JURNALPOST - Jelang pelaksanaan Munaslub Partai Golkar, para kandidat calon ketua umum dikabarkan harus menyetorkan sejumlah uang yang jumlahnya hingga puluhan miliar rupiah sebagai syarat untuk maju dan bertarung dalam bursa oemilihan ketua umum DPP Partai Golkar.
Terkait hal tersebut, Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan, tidak menutup kemungkinan hal itu dilakukan untuk menjegal langkahnya untuk bisa maju dan bertarung dalam bursa pemilihan ketua umum DPP Partai Golkar, mengingat sejak awal ia sudah dengan tegas mengatakan bahwa ia akan mundur jika untuk menjadi ketua umum harus dilakukan dengan aksi bayar membayar atau harus menyetorkan sejumlah uang.
"Sepertinya begitu, kan saya sejak awal sudah bilang kalau harus dengan bayar membayar, saya akan mundur. Yang jelas, saya sampai dengan hari ini saya komit. Kalau itu dalam pendekatan yang berkonotasi mahar atau harus sumbangan wajib, dan ditentukan nilainya, saya izin boleh tidak saya tidak usah ikut. Biar kita orang Sulsel ini jelas karakternya, mau masuk itu kita mau perbaiki negara dan rakyat melalui perpolitikan yang sehat," kata Syahrul, kemarin.
Kendati begitu, hingga saat ini, SYL menegaskan bahwa ia belum menyatakan bahwa ia mundur sebagai salah satu kandidat calon ketua umum Partai Golkar.
SYL juga mengaku masih terus berupaya agar praktek politik uang ditiadakan di dalam pelaksanaan Munaslub Golkar nanti. Hal seperti itu dikhawatirkan akan menjadi budaya dan berlanjut ke berbagai lapisan politik.
"Saya anggap mungkin ada yang mengatakan kenapa terburu-buru menyatakan begitu, tapi memang lebih baik dari awal saya nyatakan seperti itu, tapi apakah saya mundur sekarang? Tidak. Politik kan dinamis sekali, menit demi menit terjadi pergeseran dan perubahan. Saya masih terus berupaya agar itu tidak terjadi. Tapi kalau tetap harus seperti itu, saya mundur. Saya tekankan jangan ikut yang salah. Kalau ada yang salah, minimal kita tidak terlibat," ujarnya.
SYL juga mengaku, banyak teman dan kerabatnya di Jakarta yang menghubunginya dan meminta supaya ia tetap maju. Mereka siap membayar jika memang harus seperti itu.
"Banyak teman saya di Jakarta yang telpon saya hari ini, mereka bilang kamu tidak usah bayar, saya yang bayarin. Tetapi apakah yang seperti itu? Ini bukan soal uangnya, tapi soal patron dan budaya politik yang tidak boleh lagi kita gunakan cara yang sangat liberal seperti itu. Artinya yang bisa bertanding hanya orang yang ada uangnya. Saya mau bertanding dengan benar, dengan sehat, dengan penuh idealisme. Itulah yang saya bisa jawab hari ini, walaupun saya dapat telepon dari orang-orang yang saya anggap penting bahwa tidak boleh mundur dulu, maju dulu terus," ungkapnya.
SYL juga mengaku tidak senang dan tidak setuju dengan adanya rencana pemberian uang saku untuk peserta Munaslub.
"Itu yang saya tidak suka dengar cara-cara seperti itu, bahwa ada uang saku Rp50 juta, bahkan Rp10 juta pun sebenarnya yang seperti itu yang kita harap tidak terjadi di partai kita. Saya kira mungkin saja ada yang menganggap itu biasa, tapi menurut saya itu sangat luar biasa dan sebaiknya kita spakat hindari yang seperti itu. Kalau itu dilegalkan dan dianggap menjadi budaya baru di Golkar besok Musda provinsi berapa bayarnya? Berapa maharnya? Kemudian Musda kabupaten/kota berapa maharnya, sesudah itu rekruitmen calegnya berapa maharnya? Kita anggap ini wajar, saya anggap itu tidak wajar. Malah menurut saya, yang punya uang sebenernya tidak usah diberi uang tiket kalau memang dia punya idealisme. Kalau itu didorong seperti itu nanti akan dianggap biasa," ucapnya.
SYL juga mengklaim jumlah pendukungnya terus bertambah menuju pencalonan Ketua Umum DPP Partai Golkar. SYL membantah kabar adanya sejumlah pendukung yang berpaling menyusul rencananya mundur dari bursa calon jika diharuskan menyetorkan sumbangan wajib ke partai.
"Real voters saya tidak lari. Menurut saya, boleh saja orang berpikir lain. Tapi dari awal saya sudah bilang, yang punya real voters itu cuma saya," ucapnya.
Sejauh ini, SYL mengaku telah didatangai sebanyak 307 orang dari berbagai elemen Golkar di berbagai daerah, dan rata-rata menyatakan dukungan agar SYL mencalonkan diri sebagai ketua umum.
Dari jumlah itu, SYL mengungkapkan, 214 diantaranya berasal dari DPD tingkat II selaku pemegang mandat suara di Munaslub. Daru jumlah tersebut, 142 diantaranya disebut telah menyerahkan rekomendasi tertulis kepadanya.
Lebih jauh SYL mengatakan, ia memahami bahwa jumlah rekomendasi tertulis belum menjamin jalannya akan mulus menuju pencalonan ketua umum Golkar. Tetapi, berdasarkan dari rekomendasi yang masuk, ia mengatakan kubunya sudah bisa memetakan potensi dan kekuatan.
"Ada yang kategori hijau, seratus persen bersama saya. Yang kuning terkontaminasi, dan yang merah saya minta tidak usah dihubungi lagi. Jumlahnya tidak usah saya sebut," ujarnya.
SYL juga mengaku, hingga saat ini belum menjajaki peluang berkoalisi untuk mengalihkan dukungan ke tokoh lain. Ia menolak jika disebut akan merapat ke kandidat lain.
"Saya punya modal kok. Buktinya ada 307 yang datang ke saya. Bukan saya yang datang ke tempat mereka," tutupnya.(fo)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda