Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Guru di Hadapan Mesin Cerdas: Mendidik Manusia di Era Kecerdasan Buatan

Guru di Hadapan Mesin Cerdas: Mendidik Manusia di Era Kecerdasan Buatan

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
09 Juni 2026, 12.08 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Guru di Hadapan Mesin Cerdas
Ilustrasi

Oleh: DECCY TRESKHOPA, Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning

JurnalPost.com - Bayangkan seorang siswa kelas sepuluh yang mengerjakan tugas esai bukan dengan berpikir keras, melainkan dengan mengetikkan pertanyaan ke sebuah aplikasi kecerdasan buatan, lalu menyalin jawabannya begitu saja. Ini bukan skenario fiksi ilmiah. Ini adalah kenyataan yang kini berlangsung di ruang-ruang belajar kita, tanpa banyak disadari para guru dan orang tua.

IKLAN

Kehadiran kecerdasan buatan (AI) generatif — seperti ChatGPT, Gemini, dan sejenisnya — telah mengubah lanskap pendidikan secara fundamental. Teknologi ini mampu menulis esai, menyelesaikan soal matematika, membuat kode program, bahkan menyusun laporan penelitian dalam hitungan detik. Di satu sisi, ini adalah lompatan peradaban yang luar biasa. Di sisi lain, ini menghadirkan krisis pedagogis yang serius: jika mesin dapat melakukan hampir semua yang selama ini kita minta dari peserta didik, lalu apa sebenarnya tujuan pendidikan kita? "Pendidikan sejati bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan bertindak secara bermakna — sesuatu yang hingga kini belum bisa digantikan oleh mesin mana pun."

AI di Ruang Kelas
Baca Juga

AI di Ruang Kelas: Ancaman atau Kesempatan bagi Pendidikan?

Para teoretisi pendidikan sejatinya telah lama mengingatkan bahwa tujuan pendidikan melampaui penguasaan konten. John Dewey, filsuf pendidikan abad ke-20, menekankan bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berkelanjutan melalui pengalaman nyata — bukan penghafalan jawaban. Paulo Freire, dalam kritiknya terhadap "pendidikan gaya bank," menolak praktik di mana peserta didik hanya menjadi wadah pasif yang menerima informasi dari guru. Sedangkan Benjamin Bloom, lewat taksonominya, mengingatkan bahwa kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif berada di puncak hierarki kognitif — justru kemampuan yang paling sulit ditiru mesin.

Ironisnya, sistem pendidikan kita selama ini justru lebih banyak beroperasi di level bawah taksonomi itu: menghafal, memahami, dan mengaplikasikan rumus atau prosedur yang sudah baku. Inilah yang paling mudah digantikan AI. Jika seorang peserta didik hanya dilatih untuk mereproduksi informasi, maka ia sedang berkompetisi di medan yang salah — melawan mesin yang tidak pernah lelah dan tidak pernah lupa.

IKLAN

Lalu di mana posisi guru? Apakah profesi ini terancam punah? Pertanyaan ini sering diajukan dengan nada cemas. Namun jawabannya bergantung pada cara kita memahami fungsi guru. Jika guru sekadar "penyampai materi," memang ada sebagian fungsinya yang bisa diambil alih teknologi. Namun jika guru dipahami sebagai pembimbing perkembangan manusia — yang membantu peserta didik menemukan makna, membangun karakter, dan belajar hidup bersama orang lain — maka tidak ada mesin yang dapat menggantikannya.

Dalam perspektif pedagogis, guru adalah pelaku relasi manusiawi yang paling mendasar dalam pendidikan. Martin Buber, filsuf Jerman-Austria, menyebut relasi pendidikan yang sejati sebagai relasi "Aku-Engkau" — bukan transaksi impersonal, melainkan perjumpaan dua subjek yang saling mempengaruhi. Peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi dari bagaimana guru hadir: cara ia mendengarkan, cara ia merespons kesalahan, cara ia menunjukkan bahwa belajar adalah proses yang penuh kemanusiaan. Hal ini tidak bisa disimulasikan oleh AI, tidak peduli seberapa canggih algoritmanya. Empati, nilai moral, dan keteladanan hidup adalah domain manusia — dan domain itulah yang harus menjadi inti kompetensi guru di era ini.

PPKn di Era Digital
Baca Juga

PPKn di Era Digital: Mampukah Menumbuhkan Nasionalisme Generasi Muda?

Tantangan nyata yang dihadapi sekolah dan madrasah kita saat ini bukan soal melarang atau memblokir AI — itu bukan solusi jangka panjang yang realistis. Tantangannya adalah bagaimana meredesain praktik pembelajaran agar kemampuan yang dilatih benar-benar bersifat manusiawi dan tidak mudah diotomasi.

Artinya, tugas-tugas pembelajaran perlu bergeser dari yang bersifat reproduktif menuju yang bersifat reflektif dan kontekstual. Bukan "tulislah esai tentang dampak perubahan iklim," tetapi "bagaimana perubahan iklim berdampak pada kampung halamanmu sendiri, dan apa yang ingin kamu lakukan?" Bukan "selesaikan soal cerita ini," tetapi "rancang solusi untuk masalah nyata yang ada di sekitarmu." Pendekatan seperti ini menempatkan AI sebagai alat bantu — bukan pengganti pikiran — karena jawaban akhirnya harus lahir dari pengalaman dan nilai pribadi peserta didik.

Di sinilah kurikulum berbasis kompetensi dan pembelajaran berbasis proyek menjadi sangat relevan. Bukan sebagai jargon kebijakan, tetapi sebagai respons pedagogis yang sungguh-sungguh terhadap tantangan zaman. Era kecerdasan buatan tidak membutuhkan manusia yang bisa berpikir seperti mesin. Era ini justru membutuhkan manusia yang bisa melakukan hal-hal yang mesin tidak bisa: merasakan keindahan, memilih nilai, menanggung tanggung jawab, dan membangun hubungan yang bermakna.

Pendidikan kita perlu segera merefleksikan kembali tujuan dasarnya. Bukan mencetak penjawab soal yang cepat, melainkan menumbuhkan manusia yang bijak, kritis, dan berempati. Guru, dengan seluruh keterbatasan dan kemanusiaannya, tetap menjadi aktor utama yang tak tergantikan dalam misi mulia ini. Yang dibutuhkan bukan persaingan dengan mesin, melainkan keberanian untuk kembali ke jantung pedagogis: mendidik manusia menjadi manusia.

AI Bisa Menjawab
Baca Juga

Saat AI Bisa Menjawab Soal Matematika, Masihkah Siswa Perlu Berpikir?

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/guru-di-hadapan-mesin-cerdas-mendidik-manusia-di-era-kecerdasan-buatan/94216/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.34 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Lancang Kuning

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Pilihan Editor

  1. 1 Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI
  2. 2

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  3. 3

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

  4. 4

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  5. 5

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.