Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika AI Mengajar, Siapa yang Mengajarkan Empati?

Ketika AI Mengajar, Siapa yang Mengajarkan Empati?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
11 Juni 2026, 20.40 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
AI Mengajar

Oleh: Ririn Sa’bani Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning

JurnalPost.com - Beberapa tahun lalu, siswa yang kesulitan memahami pelajaran akan bertanya kepada guru, membuka buku, atau berdiskusi dengan teman. Hari ini situasinya mulai berubah. Ketika menemukan soal yang sulit, banyak siswa cukup membuka ponsel dan bertanya kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam hitungan detik, jawaban lengkap pun tersedia. Fenomena ini bukan lagi gambaran masa depan. Ia sudah hadir di ruang-ruang kelas kita hari ini.

IKLAN

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 221 juta orang atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. Di saat yang sama, berbagai aplikasi berbasis AI semakin mudah diakses oleh pelajar maupun guru. Dunia pendidikan sedang memasuki babak baru yang ditandai oleh kecepatan, kemudahan, dan otomatisasi.

AI di Ruang Kelas
Baca Juga

AI di Ruang Kelas: Ancaman atau Kesempatan bagi Pendidikan?

Perubahan tersebut tentu patut disambut positif. Teknologi telah membantu memperluas akses belajar, mempercepat pencarian informasi, dan membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar secara lebih mandiri. Guru pun memperoleh banyak kemudahan dalam menyiapkan materi, membuat evaluasi, hingga mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik.

Namun, di tengah berbagai kemudahan itu, ada satu pertanyaan yang perlu direnungkan bersama. Jika teknologi semakin pintar mengajarkan pengetahuan, siapa yang akan mengajarkan empati?

Pertanyaan ini penting karena pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk karakter. Sekolah bukan sekadar tempat memperoleh nilai tinggi atau menguasai teknologi terbaru. Sekolah adalah ruang tempat anak belajar memahami dirinya, menghargai orang lain, bekerja sama, dan tumbuh sebagai manusia.

Sayangnya, semakin dominannya interaksi digital sering kali diikuti dengan berkurangnya interaksi antarmanusia. Banyak aktivitas belajar berlangsung melalui layar. Komunikasi menjadi lebih singkat dan praktis. Hubungan guru dan siswa terkadang terbatas pada pengiriman tugas serta pemberian nilai.

PPKn di Era Digital
Baca Juga

PPKn di Era Digital: Mampukah Menumbuhkan Nasionalisme Generasi Muda?

Kondisi ini bukan kesalahan teknologi. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya tetap manusia. Persoalannya muncul ketika pendidikan terlalu fokus pada kecanggihan perangkat, tetapi kurang memberi perhatian pada nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi ruh pendidikan itu sendiri.

Kita perlu mengakui bahwa ada banyak hal yang mampu dilakukan AI dengan sangat baik. AI dapat menjelaskan materi pelajaran, menerjemahkan bahasa asing, menyusun ringkasan, bahkan membantu menyelesaikan persoalan matematika yang kompleks. Namun, ada satu hal yang belum mampu dilakukan teknologi secanggih apa pun, yaitu memahami manusia secara utuh.

IKLAN

AI mungkin dapat menjawab pertanyaan siswa dengan cepat, tetapi ia tidak mampu merasakan kecemasan seorang anak yang sedang menghadapi masalah keluarga. AI dapat memberikan solusi, tetapi tidak bisa menghadirkan ketulusan ketika memberi semangat kepada siswa yang kehilangan kepercayaan diri. AI dapat menghasilkan ribuan kata, tetapi tidak mampu menggantikan senyum, perhatian, dan kepedulian yang diberikan seorang guru kepada muridnya.

Di sinilah letak pentingnya humanisasi pendidikan di era digital.

AI Bisa Menjawab
Baca Juga

Saat AI Bisa Menjawab Soal Matematika, Masihkah Siswa Perlu Berpikir?

Humanisasi bukan berarti menolak teknologi. Sebaliknya, humanisasi mengingatkan bahwa teknologi harus tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan tidak boleh kehilangan sentuhan yang membuat peserta didik merasa dihargai, didengar, dan dipahami.

Karena itu, tugas guru pada masa kini bukan lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Peran guru justru semakin penting sebagai pembimbing, fasilitator, sekaligus teladan bagi peserta didik. Ketika teknologi mengambil sebagian pekerjaan teknis, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun hubungan yang bermakna dengan siswanya.

Sekolah juga perlu memberi ruang yang lebih luas bagi aktivitas yang menumbuhkan empati. Diskusi kelompok, proyek kolaboratif, kegiatan sosial, dan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan nyata perlu terus diperkuat. Aktivitas semacam ini mengajarkan keterampilan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui interaksi dengan mesin, yaitu kemampuan memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.

Selain itu, literasi digital perlu dipahami secara lebih luas. Selama ini literasi digital sering dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Padahal, yang tidak kalah penting adalah kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Peserta didik perlu dibekali kesadaran bahwa kecanggihan teknologi harus berjalan seiring dengan etika, kejujuran, dan kepedulian sosial.

Masa depan pendidikan memang akan semakin digital. AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menolak perubahan tentu bukan pilihan yang bijak. Akan tetapi, menerima teknologi tanpa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan juga bukan keputusan yang tepat.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak akan diukur dari seberapa banyak perangkat digital yang digunakan di sekolah. Keberhasilan pendidikan akan terlihat dari manusia yang dihasilkannya. Apakah mereka tumbuh menjadi pribadi yang peduli? Apakah mereka mampu bekerja sama? Apakah mereka memiliki empati terhadap sesama?

Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih pintar. Namun, hanya pendidikan yang manusiawi yang mampu membuat manusia menjadi lebih bijaksana. Karena itu, ketika AI semakin aktif hadir di ruang kelas, empati harus tetap menjadi pelajaran utama.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-ai-mengajar-siapa-yang-mengajarkan-empati/94344/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.22 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Lancang Kuning

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pilihan Editor

  1. 1 Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027
  2. 2

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  3. 3

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  4. 4

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  5. 5

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.