JurnalPost.com - Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan. Oleh karena itu, keamanan dan kualitas pangan perlu mendapat perhatian serius, mulai dari proses produksi, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi kepada konsumen. Pangan yang tidak aman dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk keracunan makanan.
Di Indonesia, kondisi suhu dan kelembapan yang relatif tinggi, proses pengolahan yang kurang higienis, serta penyimpanan yang tidak sesuai dapat mempercepat kerusakan bahan pangan. Dalam menghadapi persoalan tersebut, teknologi pangan memiliki peran penting sebagai salah satu solusi untuk menjaga keamanan dan kualitas produk melalui berbagai metode pengawetan, pengemasan, serta pengawasan mutu.
Berdasarkan informasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2024, sebanyak 2.999 sarana distribusi pangan telah diperiksa dalam kegiatan pengawasan menjelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 hingga 18 Desember 2024. Dari jumlah tersebut, ditemukan 838 sarana atau sekitar 27,94 persen yang tidak memenuhi ketentuan.
Temuan pengawasan tersebut mencakup pangan kedaluwarsa sebesar 63,13 persen, pangan tanpa izin edar sebesar 32,27 persen, dan pangan rusak sebesar 4,61 persen. Data ini menunjukkan bahwa pengawasan dan pengelolaan pangan masih perlu ditingkatkan agar produk yang beredar di masyarakat memenuhi persyaratan keamanan.
Pentingnya Teknologi Pengawetan dan Pengelolaan Pangan
Menurut saya, persoalan keamanan pangan dapat diatasi melalui peningkatan kesadaran dan tanggung jawab pelaku usaha dalam menjaga kualitas produk yang dipasarkan. Kurangnya pemeriksaan tanggal kedaluwarsa, penyimpanan yang tidak sesuai, serta rendahnya kepatuhan terhadap peraturan dapat meningkatkan risiko peredaran pangan yang tidak memenuhi persyaratan.
Oleh karena itu, pelaku usaha perlu melakukan pemeriksaan stok secara berkala dan menerapkan sistem First Expired, First Out (FEFO), yaitu metode pengelolaan persediaan yang mengutamakan produk dengan tanggal kedaluwarsa paling dekat untuk digunakan atau didistribusikan terlebih dahulu.
Selain pengelolaan stok, penerapan teknologi pengawetan pangan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap produk. Pasteurisasi, misalnya, dapat digunakan untuk mengurangi jumlah mikroorganisme berbahaya pada produk pangan tertentu. Sementara itu, metode pengeringan dapat membantu memperpanjang umur simpan dengan mengurangi kadar air dalam bahan pangan.
Teknologi pendinginan dan pembekuan juga berperan penting dalam mempertahankan mutu bahan pangan yang mudah rusak, seperti ikan, daging, dan susu. Penerapan suhu penyimpanan yang sesuai dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme serta membantu menjaga kualitas produk sebelum dikonsumsi masyarakat.
Peran Pengemasan dalam Menjaga Keamanan Pangan
Selain pengawetan dan pengawasan mutu, teknologi pengemasan memiliki peran penting dalam menjaga keamanan pangan. Penggunaan kemasan yang sesuai dapat melindungi produk dari debu, udara, kelembapan, serta kontaminasi mikroorganisme yang berpotensi mempercepat kerusakan.
Sebagai contoh, penggunaan kemasan kedap udara dapat membantu mempertahankan kualitas jenis makanan tertentu dengan membatasi kontak produk dengan lingkungan luar. Namun, pemilihan bahan dan jenis kemasan tetap harus disesuaikan dengan karakteristik pangan serta kondisi penyimpanannya.
Kemasan yang baik juga perlu didukung oleh proses pengolahan yang higienis. Tanpa penerapan kebersihan yang memadai, penggunaan teknologi pengemasan tidak dapat sepenuhnya menjamin keamanan produk hingga sampai ke tangan konsumen.
Kebersihan dan Sanitasi sebagai Faktor Pendukung
Penerapan kebersihan dan sanitasi merupakan faktor yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keamanan pangan. Kebersihan peralatan pengolahan, tempat penyimpanan, serta lingkungan produksi harus selalu diperhatikan untuk mengurangi risiko kontaminasi.
Pelaku usaha juga perlu membiasakan pekerja mencuci tangan sebelum menangani makanan, menjaga kebersihan peralatan, serta memisahkan bahan pangan mentah dari makanan matang. Langkah tersebut penting untuk mencegah kontaminasi silang yang dapat membahayakan kesehatan konsumen.
Menurut saya, penerapan kebersihan dan sanitasi menjadi bagian mendasar dalam sistem keamanan pangan. Teknologi pengawetan yang semakin canggih tidak akan memberikan hasil maksimal apabila kebersihan selama proses produksi masih diabaikan.
Oleh sebab itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan pekerja di bidang pengolahan pangan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pemahaman yang baik, setiap tahapan pengolahan dapat dilaksanakan secara lebih aman dan bertanggung jawab.
Mewujudkan Pangan yang Aman dan Berkualitas
Teknologi pangan memiliki peran penting dalam meningkatkan keamanan dan mutu pangan di Indonesia melalui penerapan metode pengawetan, pengemasan, penyimpanan, serta pemantauan kualitas produk.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus diimbangi dengan kepatuhan terhadap peraturan, pengawasan yang konsisten, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keamanan pangan.
Saya berpandangan bahwa kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen merupakan langkah penting untuk mengurangi peredaran produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan. Pemerintah berperan dalam melakukan pengawasan, pelaku usaha bertanggung jawab menjaga kualitas produk, sedangkan konsumen perlu lebih teliti dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.
Melalui penerapan teknologi pangan yang tepat, didukung kebersihan, pengawasan, dan tanggung jawab bersama, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pangan yang aman, bermutu, serta layak dikonsumsi. Dengan demikian, teknologi pangan tidak hanya berkontribusi dalam memperpanjang masa simpan produk, tetapi juga berperan dalam melindungi kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda