
JurnalPost - Kita sering mendengar istilah kaum milenial. Sebenarnya siapakah mereka? Kaum milenial adalah mereka yang sering dinilai sebagai “anak jaman sekarang” dengan perilaku yang unik. Beberapa juga mengartikan sebutan milenial sebagai generasi Y atau generasi yang terlahir sekitar tahun 1982 hingga tahun 2000. Mereka lahir dan tumbuh pada era perkembangan jaman tekonologi, walaupun saat ini teknologi sudah menjadi hal utama bagi semua kalangan usia, namun kaum milenial memiliki kemampuan yang lebih cermat untuk mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi. Salah satunya dalam penggunaan media online dan internet yang bisa mengakeses informasi dan perkembangan di seluruh dunia dengan hanya melalui handphone ataupun laptop yang sebagian besar dimiliki oleh generasi Y ini. Tidak hanya dapat menyuguhkan informasi, teknologi saat ini menjadi trend dalam pemenuhan keperluan kaum milenial, seperti media promosi, penyaluran bakat dan kreatvitas, media pembelajaran, bahkan menjadi wahana untuk berbisnis seperti investing atau trading.
Pandemi Covid-19 sudah menjadi permasalahan selama kurang lebih satu tahun yang sampai saat ini belum ada solusi tepat untuk mengatasinya. Pandemi ini telah mengubah hakikat seorang manusia sebagai mahluk sosial. Pandemi ini menuntut manusia untuk menjaga jarak, tidak berinteraksi di kerumunan, tidak ada lagi diskusi di sekolah dan perkantoran, tempat bermain terpaksa tutup, dan lainnya. Permasalahan yang sangat berdampak pada masyarakat adalah bidang perekonomian. Banyak masyarakat yang kehilangan mata pencaharian, pekerja dirumahkan atau dibebas tugaskan sampai batas waktu yang tidak ditentukan, terhentinya kegiatan usaha, rendahnya kemampuan bertahan pengusaha, dan pemotongan gaji. Siswa dan mahasiwa terpaksa melewati masa-masa pendidikan hanya dengan pembelajaran online sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri atas kemampuannya. Selain itu, faktor sedikitnya ketersediaan lapangan pekerjaan pasca kelulusan, membuat mereka kebingungan dalam mencari pekerjaan.
Selama pandemi, lapangan pekerjaan yang berkembang adalah pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi. Manusia khususnya pengusaha dan pekerja dituntut beradaptasi mengurangi aktivitas yang melibatkan banyak orang dengan penerapan pola kerja Work From Home (WFH), sehingga tenaga kerja yang lebih dibutuhkan adalah tenaga kerja yang memiliki kemampuan di bidang teknologi. Hal ini menjadi paradigma baru yang harus diterima setiap orang tanpa terkecuali dengan menyesuaikan diri dan bertahan dalam kondisi yang telah terjadi di dunia khususnya di Indonesia. Dalam era pandemi dan kemajuan teknologi saat ini, banyak kaum milenial mencoba mempelajari hal baru demi mendapatkan penghasilan dan membantu meringakan beban orang tuanya. Sudah seharusnya saat ini kaum milenial mengambil peran aktif untuk memanfaatkan teknologi secara tepat dan efisien. Mereka mampu mendapatkan penghasilan tambahan walaupun hanya dari rumah, salah satunya dengan cara trading yang saat ini sedang dipraktikkan sebagian besar kaum milenial.
Trading merupakan aktivitas yang terjadi pada pasar finansial. Ini bertujuan agar mampu melakukan jual beli dalam waktu singkat untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Menurut BEI (Bursa Efek Indonesia) di era ini banyak investor saham dari kalangan kaum milenial yang mendominasi pasar saham. Kegiatan ini bisa secara global dan tidak harus dari negara yang sama. Namun dalam pasar perdagangan internasional ini menawarkan kompetisi yang sangat ketat sehingga mampu menciptakan harga yang sangat kompetitif. Dari segi finansial sendiri kegiatan trading ini lebih mengarah pada aktivitas jual beli seperti saham. Hal ini sering terjadi pada pasar berjangka dan pasar valuta asing atau sering kita sebut dengan forex (foreign exchange). Hal inilah yang membuat kaum millenial tertarik mengenal lebih jauh dan masuk ke dalam dunia trading. Jenis-jenis trading meliputi 1. Trading forex, 2. Trading saham, 3. Trading binary, 4. Trading Crypto. Tergantung pada pilihan masing-masing individu untuk memilih trading yang dikehendaki.
