JurnalPost.com, Wonogiri – Limbah pertanian dan hasil samping agroindustri yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal mulai dilirik sebagai bahan alternatif untuk pakan ternak unggas di Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) memberikan pendampingan kepada kelompok peternak unggas mengenai pemanfaatan limbah lokal menjadi pakan fermentasi.
Kegiatan tersebut berlangsung selama periode Kuliah Kerja Nyata (KKN), mulai 9 Juli hingga 18 Agustus 2026, dan dilaksanakan secara bergilir di 11 desa di Kecamatan Nguntoronadi.
Program pengabdian dipimpin Prof. Dr. Dra. Turrini Yudiarti, M.Sc., dosen Departemen Peternakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, bersama tim dosen dan mahasiswa KKN.
Nguntoronadi dinilai memiliki potensi bahan baku pakan yang cukup besar. Selain limbah pertanian, wilayah tersebut juga memiliki hasil samping dari kegiatan agroindustri lokal, salah satunya limbah produksi brem yang berpotensi diolah menjadi bahan pakan ternak.
Potensi tersebut menjadi perhatian karena peternak unggas rakyat masih menghadapi persoalan tingginya biaya pakan konvensional. Di sisi lain, pengetahuan mengenai teknik pengolahan bahan lokal menjadi pakan yang aman dan bernilai nutrisi juga masih perlu ditingkatkan.
Manfaatkan Forum Rutin Peternak
Pendampingan dilakukan dengan memanfaatkan pertemuan rutin kelompok peternak di masing-masing desa. Dalam forum tersebut, tim Undip memberikan materi mengenai pengolahan limbah pertanian dan limbah agroindustri menjadi pakan fermentasi.
Peternak diperkenalkan pada prinsip dasar fermentasi, pemilihan bahan baku, tahapan pengolahan, hingga cara pemberian pakan kepada unggas.
Materi juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan serta kualitas bahan selama proses pengolahan agar pakan yang dihasilkan tetap aman bagi ternak.
Penggunaan pakan fermentasi dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal sekaligus mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan pabrikan.

Selain menekan biaya produksi, pengolahan bahan pakan yang tepat juga diharapkan mampu mendukung kesehatan dan produktivitas unggas.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Para peternak berdiskusi mengenai jenis limbah yang tersedia di lingkungan sekitar serta kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan pakan.
Peternak Sambut Pendampingan
Salah seorang anggota kelompok peternak unggas di Kecamatan Nguntoronadi, Gunawan, mengatakan program tersebut memberikan wawasan baru bagi peternak dalam memanfaatkan bahan yang sebelumnya kurang diperhatikan.
“Kami sangat terbantu dan berterima kasih dengan adanya kegiatan penyuluhan serta pembagian materi terkait pakan fermentasi dari dosen Undip dan para mahasiswa. Selama ini kami sering kesulitan dengan harga pakan pabrikan yang mahal, padahal banyak limbah pertanian dan limbah brem di sekitar kami yang belum dimanfaatkan secara benar,” ujar Gunawan.
Menurut dia, pendampingan tersebut membantu peternak memahami cara mengolah limbah lokal menjadi bahan pakan yang lebih bermanfaat bagi ternak.
“Berkat bimbingan ini, kami jadi tahu cara mengolah limbah tersebut menjadi pakan fermentasi yang bagus untuk kesehatan dan pertumbuhan unggas kami,” lanjutnya.
Dorong Kemandirian Peternak
Prof. Turrini berharap pengetahuan yang diberikan tidak berhenti setelah kegiatan KKN berakhir, tetapi dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok peternak di Nguntoronadi.
Pemanfaatan sumber daya lokal dinilai dapat membantu peternak membangun sistem usaha yang lebih mandiri, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga pakan komersial.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pendekatan peternakan berkelanjutan karena bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Dengan memanfaatkan limbah pertanian dan agroindustri lokal, peternak tidak hanya berpeluang mengurangi biaya operasional, tetapi juga dapat membantu menekan jumlah limbah yang terbuang di lingkungan.
Pendampingan yang dilakukan melalui forum kelompok juga diharapkan mempermudah proses transfer pengetahuan antarpelaku usaha peternakan. Peternak yang telah memahami teknik pengolahan dapat membagikan pengalaman kepada anggota lainnya sehingga pemanfaatan pakan fermentasi dapat diterapkan secara lebih luas.
Program tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mencari solusi atas persoalan yang dihadapi sektor peternakan rakyat.
Melalui pengembangan pakan berbasis sumber daya lokal, peternak di Kecamatan Nguntoronadi diharapkan semakin mampu meningkatkan efisiensi usaha, menjaga kesehatan ternak, serta memperkuat ketersediaan pangan asal ternak secara berkelanjutan.
Upaya tersebut juga sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2, yakni mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, meningkatkan nutrisi, dan mendorong pertanian berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda