JurnalPost - Pada saat pandemi Covid-19 ini, perekonomian dunia di setiap sektor mengalami masalah yang cukup serius. Salah satu yang terkena dampak adalah perkebunan kelapa sawit. Industri-industri yang menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit juga pasti akan mengurangi produksinya. Dampaknya, permintaan dunia akan minyak sawit juga menurun. Penurunan permintaan minyak sawit ini bisa dipastikan menekan harga tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO).
Kelapa sawit adalah komoditas yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan penghasil minyak makanan, minyak industri maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Kelapa sawit memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial. Sebagai salah satu komoditas ekspor pertanian terbesar Indonesia, membuat kelapa sawit mempunyai peran penting sebagai sumber penghasil devisa maupun pajak yang besar. Tentunya jika sektor ini terganggu, maka PDB Indonesia akan mengalami dampak yang cukup serius.
Untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia, saat ini pemerintah dan badan yang bergerak di setiap sektor harus mencari cara agar tetap bertahan dalam masa pandemi ini. Sektor perkebunan kelapa sawit salah satu yang berhasil bertahan. Saat pandemi justru harga CPO tidak turun. Hal itu dibantu juga karena program pemerintah yang dikenal sebagai B20, B30, Dan B40.
Istilah bioenergi seperti B20, B30, B40 adalah program pemerintah yang mewajibkan pencampuran biodiesel dengan bahan bakar minyak jenis solar, yang menghasilkan produk biosolar. Program B20 mulai diberlakukan sejak Januari 2016 sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 tahun. B30 sendiri baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Senin, 23 Desember 2019. Namun B40 masih belum dilakukan uji coba karena terhalang pandemi Covid-19. Program ini sangat didukung pemerintah, karena Presiden sempat menyampaikan tiga alasan melakukan percepatan program B30. Pertama, sebagai upaya untuk melepaskan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pernyataan ini juga didukung oleh Menteri ESDM yang melaporkan pada seminar virtual bahwa jumlah cadangan minyak bumi nasional sebesar 4,77 miliar barel. Apabila tidak dilakukan eksplorasi, cadangan tersebut akan habis dalam waktu dekat.
Alasan kedua, melepaskan Indonesia dari ketergantungan impor bahan bakar minyak dengan memanfaatkan bahan bakar nabati berbahan baku sawit. Alasan terakhir adalah menciptakan permintaan domestik akan CPO yang sangat besar. “Ini menimbulkan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani pekebun kelapa sawit kita. Ini artinya Program B30 akan berdampak pada para pekebun yang selama ini memproduksi sawit” tegas Presiden.
Sektor kelapa sawit dapat pertahan pasti ditandai dengan kenaikan produksi kelapa sawit. Hal ini juga berkaitan produksi kelapa sawit. Berdasarkan publikasi Direktorat Jendral Perkebunan tentang Statistic Perkebunan Indonesia Tahun 2018-2020 menyatakan bahwa produktivitas cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun namun relatif meningkat selama periode 2014-2020 dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 0,37% per tahun. Tentunya peningkatan produksi kelapa sawit harus dibarengi dengan penanganan yang tepat. Tingginya tingkat produksi digunakan sebagai bahan baku pada B20 dan B30. Dilansir di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral penggunaan kelapa sawit dalam program ini juga mengalami peningkatan setiap tahunnya. volume penggunaan CPO saat program B20 dan B30 pada tahun 2018-2020 meningkat hingga 9,95 KL. Dengan peningkatan nilai tambah sampai 13,82 triliun. Hal lain yang mengakibatkan harga CPO naik adalah kuota ekspor yang meningkat setiap tahunnya. Namun permintaan pasar untuk komoditas kelapa sawit menurun. Akibatnya volume ekspor kelapa sawit menurun 7,52% menjadi 27,33ton pada tahun lalu. Yang membantu menopang tumbuhnya nilai ekspor CPO adalah naiknya harga cpo di pasar internasional.

Walau sektor kelapa sawit mengalami penurunan harga CPO pada tahun 2018 dan 2019 yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 17,81% dan 9,83%. Harga CPO kembali naik pada tahun 2020 hingga menyentuh nilai 1105 US$/MT. Harga CPO masih terus naik hingga September 2021, harga cpo mencapai 1.230 US$/MT. Direktur Industri Hasil Hutan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Perindustrian, Emil Satria mengatakan kenaikan harga CPO Global juga berpengaruh pada realisasi kebijakan B30 nasional di samping juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang yang paten kenaikannya rumit untuk diramalkan. maka program B30 yang dilakukan berdampak positif terhadap sektor kelapa sawit pada saat pandemi karena walaupun volume ekspor kelapa sawit menurun, namun berhasil ditopang oleh kenaikan harga ekspor CPO.
KEYWORD: kelapa sawit, ekspor, Biodiesel30
Penulis : Vifi Yusnita Purba/Instansi: Mahasiswa Politeknik Statistika Stis
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda