GAZA, JurnalPost.com – Idul Adha biasanya menjadi momen penuh kebahagiaan bagi anak-anak. Mereka mengenakan pakaian baru, berkumpul bersama keluarga, menerima uang dari kerabat, dan menikmati hidangan daging kurban.
Namun, suasana itu kini sulit dirasakan oleh anak-anak di Gaza. Di tengah perang yang berkepanjangan, Idul Adha bukan lagi sekadar perayaan, melainkan pengingat atas banyak hal yang telah hilang: rumah, keluarga, sekolah, dan rasa aman.
Aboud Halawa, bocah berusia 10 tahun, masih mengingat suasana Idul Adha sebelum perang. Ia mengenang bagaimana anak-anak biasanya bermain, memakai pakaian baru, dan merayakan hari raya bersama keluarga.
“Anak-anak di negara lain merayakan Idul Adha, mengenakan pakaian baru, dan bermain dengan mainan mereka. Namun di sini, kami hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan pengungsian. Bahkan saat Idul Adha, tidak ada daging dan tidak ada perayaan yang sesungguhnya,” kata Aboud saat berada di pelabuhan perikanan Gaza City.
Setiap pagi, Aboud kini membantu ayahnya menarik jala ikan. Sekolah-sekolah di Gaza telah ditutup sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023. Kondisi itu membuat banyak anak kehilangan kesempatan belajar dan terpaksa membantu keluarga bertahan hidup.
“Sebelum perang, saya biasanya pergi ke sekolah dan bermain dengan teman-teman di jalanan. Sekarang hidup saya sudah berbeda. Saya bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ayah karena hidup menjadi sangat sulit, dan kami membutuhkan uang untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Bagi sekitar 1 juta anak di wilayah kantong tersebut, Idul Adha kini terasa jauh dari suasana perayaan. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, mengungsi, dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Otoritas kesehatan Gaza menyebutkan lebih dari 21.000 anak Palestina tewas sejak perang dimulai. Konflik tersebut terjadi setelah serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang kemudian diikuti operasi militer Israel di Gaza.
Kisah serupa juga dialami Lojain Mohammed, anak berusia 7 tahun yang mengungsi dari kawasan al-Nasr, Gaza City. Ia kini tinggal bersama orang tua dan tiga saudaranya di rumah kerabat.
Lojain masih mengingat Idul Adha sebelum perang, saat ia bisa pergi ke taman hiburan, bermain bersama teman-teman, dan menikmati waktu bersama keluarga. Tahun ini, keinginannya sederhana: memiliki boneka dan kembali bersekolah.
Berbagai organisasi bantuan internasional berulang kali memperingatkan dampak perang terhadap anak-anak Gaza. Ratusan ribu anak kini tinggal di tempat pengungsian, rumah rusak, atau bersama kerabat. Banyak di antara mereka kehilangan orang tua maupun saudara kandung.
Selain kelaparan dan kurangnya akses air bersih, anak-anak Gaza juga menghadapi trauma dan tekanan psikologis yang berat. Kondisi tersebut diperparah oleh terbatasnya layanan dasar dan ketidakpastian kapan perang akan berakhir.
Di pelabuhan Gaza City, Aboud masih menyimpan harapan. Ia ingin suatu hari menjadi dokter agar dapat membantu orang-orang yang terluka dan keluarga yang kesulitan.
“Saya ingin anak-anak di Gaza bisa hidup seperti anak-anak di belahan dunia lainnya. Kami ingin bermain, belajar, dan hidup tanpa rasa takut,” ucapnya. (Xinhua)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda