Oleh: Susi Musriallisa Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning
JurnalPost.com - Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda memperoleh informasi dan berinteraksi dengan dunia. Melalui media sosial, berbagai informasi dari berbagai negara dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini memberikan banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Saat ini, muncul kekhawatiran mengenai menurunnya rasa nasionalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa. Fenomena tersebut terlihat dari rendahnya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila, maraknya penyebaran informasi yang mengandung ujaran kebencian, meningkatnya sikap intoleransi, hingga kurangnya kepedulian terhadap persoalan bangsa. Tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal budaya asing dibandingkan budaya daerah maupun identitas nasionalnya sendiri.
Dalam konteks ini, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memiliki peran yang sangat penting. PPKn bukan sekadar mata pelajaran yang mengajarkan teori tentang Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, atau sistem pemerintahan. Lebih dari itu, PPKn bertujuan membentuk warga negara yang memiliki karakter, tanggung jawab sosial, serta kesadaran untuk berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Permasalahan yang terjadi saat ini adalah pembelajaran PPKn masih sering dianggap sebagai mata pelajaran yang berorientasi pada hafalan. Peserta didik lebih banyak diminta mengingat konsep dan pasal-pasal dibandingkan memahami makna serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, nilai-nilai yang diajarkan dalam PPKn belum sepenuhnya tertanam dalam perilaku peserta didik.
Di era digital, pendekatan pembelajaran PPKn perlu mengalami perubahan. Guru perlu mengaitkan materi pembelajaran dengan persoalan nyata yang dihadapi peserta didik. Misalnya, membahas hoaks, cyberbullying, intoleransi di media sosial, maupun etika digital sebagai bagian dari pendidikan kewarganegaraan. Dengan demikian, peserta didik dapat memahami bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan digital mereka.
Selain itu, pembelajaran PPKn harus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial. Diskusi, studi kasus, proyek sosial, dan kegiatan pengabdian masyarakat dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Melalui pengalaman langsung, peserta didik akan lebih mudah memahami pentingnya toleransi, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
Peran keluarga dan masyarakat juga tidak kalah penting. Pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Lingkungan keluarga perlu menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila, seperti menghargai perbedaan, bersikap jujur, dan mengutamakan musyawarah. Ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat berjalan searah, maka proses pembentukan karakter kebangsaan akan menjadi lebih efektif.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan saat ini bukan hanya menciptakan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat. PPKn harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap relevan dalam membentuk warga negara yang kritis, toleran, dan bertanggung jawab. Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi kebutuhan yang semakin mendesak untuk menjaga persatuan dan masa depan bangsa.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda