HASIL YANG DIDAPAT
Source: Inside-rge.com
Selain dukungan dalam bentuk pelatihan, Asian Agri juga membantu hal krusial yang dibutuhkan petani swadaya. Mereka meminjamkan peralatan yang diperlukan untuk mengelola perkebunan. Selain itu, akses ke pupuk dipermudah sehingga hasil perkebunan optimal.
Bukan hanya itu, unit bisnis grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini juga memberikan bibit berkualitas kepada petani swadaya. Mereka tahu bahwa bibit merupakan salah satu komponen penting keberhasilan perkebunan. Jika kualitas bibit minim dipastikan hasil panen bakal buruk. Begitu pula sebaliknya.
Unit bisnis Royal Golden Eagle ini kemudian memberikan bibit Topaz untuk ditanam. Ini merupakan bibit berkualitas hasil pengembangan inovasi tim Riset dan Pengembangan Asian Agri.
Asian Agri memberikan pendampingan dan dukungan selama tiga tahun. Setelah itu, petani swadaya diharapkan sudah paham tata cara pengelolaan perkebunan yang baik, sehingga mampu berkebun secara mandiri.
“Jadi kami memberikan bekal yang cukup kuat kepada para warga desa untuk mereka mengelola perkebunannya secara mandiri,” papar Benjamin.
Kemitraan khusus juga dijalankan oleh Asian Agri. Mereka akhirnya bertindak sebagai perusahaan inti bagi petani swadaya. Dengan itu, petani swadaya bisa menjual hasil perkebunannya kepada mereka. Hal itu amat penting karena petani berarti mendapat harga acuan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
“Selain itu, mereka juga tidak kebingungan lagi untuk memasarkan hasil perkebunannya, karena ketika masa panen tiba, mereka bisa langsung menjualnya ke Asian Agri,” lanjut Benjamin.
Program Desa Sawit Lestari akhirnya mulai membuahkan hasil. Upaya peningkatan taraf hidup petani swadaya ini memang berhasil mengangkat perekonomian. Itu tidak lepas dari hasil perkebunannya yang meningkat.
“Pendapatan mereka pun meningkat, seiring dengan meningkatnya hasil perkebunan,” ujar Benjamin.
Asian Agri juga menggandeng pemangku kepentingan seperti Pemerintah Desa dalam program Desa Sawit Lestari. Nanti, ada porsi dari setiap pendapatan dari hasil penjualan kelapa sawit yang akan dimasukkan ke kas koperasi unit desa,. Hasilnya nanti bisa digunakan membangun fasilitas desa. Dengan cara ini unit bisnis Royal Golden Eagle itu mampu untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah operasi perusahaan.
Kesuksesan ini membuat Asian Agri semakin bersemangat untuk menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Pasalnya, banyak petani yang merasakan manfaat positif. Hal ini mendorong mereka untuk menggulirkan program Kemitraan One to One.
Ini adalah upaya bagi Asian Agri untuk menyeimbangkan luas lahan yang dikelola sendiri dengan yang ditangani oleh petani. Sekarang mereka sudah mengelola perkebunan seluas 100 ribu hektare. Sementara itu, ada lahan seluas 60 ribu hektare yang dikelola petani plasma.
Agar seimbang, Asian Agri kemudian menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Kegiatan itu ditargetkan dapat mencakup lahan seluas 40 ribu hektare pada 2018.
Namun, Kemitraan One to One bukan hanya menambah luas lahan cakupan. Bagi Asian Agri, ada misi lain yang diusung di baliknya, yakni peningkatan taraf hidup petani kelapa sawit.
“Melalui program kemitraan One to One, kami menempatkan hubungan antara perusahaan dengan petani tidak hanya sebatas penjual dan pembeli. Namun kami turut berfokus pada peningkatan kesejahteraan seluruh petani mitra melalui pendampingan dan praktik-praktik berkelanjutan yang diterapkan oleh para petani,” kata Direktur Corporate Affairs Asian Agri, M. Fadhil Hasan.
Dengan program ini, Asian Agri mampu memberi manfaat kepada pihak lain khususnya petani kelapa sawit. Inilah yang menjadi kewajiban bagi unit-unit bisnis dari Royal Golden Eagle seperti mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda