Oleh : Ananda Velicia L. C. Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.
JurnalPost.com - Berdasarkan pandangan banyak orang, citra musik keras seperti hardcore atau punk selalu di dominasi pada kaum laki-laki. Panggung yang gelap, keringat, teriakan, dan energi yang meledak-ledak sering kali di gambarkan secara khusus dengan kejantanan. Pandangan yang membatasi genre musik tertentu hanya untuk gender tertentu merupakan sebuah warisan usang yang perlu dipertanyakan ulang.
Ambil contoh dari foto diatas yang menunjukkan band Peach yang berasal dari Medan. Band ini dengan seluruh personil perempuannya, adalah bukti nyata bahwa talenta dan semangat dalam bermusik keras tidak mengenal batasan gender. Mereka berdiri di atas panggung yang sama, memainkan riff yang sama beratnya, dan menghasilkan energi yang setara, bahkan mungkin melebihi, rekan-rekan musisi laki-laki mereka. Kehadiran mereka menghancurkan narasi usang tentang siapa yang "berhak" mengisi ruang di skena musik keras.
"Ah... cewe fomo ini mah, so so an dengerin lagu keras dateng ke acara konser hardcore biar apa si?". Beberapa pendapat orang mungkin saat melihat teman-teman perempuan yang hadir diacara konser musik keras berpikir seperti itu. Diskriminasi gender di skena musik khususnya yang keras, seringkali berbentuk halus namun merusak. Para musisi perempuan sering kali harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang setara. Mereka mungkin selalu mendapatkan pertanyaan tentang "siapa yang menulis lagu" atau "apakah mereka benar-benar memainkan instrumen itu sendiri?", sebuah keraguan yang jarang ditujukan kepada band dengan personil laki-laki.
Kehadiran band seperti Peach tidak hanya sekadar mengisi kuota, tetapi juga berfungsi sebagai inspirasi yang kuat terutama kepada kaum perempuan. Mereka mengirimkan pesan yang jelas kepada generasi perempuan berikutnya bahwa tidak ada batasan dalam seni, dan bahwa mereka juga berhal memiliki tempat di moshpit, di studio rekaman, dan di belakang drum set atau gitar yang bising.
Tidak adil dan tidak benar untuk menuang fakta bahwa musik keras hanya diciptakan untuk laki-laki. Mitos tersebut sudah saatnya digusur oleh realitas yang semakin inklusif. Musik keras adalah milik mereka yang berani menyuarakan kebenaran mereka dengan lantang. Musik keras adalah tentang energi dan kreativitaa, bukan tentang fomo. Setiap teriakan, setiap pukulan drum yang keras, dan setiap power chord adalah milik siapa saja yang memiliki gairah untuk memainkannya.
Peach, dan banyak musisi perempuan lain di skena musik keras, adalah penanda zaman, bahwa panggung telah menjadi arena yang netral gender, di mana satu-satunya hal yang dihitung adalah kualitas musik dan transfer energi antara penampil dan penonton. Mari kita dukung keberagaman ini, karena dengan menghilangkan sekat gender, kita harus menjadikan musik keras sebagai genre yang lebih kaya, lebih relevan, dan yang terpenting lebih adil bagi semua gender.
Mereka menegaskan bahwa volume suara perempuan setara, legitimasi perlawanan mereka valid, dan energi yang mereka hasilkan di panggung memiliki dampak yang signifikan. Oleh karena itu, tanggung jawab kolektif kita sebagai partisipan dan penikmat skena ini adalah menjamin bahwa setiap alat musik dan mikrofon senantiasa tersedia bagi siapa pun yang memiliki keberanian artistik, terlepas dari konstruksi identitas gender mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda