BANYUWANGI, JurnalPost.com — Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Atma Connect resmi meluncurkan program percontohan Resilient Community Coach (RCC) di Banyuwangi, Jawa Timur, pada Selasa, 1 September 2026.
Program yang akan berjalan selama enam bulan ini menggabungkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pengetahuan lokal, serta praktik kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Tujuannya adalah membantu warga memahami risiko bencana dengan lebih baik, memperluas akses terhadap informasi penting, serta memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengambil tindakan sebelum bencana terjadi.
Peluncuran program ditandai dengan Kick-off Meeting yang berlangsung selama dua hari, 1–2 September 2026, dengan melibatkan PMI, Atma Connect, pemerintah daerah, mitra kemanusiaan, serta relawan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan pilot RCC.
Wakil Bupati Banyuwangi sekaligus Ketua PMI Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono, mengatakan bahwa kesiapsiagaan bencana pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk bertindak ketika risiko mulai muncul.
“Kesiapsiagaan pada akhirnya bergantung pada kemampuan masyarakat untuk bertindak ketika risiko muncul. Kami berharap RCC dapat memperluas akses terhadap informasi yang dibutuhkan relawan dan warga, sekaligus memperkuat kapasitas yang selama ini telah tumbuh di tingkat desa,” ujar Mujiono.
Teknologi Dikembangkan Bersama Masyarakat
Field Director Atma Connect, Alfan Kasdar, mengatakan RCC sejak awal dikembangkan dengan pendekatan yang berpusat pada masyarakat.
Menurutnya, teknologi tidak seharusnya dibuat dari jarak jauh tanpa memahami kebutuhan komunitas yang nantinya akan menggunakan teknologi tersebut.
“Kami tidak ingin membangun teknologi untuk masyarakat dari kejauhan. Kami ingin membangunnya bersama mereka. Pengalaman relawan, pengetahuan masyarakat, dan kondisi di lapangan akan menjadi bagian dari proses pengembangan RCC sejak awal,” kata Alfan.
Manager Program Global Disaster Preparedness Center (GDPC), Dedi Junadi, juga menekankan pentingnya memastikan inovasi teknologi benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
“Inovasi dalam kesiapsiagaan bencana bukan sekadar memperkenalkan teknologi baru. Yang terpenting adalah memastikan solusi tersebut menjawab kebutuhan nyata, memperkuat kapasitas lokal, dan dapat bekerja di dalam sistem yang sudah ada,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, pilot RCC menjadi kesempatan untuk menguji inovasi tersebut secara langsung bersama PMI, relawan, dan masyarakat.
“Pilot RCC memberi kami kesempatan untuk menguji inovasi ini secara langsung bersama PMI, relawan, dan masyarakat. Dari situ kami dapat mengetahui apa yang benar-benar bekerja dan bagaimana RCC dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.
Perkuat Kapasitas Relawan SIBAT
Kepala Markas Pusat PMI, Arifin M. Hadi, mengatakan digitalisasi data dan informasi kajian risiko bencana yang dikembangkan melalui kolaborasi PMI dan Atma Connect dapat memberikan manfaat strategis di tingkat masyarakat.
Manfaat tersebut antara lain mempercepat respons darurat, memperkuat sistem peringatan dini, serta meningkatkan kemandirian masyarakat desa dalam mengenali dan mengurangi risiko bencana.
“Digitalisasi data dan informasi kajian risiko bencana yang dikembangkan melalui kolaborasi PMI dan Atma Connect dapat memberikan manfaat besar dalam mempercepat respons darurat, memperkuat sistem peringatan dini, serta membangun kemandirian masyarakat desa dalam mitigasi bencana secara real time,” ujar Arifin.

PMI juga berkomitmen memperkuat peran Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) sebagai ujung tombak dalam melakukan asesmen cepat dan mendukung penanganan bencana di tingkat komunitas.
Arifin mengatakan peningkatan kemampuan digital relawan SIBAT menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang semakin adaptif dan tangguh.
“Program RCC yang didukung Atma Connect dan American Red Cross melalui GDPC diharapkan dapat memperkuat kapasitas relawan SIBAT dalam pemanfaatan teknologi digital,” katanya.
Menurut Arifin, digitalisasi dokumen kajian risiko bencana juga dapat memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi pemerintah desa dalam mengambil keputusan.
“Dokumen kajian risiko bencana yang terdigitalisasi dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah desa untuk menyusun rencana kontinjensi, menentukan prioritas pembangunan infrastruktur, serta mengalokasikan anggaran desa berdasarkan risiko yang telah teridentifikasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, integrasi data risiko dengan sistem peringatan dini yang efektif akan membantu masyarakat dan pemerintah desa memahami potensi ancaman serta menentukan langkah mitigasi yang lebih tepat.
“Pada akhirnya, teknologi ini harus memiliki satu tujuan utama, yaitu membangun masyarakat yang lebih siap, relawan yang semakin mampu, serta pemerintah desa yang memiliki data kuat untuk mengambil keputusan,” kata Arifin.
