Oleh: Anjani Aniq Chusana
Dunia perkuliahan sering dianggap sebagai masa untuk belajar, mencari pengalaman, dan mengembangkan diri. Namun, bagi banyak mahasiswa, kuliah tidak sesederhana datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang. Ada banyak tuntutan yang berjalan bersamaan. Nilai akademik perlu dijaga, organisasi dianggap penting untuk menambah pengalaman, belum lagi tekanan untuk terus terlihat aktif, produktif, dan berprestasi.
Di lingkungan kampus, mahasiswa sering merasa harus melakukan banyak hal sekaligus. Memiliki IPK yang bagus dipandang sebagai pencapaian akademik yang wajib dikejar, sementara aktif organisasi sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang adalah mahasiswa yang berkembang. Tanpa sadar, muncul gambaran bahwa mahasiswa yang “baik” adalah mereka yang mampu menyeimbangkan semuanya. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang mulai merasa tertinggal ketika merasa dirinya belum cukup aktif atau belum cukup berprestasi.
Tekanan tersebut semakin terasa di era media sosial. Hari ini, mahasiswa tidak hanya membandingkan diri dengan teman satu kelas, tetapi juga dengan pencapaian banyak orang yang muncul di layar ponsel setiap hari. Ada yang diterima magang, menang lomba, menjadi pengurus organisasi, punya IPK tinggi, bahkan tetap terlihat santai di tengah kesibukan. Hal seperti itu sering membuat banyak mahasiswa bertanya dalam hati: “Aku kurang apa, ya?”
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan mengejar nilai bagus atau aktif dalam organisasi. Keduanya bisa menjadi bagian penting dari proses belajar mahasiswa. IPK membantu menunjukkan kemampuan akademik, sementara organisasi mengajarkan kerja sama, komunikasi, dan pengalaman yang mungkin tidak ditemukan di ruang kelas. Masalah mulai muncul ketika semua hal itu berubah menjadi standar yang terasa wajib dipenuhi oleh semua orang.
Banyak mahasiswa akhirnya menjalani perkuliahan seperti sedang mengikuti perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Setelah mengejar nilai, muncul tuntutan untuk ikut organisasi. Setelah organisasi berjalan, muncul dorongan untuk ikut lomba, seminar, magang, kursus, sertifikasi, dan berbagai kegiatan lainnya. Semakin banyak pencapaian orang lain yang terlihat, semakin besar pula tekanan untuk terus melakukan lebih banyak hal.
Budaya kampus yang sering memuji kesibukan juga ikut memperkuat keadaan tersebut. Jadwal yang padat kadang dianggap sebagai tanda produktivitas dan dedikasi. Mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan sering mendapat pengakuan lebih, sementara mereka yang memilih fokus pada beberapa hal saja kadang dipandang kurang ambisius atau kurang berkembang. Padahal, tidak semua orang memiliki kemampuan, waktu, kondisi mental, maupun situasi hidup yang sama.
Tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya sudah lelah, tetapi tetap memaksakan diri karena takut tertinggal dari lingkungan sekitarnya. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan organisasi sampai kurang tidur hampir setiap minggu. Ada yang tetap datang rapat setelah seharian penuh mengikuti kelas dan mengerjakan tugas. Bahkan, ada yang merasa bersalah ketika memilih beristirahat karena takut dianggap malas atau tidak produktif.
Tekanan untuk selalu berprestasi juga membuat sebagian mahasiswa sulit menikmati proses belajar itu sendiri. Fokus perkuliahan yang seharusnya menjadi ruang untuk memahami ilmu perlahan berubah menjadi target angka, pencapaian, dan validasi. Tidak sedikit mahasiswa yang belajar demi mempertahankan nilai, bukan lagi karena benar-benar ingin memahami materi. Pada akhirnya, proses belajar terasa seperti kewajiban yang melelahkan, bukan kesempatan untuk berkembang.
Media sosial juga memiliki peran yang cukup besar dalam membentuk cara mahasiswa melihat dirinya sendiri. Banyak orang hanya membagikan bagian terbaik dari kehidupannya. Sertifikat diposting, pencapaian dibagikan, kesibukan ditampilkan, tetapi rasa capek, gagal, bingung, atau burnout sering disimpan sendiri. Akibatnya, mahasiswa lain hanya melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui perjuangan atau kesulitan yang ada di baliknya. Dari sinilah kebiasaan membandingkan diri sering muncul tanpa disadari.
Menurut saya, salah satu masalah terbesar dalam lingkungan kampus saat ini adalah anggapan bahwa semua mahasiswa harus sukses dengan cara yang sama. Seolah-olah ada daftar tidak tertulis yang harus dipenuhi: nilai bagus, aktif organisasi, punya pengalaman magang, relasi luas, dan tetap mampu mengatur semuanya dengan sempurna. Padahal, kenyataannya setiap mahasiswa memiliki kemampuan, prioritas, dan kondisi hidup yang berbeda-beda.
Ada mahasiswa yang bisa aktif di organisasi karena memiliki waktu yang lebih fleksibel. Ada juga yang harus membagi fokus dengan pekerjaan, kondisi keluarga, masalah kesehatan, atau tantangan pribadi yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Karena itu, membandingkan perjalanan satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya sering kali bukan hal yang adil. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama dan tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama.
Prestasi tentu penting dalam dunia perkuliahan, tetapi prestasi tidak seharusnya memiliki satu bentuk yang sama bagi semua orang. Ada mahasiswa yang berkembang lewat akademik, ada yang bertumbuh melalui organisasi, dan ada juga yang sedang berjuang menjaga dirinya tetap baik-baik saja sambil menjalani perkuliahan. Semua proses itu tetap layak dihargai.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan tentang siapa yang paling sibuk, paling aktif, atau paling banyak pencapaiannya. Menjadi mahasiswa adalah tentang belajar, berkembang, dan menemukan cara terbaik untuk menjalani proses tersebut tanpa kehilangan kesehatan, keseimbangan hidup, maupun diri sendiri. Kampus seharusnya menjadi tempat untuk bertumbuh, bukan ruang yang membuat mahasiswa merasa harus terus membuktikan bahwa dirinya cukup berharga.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda