Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Guru yang Burnout: Ketika Mereka yang Mengajar Juga Butuh Ditolong

Guru yang Burnout: Ketika Mereka yang Mengajar Juga Butuh Ditolong

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
11 Juni 2026, 20.48 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Guru yang Burnout

Oleh: Rahayu Sri Agumi Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning

JurnalPost.com - Setiap hari guru datang ke sekolah dengan membawa harapan yang sama: membantu peserta didik belajar dan berkembang. Di ruang kelas, mereka berusaha menjadi pengajar, motivator, pendengar, bahkan terkadang menjadi sosok yang menenangkan ketika siswa menghadapi masalah. Namun di balik peran tersebut, ada kenyataan yang jarang dibicarakan. Banyak guru yang diam-diam mengalami kelelahan yang mendalam atau yang dikenal sebagai burnout.

IKLAN

Kelelahan yang dialami guru bukan sekadar rasa capek setelah mengajar. Burnout adalah kondisi ketika seseorang merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan semangat, merasa tidak berdaya, dan perlahan kehilangan makna dari pekerjaan yang selama ini dicintainya.

AI di Ruang Kelas
Baca Juga

AI di Ruang Kelas: Ancaman atau Kesempatan bagi Pendidikan?

Fenomena burnout pada guru semakin mudah ditemukan. Tuntutan profesi guru saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga harus menyusun berbagai administrasi, membuat laporan, mengisi data pada berbagai platform digital, mengikuti pelatihan, menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan, hingga merespons berbagai kebutuhan peserta didik dan orang tua.

Banyak guru yang mengaku bahwa waktu mereka justru lebih banyak tersita untuk pekerjaan administratif dibandingkan mempersiapkan pembelajaran yang bermakna. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk berinteraksi dengan siswa berkurang karena habis untuk menyelesaikan berbagai tuntutan pekerjaan.

Dalam kajian psikologi pendidikan, Christina Maslach menjelaskan bahwa burnout ditandai oleh kelelahan emosional, menurunnya rasa pencapaian diri, dan munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan. Jika kondisi ini terjadi pada guru, dampaknya tentu tidak hanya dirasakan oleh guru itu sendiri. Proses pembelajaran juga dapat terdampak karena guru yang kelelahan cenderung sulit mempertahankan kreativitas, antusiasme, dan kesabaran yang dibutuhkan dalam mendidik.

IKLAN

Era digital yang seharusnya membantu pekerjaan guru ternyata juga menghadirkan tantangan baru. Berbagai aplikasi pembelajaran, sistem pelaporan daring, dan komunikasi yang berlangsung hampir tanpa batas waktu membuat sebagian guru merasa selalu "siaga". Tidak sedikit yang harus menjawab pesan pekerjaan di luar jam kerja atau menghabiskan waktu malam untuk menyelesaikan tugas administrasi.

PPKn di Era Digital
Baca Juga

PPKn di Era Digital: Mampukah Menumbuhkan Nasionalisme Generasi Muda?

Dari perspektif pendidikan humanistik, Abraham Maslow menegaskan bahwa manusia membutuhkan rasa aman, penghargaan, dan kesejahteraan psikologis sebelum mampu mencapai potensi terbaiknya. Guru pun demikian. Sulit mengharapkan guru mampu memberikan pembelajaran yang inspiratif jika mereka sendiri sedang berjuang menghadapi tekanan yang tidak kunjung berkurang.

Sayangnya, persoalan burnout guru masih sering dianggap sebagai masalah pribadi. Ketika seorang guru merasa lelah atau kehilangan motivasi, solusi yang muncul sering kali hanya berupa anjuran untuk lebih sabar dan lebih kuat. Padahal, burnout tidak selalu muncul karena kelemahan individu. Dalam banyak kasus, burnout merupakan akibat dari sistem kerja yang memberikan tuntutan besar tanpa dukungan yang memadai.

Karena itu, upaya mengatasi burnout guru tidak bisa dibebankan kepada guru semata. Sekolah perlu membangun lingkungan kerja yang sehat dan saling mendukung. Pemerintah perlu terus menyederhanakan beban administrasi yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran. Selain itu, perhatian terhadap kesehatan mental guru juga perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pendidikan.

Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Apresiasi terhadap guru seharusnya tidak berhenti pada peringatan Hari Guru semata, tetapi diwujudkan dalam penghargaan terhadap kerja keras mereka setiap hari. Guru bukanlah mesin yang dapat terus bekerja tanpa batas. Mereka adalah manusia yang juga membutuhkan dukungan, penghargaan, dan ruang untuk beristirahat.

AI Bisa Menjawab
Baca Juga

Saat AI Bisa Menjawab Soal Matematika, Masihkah Siswa Perlu Berpikir?

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, teknologi, atau fasilitas sekolah. Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kondisi para pendidiknya. Jika kita ingin menghadirkan pendidikan yang lebih baik, maka kesehatan dan kesejahteraan guru harus menjadi perhatian bersama. Sebab guru yang bahagia dan sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi generasi masa depan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/guru-yang-burnout-ketika-mereka-yang-mengajar-juga-butuh-ditolong/94350/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.17 WITA

  • #Guru yang Burnout
  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Lancang Kuning

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pilihan Editor

  1. 1 Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan
  2. 2

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  3. 3

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  4. 4

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  5. 5

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.