Trading sering dianggap menguntungkan karena beberapa hal, diantaranya adalah fleksibel dan praktis karena bersifat online dapat dilakukan dimanapun serta trader dapat mengatur waktu trading yang diinginkan. Software yang disediakan mudah digunakan karena dilengkapi dengan grafik pergerakan harga dan dapat dengan mudah dipelajari. Lebih aman karena trading dikendalikan oleh diri sendiri, account memiliki tiga tingkat keamanan yakni sebuah username dan dua buah password. Keuntungan dapat mencapai 100% atau lebih karena sepenuhnya keuntungan milik trader bukan milik broker atau perusahaan sekuritas. Bahkan trader bisa mendapatkan keuntungan lebih dari 100% ketika pasar sedang bagus-bagusnya.
Namun tidak semua kaum milenial memiliki pemahaman yang baik mengenai trading ini sendiri, sehingga banyak yang terjebak dan merugi. Penyebab meruginya dalam trading ialah kurangnya pehamanan tentang teknik analisis. Setiap bisnis pasti memiliki risiko kerugian, ini merupakan hal yang paling ditakuti oleh para trader. Terlebih lagi, pada bisnis trading ini tidak ada lembaga penjamin simpanan seperti di bank. Akan tetapi risiko ini masih dapat diminimalisir, bahkan dapat dibalikkan menjadi keuntungan apabila dapat melakukan manajemen risiko dengan baik. Kaum milenial pada umumnya mengikuti trading karena rekomendasi dari orang sekitarnya atau hanya sekedar ikut trend saat ini tanpa mengetahui dasar-dasar ilmu yang perlu dipahami sebelum terjun ke dunia trading. Mereka yang seperti ini akan lebih banyak mengalami kerugian dibandingkan dengan kuntungan yang diperoleh. Hal ini disebabkan oleh pemahaman dari rekomender dan cara pandang keduanya yang tidak sefrekuensi. Maka dari itu, seorang trader harus memiliki kualitas trading dan memperhatikan trading plan.
Seorang trader harus memahami secara menyeluruh cara melakukan trading. Sebelum terjun ke dunia trading para kaum milenial harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu oleh para ahli dalam bidang trading, kemudian harus memikirkan dampak positif dan negatif dari sebuah keputusan yang akan diambil. Dalam hal ini dibutuhkan money management yang baik agar berkomepeten sebagai seorang trader yang dapat membaca setiap peluang di pasar bursa. Hal yang tidak kalah pentingnya yaitu menentukan target profit untuk membangun motivasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pergerakan harga bursa yang begitu fluktuatif memerlukan pengontrolan emosi yang stabil sehingga dapat memperkecil peluang kerugian.
Pandemi Covid-19 menuntut manusia untuk melakukan beradaptasi terhadap kondisi yang ditimbulkan sehingga diperlukan kerjasama dari berbagai aspek kehidupan. Kemajuan teknologi yang saat ini berkembang dengan pesat adalah salah satu langkah penyesuaian yang dapat diterapkan, terutama untuk kaum milenial yang sudah sepatutnya lebih berpartisipasi aktif untuk memanfaatkan ilmunya. Dimasa pandemi Covid-19 dengan segala pembatasan yang berlaku merupakan momentum bagi para kaum milenial untuk berani mengembangkan diri pada dunia trading. Menekuni dunia trading dibutuhkan pengetahuan dan pemahan yang mendalam terkait perkembangan teknologi, khususnya dalam dunia trading yang sedang booming dengan cara memahami kondisi keuangan perusahaan, membaca berita terkait perusahaan-perusahaan pesaing, dan belajar membaca grafik pasar. Pemahaman yang baik akan menentukan kesiapan kaum milenial untuk mengambil keputusan dalam trading.
Penulis : I Dewa Gede Juni Artha Wira Wardhana/Mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda