Gaza, JurnalPost.com - Hari Orang Tua Sedunia yang diperingati setiap 1 Juni menjadi momen yang berbeda bagi para orang tua di Jalur Gaza. Di tengah penderitaan akibat perang yang berkepanjangan, mereka bukan merayakannya dengan kebahagiaan, melainkan dengan perjuangan mencari air, makanan, dan kebutuhan dasar untuk anak-anak mereka.
PBB menetapkan 1 Juni sebagai Global Day of Parents atau Hari Orang Tua Sedunia untuk menghormati peran orang tua di seluruh dunia. Namun bagi para orang tua di Gaza, hari itu kembali dilalui dalam kondisi penuh tekanan dan ketidakpastian.
Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel telah berlaku sejak Oktober 2025, dampak konflik yang pecah pada 7 Oktober 2023 masih membayangi kehidupan warga Gaza. Banyak keluarga kehilangan rumah, pekerjaan, hingga anggota keluarga.
Salah satunya dialami Salim Othman (37), mantan dosen universitas yang sedang menempuh studi doktoral di bidang ekonomi. Ia kini tinggal di sebuah tenda di Gaza City setelah mengungsi dari Beit Hanoun, Gaza bagian utara.
“Kehidupan di Gaza adalah siklus perjuangan untuk bertahan hidup. Kami para orang tua semua terjebak dalam lingkaran setan,” ujar Othman kepada Xinhua.
Othman mengaku hidupnya berubah drastis. Jika sebelumnya ia sibuk dengan penelitian dan studi pascasarjana, kini waktunya habis untuk mengantre air, mencari makanan, dan memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya.
Kisah serupa dialami Saeed Abu Shakoush (39), warga Rafah yang kini tinggal di tenda pengungsian di Deir al-Balah. Sebelum perang, ia berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan dan rekreasi keempat anaknya, mulai dari bermain sepak bola, berhitung cepat, hingga bermain catur.
Namun kini, kata dia, fokus hidup keluarganya hanya satu: bertahan dari hari ke hari.
“Sekarang, saya nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan harian mereka,” ujar Shakoush.
Di Gaza City, Mariam Hassan (29) juga menghadapi beban berat. Ia kehilangan suami, orang tua, dan saudara-saudaranya akibat serangan udara Israel. Kini, ia menjadi satu-satunya pengasuh bagi tiga anaknya serta adik perempuannya yang masih berusia 12 tahun.
“Saya tidak lagi memikirkan diri saya sendiri,” kata Hassan.
Setiap pagi, Hassan mengaku selalu dihadapkan pada pertanyaan yang sama: bagaimana memberi makan anak-anaknya, mendapatkan air, dan menyediakan obat-obatan jika mereka sakit.
Ia juga mengaku sulit tidur karena kelelahan dan rasa takut. Menurutnya, bahkan hal-hal paling mendasar dalam kehidupan kini harus diperhitungkan dengan cermat, termasuk membagi porsi makanan.
“Saya hidup di bawah tekanan yang tiada henti, tetapi saya tidak boleh menyerah,” ujarnya.
Meski begitu, Hassan menyebut anak-anaknya menjadi sumber kekuatan terbesar. Ia berusaha terus bertahan karena merasa anak-anaknya tidak seharusnya menanggung penderitaan akibat perang.
Pekerja sosial Nourhan Ahmed mengatakan konflik berkepanjangan telah memberi tekanan psikologis dan ekonomi yang sangat berat bagi para orang tua di Gaza. Mereka harus memenuhi kebutuhan dasar anak-anak, sekaligus berusaha melindungi mereka dari trauma perang.
“Para orang tua terus-menerus menyeimbangkan antara tuntutan bertahan hidup dan memberikan perhatian emosional, meskipun mereka sendiri mengalami penderitaan yang sama,” kata Ahmed.
Menurut Ahmed, kondisi tersebut membuat tingkat stres orang tua meningkat dan memperdalam ketidakpastian tentang masa depan keluarga-keluarga di Gaza. Reuters juga melaporkan kekerasan masih terjadi di Gaza meski gencatan senjata telah berjalan, menunjukkan kondisi keamanan di wilayah itu masih rapuh. (Xinhua)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda