Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. AI di Ruang Kelas: Ancaman atau Kesempatan bagi Pendidikan?

AI di Ruang Kelas: Ancaman atau Kesempatan bagi Pendidikan?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
11 Juni 2026, 20.57 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
AI di Ruang Kelas

Oleh: Hj. Lisa Herawati Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning

JurnalPost.com Kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai platform pembelajaran berbasis AI memunculkan perdebatan di kalangan pendidik. Sebagian pihak memandang AI sebagai ancaman karena dianggap dapat membuat peserta didik malas berpikir. Di sisi lain, banyak yang melihat AI sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pertanyaannya, apakah AI benar-benar mengancam pendidikan atau justru menjadi kesempatan untuk memperkuat proses belajar?

IKLAN

Dalam perspektif ilmu pendidikan, teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Dampak positif atau negatifnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Teori konstruktivisme yang dikemukakan Jean Piaget dan dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli pendidikan menekankan bahwa peserta didik membangun pengetahuannya melalui interaksi aktif dengan lingkungan. Dalam konteks ini, AI dapat menjadi sarana yang membantu peserta didik memperoleh informasi, menguji ide, dan memperluas wawasan mereka.

PPKn di Era Digital
Baca Juga

PPKn di Era Digital: Mampukah Menumbuhkan Nasionalisme Generasi Muda?

Namun demikian, kekhawatiran terhadap penggunaan AI juga memiliki dasar yang kuat. Banyak peserta didik mulai terbiasa meminta AI menyelesaikan tugas tanpa berusaha memahami proses berpikir yang mendasarinya. Jika kondisi ini terus terjadi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah dapat mengalami penurunan. Pendidikan pada akhirnya hanya berorientasi pada hasil akhir, bukan pada proses pembentukan kemampuan berpikir.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukanlah keberadaan AI, melainkan rendahnya literasi digital dan kesiapan pedagogis dalam memanfaatkannya. Pendidikan seharusnya tidak melarang penggunaan AI secara mutlak. Sebaliknya, sekolah dan perguruan tinggi perlu mengajarkan cara menggunakan AI secara bertanggung jawab dan produktif.

IKLAN

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Dalam teori pendidikan progresif yang diperkenalkan John Dewey, guru berfungsi sebagai fasilitator yang membantu peserta didik belajar dari pengalaman. Pada era AI, fungsi tersebut semakin relevan. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi menjadi pembimbing yang membantu peserta didik menyeleksi informasi, memverifikasi kebenaran data, serta mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Lebih jauh lagi, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal. Setiap peserta didik memiliki kebutuhan, kemampuan, dan gaya belajar yang berbeda. Melalui teknologi AI, materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan yang menghargai keunikan peserta didik dan mendorong perkembangan potensi secara optimal.

AI Bisa Menjawab
Baca Juga

Saat AI Bisa Menjawab Soal Matematika, Masihkah Siswa Perlu Berpikir?

Dalam konteks Indonesia, penggunaan AI di dunia pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan. Kesenjangan akses teknologi, keterbatasan infrastruktur digital, serta kompetensi guru yang beragam menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menyusun kebijakan yang tidak hanya mendorong pemanfaatan AI, tetapi juga memastikan adanya pelatihan yang memadai bagi pendidik.

Selain itu, aspek etika juga tidak boleh diabaikan. Peserta didik perlu memahami bahwa penggunaan AI harus tetap menjunjung tinggi kejujuran akademik. AI seharusnya digunakan untuk membantu proses belajar, bukan menggantikan usaha intelektual manusia. Pendidikan karakter menjadi fondasi penting agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan bijak. Dunia pendidikan perlu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi utamanya, yaitu membentuk manusia yang berpikir kritis, kreatif, berkarakter, dan mampu belajar sepanjang hayat. Jika dikelola dengan tepat, AI justru dapat menjadi mitra strategis dalam menciptakan pendidikan yang lebih efektif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah AI boleh digunakan dalam pendidikan, melainkan bagaimana memanfaatkan AI agar mampu memperkuat kualitas pembelajaran dan membentuk generasi yang lebih siap menghadapi masa depan.

Guru yang Burnout
Baca Juga

Guru yang Burnout: Ketika Mereka yang Mengajar Juga Butuh Ditolong

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ai-di-ruang-kelas-ancaman-atau-kesempatan-bagi-pendidikan/94360/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.17 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Lancang Kuning

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Pilihan Editor

  1. 1 Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang
  2. 2

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  3. 3

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  4. 4

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  5. 5

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.