JurnalPost.com - Pendidikan merupakan jalan utama dalam peningkatan sumber daya manusia. Terlebih dalam masa kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini SDM adalah salah satu dalam fokus utama proses dan tujuan dalam pembangunan nasional. Dilansir dari kemenkopmk.go.id (29/4/2021) dikatakan bahwa melalui SDM yang unggul dan berkualitas maka akan berdampak positif terhadap peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa, serta mendukung pembangunan nasional. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa SDM menjadi salah satu penunjang utama dalam pembangunan suatu bangsa, dan untuk melakukan pembangunan suatu bangsa maka harus dimulai dari peningkatan SDM nya. Sedangkan untuk peningkatan SDM harus dimulai dari peningkatan kualitas pendidikannya.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, tidak lepas dari peningkatan kemampuan literasi peserta didiknya. Literasi merupakan salah satu hal yang esensial dalam pendidikan karena literasi sendiri adalah kemampuan seseorang untuk menyerap informasi, menganalisis, berkomentar dan berpikir kritis terhadap informasi yang didapatnya. Terlebih dalam percepatan akses jaringan internet saat ini, menjadikan kemampuan literasi menjadi sangat penting apalagi bagi peserta didik dan atau generasi muda.
Akan tetapi, beberapa survei yang menganalisis tingkat kemampuan literasi dan minat baca peserta didik Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assesment (PISA), dirilis oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2019 (kemendagri.go.id, 23/3/2021), Indonesia menempati posisi 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara.
Dilansir dari kemendagri.go.id (23/3/2021) pada rapat koordinasi nasional bidang perpustakaan tahun 2021, Kepala Perpusnas, M. Syarif Bando mengatakan bahwa persoalan Indonesia adalah rendahnya tingkat literasi. Lebih lanjut Beliau menambahkan hal tersebut terjadi karena Indonesia telah diklaim dan dihakimi sebagai negara yang rendah budaya bacanya, sehingga menyebabkan rendah pula indeks literasinya.
Hal tersebut juga tidak terlepas dari budaya baca yang masih asing dalam masyarakat Indonesia. Hanya 1 dari 1000 orang Indnesia yang gemar membaca. Rendahnya minat baca dan kemampuan literasi ini berdampak pada produsi buku bacaan di Indonesia setiap tahunnya. Melansir dari kemendagri.go.id (23/3/2021) total jumlah bacaan Indonesia dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia memiliki rasio nasional 0.09. Ini bermakna, 1 buku baru ditunggu oleh 90 orang Indonesia setiap tahunnya.
Jika dibandingkan dengan negara asia yang lainnya seperti Asia Timur, yakni Jepang, Korea, dan China yang terdeteksi rata-rata 20 buku baru untuk 1 orang setiap tahunnya. Sedangkan standar minimal yang ditetapkan UNESCO adalah 3 buku baru untuk 1 orang setiap tahunnya. Dari data ini tampak bagaimana budaya literasi dan minat baca Indonesia masih sangat rendah, dan hal ini menyebabkan produksi buku bacaan di Indonesia juga masih sangat jauh dari standar.
Kemampuan literasi sangatlah penting terutama bagi generasi muda. Semakin banyak literatur yang dibaca, semakin menambah wawasan dan membuka cakrawala baru. Hal ini sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan untuk menunjang peningkatan sumber daya manusia. Padahal dilansir dari kominfo.go.id (10/10/2017) penilaian infrastruktur penunjang membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Hal ini seharusnya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk peningkatan kemampuan literasi masyarakat Indonesia.
Kemapuan literasi selain sangat penting juga sangatlah dibutuhkan apalagi dalam era ini. Globlaisasi semakin tanpa batas, perkembangan IPTEK dan informasi komunikasi menjadi sangat cepat. Akan menjadi timpang dan berbahaya apabila tidak dibarengi dengan kemampuan menghadapi dan mengelolanya, salah satunya tentu saja dengan kemampuan literasi yang memadai. Dengan kemampuan literasi yang baik, semakin membuka ruang masuknya informasi dan pengetahuan baru pula, hal ini bermanfaat dalam mempersiapkan diri guna bersaing dengan negara lain.
Beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah guna meningkatkan kualitas kemampuan literasi masyarakatnya adalah dengan menggencarkan sosialisasi tentang pentingnya literasi, mengevaluasi berbagai permasalahan dalam upaya mewujudkan budaya literasi, serta mengembangkan beragam jenis literasi, seperti literasi sains, literasi budaya dan kewarganegaraan, literasi finansial, literasi baca tulis, dan lain sebagainya. Selain itu pemerintah juga bekerja sama dengan beberapa kementriannya, seperti dengan Kominfo menggencarkan literasi digital dengan memanfaatkan media sosial, memasukkan literasi digital dalam konsep kurikulum sekolah dasar melalui Kemendikbudristek, dan juga sebisa mungkin membuka akses seluas-luasnya untuk masyarakat untuk meningkatkan kemampuan literasinya, dan masih banyak lagi.
Dengan beberapa upaya tersebut nyatanya belum mampu menumbuhkan minat baca dan peningkatan budaya literasi dalam masyarakat. Beberapa upaya harus dilaksanakan secara serentak oleh seluruh lapisan masyarakat, saling bahu-membahu membangun budaya literasi yang baik sesuai dengan bidang profesi masing-masing. Hal ini dimaksudkan karena dalam penciptaan budaya, diperlukan adanya kebiasaan dan saling keterkaitan peran antar anggota masyarakat demi menumbuhkan budaya literasi yang baik.
Solusi alternatif lain yang bisa dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan budaya literasi adalah dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan perpustakaan di sekolah, menumbuhkan minat baca peserta didik dalam semua mata pelajaran, memberikan motivasi secara berkelanjutan bagi peserta didik agar menemukan buku untuk membuatnya jatuh cinta pada membaca, mengoptimalkan peran serta mahasiswa, masyarakat, akademisi, dan lembaga kemasyarakatan dalam upaya pengadaan bahan bacaan yang sesuai dengan karakeristik masyarakat dan peserta didik di lingkungan sekitar, mendorong dan mendukung agar para ahli, pakar, akademisi, bahkan mahasiswa untuk berkarya dalam meramaikan produksi bahan bacaan nasional baik melalui buku fisik maupun digital, serta semakin memperkenalkan dan mensosialisasikan pentingnya literasi di era ini.
Dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi memiliki peran penting terhadap pembangunan suatu bangsa, literasi merupakan salah satu hal esensial dalam peningkatan kualitas pendidikan, dan peningkatan kualitas pendidikan berjalan lurus dengan peningkatan kualitas SDM yang dihasilkan. Sedangkan sumber daya manusia sendiri merupakan salah satu hal utama dalam pembangunan suatu bangsa.
Oleh Nurul Puji Lestari *) - Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda