Bandung, JurnalPost.com — Telkom University dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjalin kerja sama riset untuk menerjemahkan filosofi motif Batik Surakarta ke dalam konten digital berupa webtoon dan video pendek.
Riset tersebut mengangkat judul “Dari Helai ke Layar: Penerjemahan Filosofi Batik Surakarta ke dalam Webtoon dan Video Pendek melalui Kerangka Tembang Macapat”. Kegiatan penelitian berlangsung di Batik Walang Kekek Surakarta sejak September 2025 hingga Juni 2026.
Program ini hadir sebagai respons terhadap tantangan pelestarian warisan budaya di era digital. Perubahan pola konsumsi informasi, terutama di kalangan generasi muda, dinilai membuat seni tradisional perlu dikemas dalam format yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Riset ini dijalankan oleh tim peneliti dari dua perguruan tinggi. Dari Telkom University, penelitian diketuai oleh Dr. Lusy Mukhlisiana, M.I.Kom. Ia didampingi oleh Anggar Erdhina Adi, S.Sn., M.Ds. dan Dr. Martha Tri Lestari, M.M. Sementara dari UNS Surakarta, penelitian ini didukung oleh Dr. Desy Nurcahyanti, M.Hum.
Pemilihan Batik Walang Kekek Surakarta sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. Rumah batik yang didirikan oleh Ibu Esther Wulandari, putri menantu Maestro Keroncong Indonesia Ibu Waldjinah, menyimpan lebih dari 500 motif langka peninggalan leluhur sejak awal tahun 1900-an.
Di tempat tersebut, warisan batik terus dirawat dan dihidupkan kembali. Ibu Waldjinah bersama Ibu Esther Wulandari juga aktif menjalankan edukasi batik kepada generasi muda sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
Dalam penelitian ini, Tembang Macapat digunakan sebagai kerangka naratif untuk mengemas pesan filosofis batik. Tembang Macapat merupakan puisi tradisional Jawa yang memuat tema siklus kehidupan, sehingga dinilai relevan untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur dalam motif batik ke dalam cerita visual.
Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti berupaya menjawab bagaimana nilai budaya dapat diwariskan secara efektif tanpa kehilangan makna aslinya. Format webtoon dan video pendek dipilih karena lebih dekat dengan kebiasaan konsumsi konten generasi muda saat ini.
Saat ini, prototipe webtoon dan video pendek masih dalam tahap produksi final. Hasil riset tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan pewarisan budaya antargenerasi, sekaligus memperkuat posisi batik sebagai warisan budaya yang tetap relevan di tengah perkembangan teknologi digital.
Oleh: Lusy Mukhlisiana Dosen Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda