Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Patriarki dan Kemiskinan dalam Film Marlina Si Pembunuh

Patriarki dan Kemiskinan dalam Film Marlina Si Pembunuh

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
25 Januari 2024, 19.14 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
3 menit baca
Patriarki dan Kemiskinan dalam Film Marlina Si Pembunuh

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas)

JurnalPost.com - Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak adalah salah satu film drama terbaik yang bercerita tentang kritik sosial dan dekonstruksi gender di level lokal. Film ini rilis tahun 2017 dan mendapatkan berbagai penghargaan di ajang nasional dan internasional. Film ini bisa menjadi alternatif untuk menatap pembangunan berbasis gender di Indonesia terutama paska Pemilu 2024.

IKLAN

Film ini disutradarai oleh Mouly Surya dan diperankan secara apik dan epik oleh Marsha Timothy. Film ini berlatar budaya di pedalaman Pulau Sumba dan bercerita tentang penderitaan lahir batin seorang janda bernama Marlina yang baru saja ditinggal mati suaminya lalu ditindas oleh seorang laki-laki yang memberi utang kepada suaminya, tersandera oleh budaya lokal, tergulung oleh kemiskinan dan menjadi pesimis karena apatisme aparat hukum.

Ahmad Naufal Fauzan
Baca Juga

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Tragisnya, Marlina diperkosa oleh pria bernama Markus. Marlina pun melawan dan bahkan berhasil membunuh Markus di puncak orgasmenya. Ia mencoba mencari pertolongan dan keadilan sambil menenteng kepala Markus, tetapi budaya dan aparat hukum tidak berpihak kepada dia sebagai korban pemerkosaan dan perempuan lokal yang miskin.

Tentu, tidak mudah menjadi perempuan di level lokal ketika budaya dan institusi sosial cenderung memojokkan perempuan. Di sinilah titik kritis terbaik dari film ini.

Alhasil, film Marlina adalah dekonstruksi perjuangan perempuan untuk mempertahankan harga dirinya di tengah kepungan sistem sosial yang patriarkis. Film ini tentang perjuangan perempuan untuk mendapatkan kembali hak-hak atas diri dan tubuhnya.

IKLAN

Apresiasi untuk Film Marlina

Mahasiswa melakukan transaksi mandiri menggunakan QRIS dan kotak pembayaran tunai di Kantin Kejujuran kampus.
Baca Juga

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Pada Festival Film Indonesia 2018, film ini meraih 14 nominasi dan sukses memenangkan 10 nominasi termasuk untuk Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak juga memenangkan banyak penghargaan di berbagai festival internasional seperti pada Festival Film Sitges, Penghargaan Layar Asia Pasifik, Festival Film Goteborg, dan Penghargaan Film Asia.

Film ini telah didistribusikan di 23 negara berbeda termasuk negara-negara Asia dan Eropa. Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ditayangkan perdana pada Directors Fortnight Festival Film Cannes 2017.

Selain pada Festival Film Cannes, film ini juga masuk dalam seleksi New Zealand International Film Festival, Melbourne Film Festival, dan Toronto International Film Festival.

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
Baca Juga

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak juga terpilih sebagai project market dari Cannes Film Festival di mana film ini terpilih menjadi salah satu dari 15 proyek film di dunia yang masuk dalam Cinefondation L’Atelier.

Alhasil, kualitas dan estetika tak mengkhianati hasil. Film ini layak untuk ditonton berkali-kali untuk merasakan kritik sosial dalam film ini.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/patriarki-dan-kemiskinan-dalam-film-marlina-si-pembunuh/64368/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 06.46 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

Mengurangi Risiko Penggunaan Plastik Kresek Hitam pada Pedagang Kuliner Lokal

Jika Bisa Mengulang Hidup, Akankah Kita Memilih Jalan yang Sama?

Moral Dialektika sebagai Ruang Kontemplasi Gerakan Intelektual Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Pilihan Editor

  1. 1 Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?
  2. 2

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  3. 3

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  4. 4

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  5. 5

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.