Oleh: Ririn Sa’bani Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning
JurnalPost.com - Beberapa tahun lalu, siswa yang kesulitan memahami pelajaran akan bertanya kepada guru, membuka buku, atau berdiskusi dengan teman. Hari ini situasinya mulai berubah. Ketika menemukan soal yang sulit, banyak siswa cukup membuka ponsel dan bertanya kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam hitungan detik, jawaban lengkap pun tersedia. Fenomena ini bukan lagi gambaran masa depan. Ia sudah hadir di ruang-ruang kelas kita hari ini.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 221 juta orang atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. Di saat yang sama, berbagai aplikasi berbasis AI semakin mudah diakses oleh pelajar maupun guru. Dunia pendidikan sedang memasuki babak baru yang ditandai oleh kecepatan, kemudahan, dan otomatisasi.
Perubahan tersebut tentu patut disambut positif. Teknologi telah membantu memperluas akses belajar, mempercepat pencarian informasi, dan membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar secara lebih mandiri. Guru pun memperoleh banyak kemudahan dalam menyiapkan materi, membuat evaluasi, hingga mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik.
Namun, di tengah berbagai kemudahan itu, ada satu pertanyaan yang perlu direnungkan bersama. Jika teknologi semakin pintar mengajarkan pengetahuan, siapa yang akan mengajarkan empati?
Pertanyaan ini penting karena pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk karakter. Sekolah bukan sekadar tempat memperoleh nilai tinggi atau menguasai teknologi terbaru. Sekolah adalah ruang tempat anak belajar memahami dirinya, menghargai orang lain, bekerja sama, dan tumbuh sebagai manusia.
Sayangnya, semakin dominannya interaksi digital sering kali diikuti dengan berkurangnya interaksi antarmanusia. Banyak aktivitas belajar berlangsung melalui layar. Komunikasi menjadi lebih singkat dan praktis. Hubungan guru dan siswa terkadang terbatas pada pengiriman tugas serta pemberian nilai.
Kondisi ini bukan kesalahan teknologi. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya tetap manusia. Persoalannya muncul ketika pendidikan terlalu fokus pada kecanggihan perangkat, tetapi kurang memberi perhatian pada nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi ruh pendidikan itu sendiri.
Kita perlu mengakui bahwa ada banyak hal yang mampu dilakukan AI dengan sangat baik. AI dapat menjelaskan materi pelajaran, menerjemahkan bahasa asing, menyusun ringkasan, bahkan membantu menyelesaikan persoalan matematika yang kompleks. Namun, ada satu hal yang belum mampu dilakukan teknologi secanggih apa pun, yaitu memahami manusia secara utuh.
AI mungkin dapat menjawab pertanyaan siswa dengan cepat, tetapi ia tidak mampu merasakan kecemasan seorang anak yang sedang menghadapi masalah keluarga. AI dapat memberikan solusi, tetapi tidak bisa menghadirkan ketulusan ketika memberi semangat kepada siswa yang kehilangan kepercayaan diri. AI dapat menghasilkan ribuan kata, tetapi tidak mampu menggantikan senyum, perhatian, dan kepedulian yang diberikan seorang guru kepada muridnya.
Di sinilah letak pentingnya humanisasi pendidikan di era digital.
Humanisasi bukan berarti menolak teknologi. Sebaliknya, humanisasi mengingatkan bahwa teknologi harus tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan tidak boleh kehilangan sentuhan yang membuat peserta didik merasa dihargai, didengar, dan dipahami.
Karena itu, tugas guru pada masa kini bukan lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Peran guru justru semakin penting sebagai pembimbing, fasilitator, sekaligus teladan bagi peserta didik. Ketika teknologi mengambil sebagian pekerjaan teknis, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun hubungan yang bermakna dengan siswanya.
Sekolah juga perlu memberi ruang yang lebih luas bagi aktivitas yang menumbuhkan empati. Diskusi kelompok, proyek kolaboratif, kegiatan sosial, dan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan nyata perlu terus diperkuat. Aktivitas semacam ini mengajarkan keterampilan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui interaksi dengan mesin, yaitu kemampuan memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.
Selain itu, literasi digital perlu dipahami secara lebih luas. Selama ini literasi digital sering dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Padahal, yang tidak kalah penting adalah kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Peserta didik perlu dibekali kesadaran bahwa kecanggihan teknologi harus berjalan seiring dengan etika, kejujuran, dan kepedulian sosial.
Masa depan pendidikan memang akan semakin digital. AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menolak perubahan tentu bukan pilihan yang bijak. Akan tetapi, menerima teknologi tanpa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan juga bukan keputusan yang tepat.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak akan diukur dari seberapa banyak perangkat digital yang digunakan di sekolah. Keberhasilan pendidikan akan terlihat dari manusia yang dihasilkannya. Apakah mereka tumbuh menjadi pribadi yang peduli? Apakah mereka mampu bekerja sama? Apakah mereka memiliki empati terhadap sesama?
Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih pintar. Namun, hanya pendidikan yang manusiawi yang mampu membuat manusia menjadi lebih bijaksana. Karena itu, ketika AI semakin aktif hadir di ruang kelas, empati harus tetap menjadi pelajaran utama.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda