan cara kerjanya. Ada juga yang sudah pernah lihat, tapi belum yakin untuk mencoba.

IKLAN

Kalau kondisi ini dibiarkan, dampaknya bisa cukup luas. Salah satunya adalah terhambatnya efisiensi dalam sistem pembayaran digital. Padahal, tujuan utama dari adanya QRIS ini adalah untuk mempermudah transaksi dan meningkatkan inklusi keuangan. Kalau penggunaannya belum merata, maka manfaatnya juga belum bisa dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.

Di sektor UMKM, dampaknya juga cukup terasa. Pelaku usaha yang belum menggunakan QRIS bisa kehilangan peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, terutama dari kalangan yang sudah terbiasa menggunakan pembayaran digital. Di sisi lain, pelaku usaha yang sudah menggunakan QRIS memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang. Hal ini berpotensi menciptakan kesenjangan antara pelaku usaha yang “melek digital” dan yang belum.

Sumber: Pexels (pexels.com)
Baca Juga

5 Alasan Kenapa Solo Traveling ke Luar Negeri Sekali Seumur Hidup Itu Wajib

Selain itu, kesenjangan digital antarwilayah juga bisa semakin terlihat. Daerah yang memiliki akses teknologi lebih baik akan lebih cepat berkembang, sementara daerah yang belum memiliki akses teknologi bisa tertinggal. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan ekonomi digital di Indonesia.

Kalau dipikir-pikir, solusi dari masalah ini sebenarnya sudah cukup jelas, hanya saja butuh komitmen bersama untuk menjalankannya. Pemerintah dan penyedia layanan perlu lebih aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Bukan hanya sekedar mengenalkan QRIS, tapi juga menjelaskan cara penggunaan, cara kerja dan aspek keamanannya secara sederhana dan yang mudah dipahami masyarakat luas.

Selain itu, penguatan infrastruktur digital juga sangat penting. Akses internet yang stabil dan merata akan sangat membantu dalam mendorong penggunaan QRIS di berbagai daerah. Tanpa dukungan pemerintah dan penyedia layanan yang memadai, masyarakat sulit untuk menggunakan teknologi secara optimal.

Di sisi lain, pengembangan aplikasi juga perlu diperhatikan. Semakin sederhana dan ramah pengguna suatu sistem, semakin besar kemungkinan masyarakat untuk menggunakannya. Kadang, yang membuat orang ragu bukan karena tidak mau, tapi karena merasa sistemnya terlalu rumit.

Menurut saya, QRIS ini bukan sekadar inovasi teknologi biasa. Lebih dari itu, QRIS adalah bagian dari upaya besar untuk mendorong transformasi digital, khususnya di sektor UMKM. Dengan sistem yang terintegrasi dan mudah digunakan, QRIS bisa membantu pelaku usaha untuk berkembang dan bersaing di era digital.

Kalau dimanfaatkan secara maksimal, QRIS bisa menjadi peluang besar untuk menuju ekonomi digital yang lebih inklusif. Artinya, semua masyarakat punya kesempatan besar yang sama untuk ikut terlibat dalam perkembangan sistem ekonomi modern. Tidak hanya yang tinggal di kota-kota besar, tapi juga yang berada di daerah terpencil.

Pada akhirnya, QRIS itu sebenarnya bukan cuma soal bikin transaksi jadi lebih praktis, tapi menjadi jalan agar teknologi kian membumi dan bisa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat. Dengan demikian, masyarakat nggak perlu ribet lagi saat bertransaksi, semuanya terasa lebih cepat dan efisien. Dampaknya juga nggak kecil, karena peluang untuk ikut dalam perkembangan ekonomi jadi makin terbuka. Memang, di lapangan masih ada beberapa tantangan. Tapi kalau terus dibenahi dan dikembangkan dengan serius, bukan tidak mungkin QRIS benar-benar bisa dirasakan manfaatnya secara luas.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/qris-bikin-mudah-tapi-kenapa-semua-belum-pakai/92398/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.16 WITA

  • #Pembayaran QRIS
  • #QRIS bayar

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Pilihan Editor

  1. 1 Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia
  2. 2

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  3. 3

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  4. 4

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  5. 5

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.