Empat Wilayah Jadi Lokasi Pilot RCC
Pilot RCC akan berlangsung selama enam bulan dengan PMI Kabupaten Banyuwangi sebagai mitra pelaksana di tingkat lokal.
Empat desa dan kelurahan dipilih sebagai lokasi percontohan, yakni:
Tamanbaru
Mojopanggung
Bakungan
Pengatigan
Dalam Kick-off Meeting tersebut, Atma Connect dan PMI Kabupaten Banyuwangi juga meresmikan kerja sama sebagai mitra pelaksana lokal melalui penandatanganan perjanjian kerja sama.
Pertemuan selama dua hari itu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Markas Pusat PMI, PMI Provinsi Jawa Timur, PMI Kabupaten Banyuwangi, American Red Cross melalui GDPC, Atma Connect, serta unsur pemerintah daerah.
Sejumlah instansi lain juga terlibat, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informatika, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fasilitator, serta perwakilan relawan SIBAT.

Kick-off Meeting juga menjadi Milestone 1 dalam jadwal Pilot Project RCC.
Tahap awal ini mencakup pembentukan Steering Committee dan Technical Committee, penyusunan mekanisme tata kelola proyek, penyepakatan ruang lingkup kerja selama enam bulan, serta penyusunan rencana kerja untuk 90 hari pertama.
AI Coach Sajikan Informasi Kesiapsiagaan Tingkat Desa
Salah satu komponen utama dalam pilot ini adalah aplikasi Resilient Community Coach, yang dirancang untuk mempermudah relawan dan masyarakat dalam mengakses informasi kesiapsiagaan bencana di tingkat desa.
Aplikasi tersebut menggabungkan teknologi AI dengan pengetahuan lokal, hasil Enhanced Vulnerability and Capacity Assessment (EVCA), serta standar operasional prosedur kesiapsiagaan bencana PMI.
Melalui platform tersebut, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai risiko bencana di wilayah masing-masing, prosedur kesiapsiagaan, serta berbagai panduan praktis yang relevan dengan kondisi lokal.
Fitur AI Coach juga memberikan dukungan konsultasi agar pengguna lebih mudah memahami informasi kesiapsiagaan dan mengidentifikasi langkah yang sesuai dengan potensi risiko bencana di wilayah mereka.
Aplikasi RCC diharapkan dapat membantu masyarakat memantau tingkat kesiapsiagaan, memahami kerentanan lokal, serta menentukan langkah mitigasi yang lebih tepat sasaran.
Meski demikian, RCC tidak dirancang untuk menggantikan relawan, sistem kesiapsiagaan yang sudah berjalan, maupun pengetahuan lokal masyarakat.
Teknologi tersebut diposisikan sebagai alat pendukung untuk memperkuat kapasitas dan struktur kesiapsiagaan yang selama ini telah tumbuh di tingkat komunitas.
Selama masa pilot enam bulan, PMI, relawan SIBAT, serta masyarakat akan terlibat dalam pengujian platform, memberikan masukan, dan berkontribusi dalam penyempurnaan RCC.
Evaluasi Tidak Hanya Mengukur Penggunaan Teknologi
Evaluasi program tidak hanya akan mengukur seberapa banyak teknologi tersebut digunakan.
Tim pelaksana juga akan melihat apakah RCC mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi kebencanaan, memperkuat pengetahuan tentang kesiapsiagaan, mendukung praktik relawan yang lebih baik, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan berbasis risiko.
Pembelajaran dari Tamanbaru, Mojopanggung, Bakungan, dan Pengatigan akan digunakan untuk menyempurnakan RCC sekaligus mengkaji potensi penerapan pendekatan serupa di komunitas lain.
Pilot RCC merupakan bagian dari 2026 QBE AcceliCITY Humanitarian Challenge, di mana Atma Connect terpilih sebagai salah satu pemenang untuk mengembangkan dan menguji solusi inovatif di sektor kemanusiaan.
Dalam implementasinya di Banyuwangi, Atma Connect bekerja sama dengan PMI, American Red Cross melalui Global Disaster Preparedness Center, serta Australian Red Cross Humanitech.
Kolaborasi tersebut menguji RCC secara langsung dalam konteks kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat untuk melihat sejauh mana teknologi digital, khususnya AI, dapat melengkapi pengetahuan lokal dan sistem kesiapsiagaan yang sudah ada.
Pada akhirnya, keberhasilan pilot RCC tidak hanya akan diukur dari tingkat adopsi teknologi.
Ukuran utamanya adalah sejauh mana RCC mampu membantu PMI, relawan, pemerintah desa, dan masyarakat memperoleh informasi yang lebih berguna, membuat keputusan yang lebih baik, serta mengambil tindakan yang lebih efektif sebelum bencana terjadi.
Teknologi tetap menjadi alat pendukung, sementara pengetahuan lokal, pengalaman relawan, dan ketangguhan masyarakat tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kesiapsiagaan bencana.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda