Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Bisnis
  3. Royal Golden Eagle Meningkatkan Taraf Hidup Petani Kelapa Sawit Swadaya

Royal Golden Eagle Meningkatkan Taraf Hidup Petani Kelapa Sawit Swadaya

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
22 November 2018, 01.42 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Royal Golden Eagle
Source: Inside-rge.com
JURNALPOST - Petani menjadi bagian penting dari operasional Royal Golden Eagle (RGE). Sadar akan hal tersebut, RGE berusaha keras untuk meningkatkan kualitas hidup petani yang menjadi mitra, salah satunya dengan petani swadaya. Petani swadaya merupakan istilah yang ada dalam industri kelapa sawit nasional. Mereka adalah para petani yang mengelola perkebunan kelapa sawit secara mandiri. Petani itu memanfaatkan lahan yang dimilikinya sendiri dan menjalankan tanpa dukungan perusahaan besar. Saat ini, jumlah petani swadaya cukup besar. Sayangnya banyak di antara mereka yang memiliki taraf hidup yang kurang baik. Pasalnya, hasilnya perkebunan yang dikelolanya tidak maksimal. Kebetulan kelapa sawit merupakan salah industri yang digeluti oleh Royal Golden Eagle. Mereka memiliki Asian Agri yang berkecimpung di sana. Anak perusahaannya ini termasuk sebagai salah satu produsen crude palm oil terbesar di Asia. Per tahun, mereka sanggup menembus kapasitas produksi hingga satu juta ton. Asian Agri memiliki sejarah panjang dengan petani kelapa sawit. Mereka menjalankan kemitraan dengan mereka. Ada dua konsep kerja sama yang dijalankan. Pertama ialah dengan petani plasma yang sudah dimulai sejak 1987. Kemitraan itu membuat anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut menyerahkan pengelolaan 96 ribu hektare dari total 196 ribu hektare lahan kepada petani plasma. Dengan langkah ini, ada 30 ribu keluarga yang mendapatkan manfaatnya. Mereka mendapatkan penghidupan dari mengelola 27 perkebunan Asian Agri. Selain dengan petani plasma, Asian Agri memiliki kemitraan dengan petani swadaya. Mereka mulai menjajaki kerja sama setelah melihat kondisi petani. Banyak di antara mereka yang memiliki taraf hidup rendah. Gara-garanya adalah penghasilan yang minim berkebun kelapa sawit. Para petani swadaya banyak yang terjebak ke dalam siklus negatif. Mereka sering kesulitan untuk mendapatkan peralatan atau pupuk yang diperlukan untuk mengelola perkebunan. Mereka pun tidak bisa mendapatkan pelatihan pertanian yang tepat. Hal itu dikarenakan ketiadaan biaya. Akibat situasi seperti itu, para petani tidak bisa mendapatkan hasil panen kelapa sawit yang maksimal. Kondisi ini berujung terhadap kemampuan ekonomi yang kurang. Alhasil, siklus serupa terulang lagi karena hasil berkebun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Unit bisnis RGE itu berupaya mengubah situasi tersebut. Mereka mengadakan kegiatan yang dinamai sebagai Desa Sawit Lestari sebagai upaya meningkatkan taraf hidup petani swadaya. Unit bisnis dari Royal Golden Eagle ini mulai menggulirkan program Desa Sawit Lestari pada 2015. Awalnya ada dua desa yang menjadi perintis, yakni Desa Ukui Dua di Kabupaten Pelalawan dan Desa Petapahan di Kabupaten Kampar. Di sana Asian Agri menggelar berbagai jenis kegiatan untuk mengangkat hasil perkebunan petani swadaya. Para petani tersebut diajak bekerja sama selama 3 tahun untuk memperbaiki lahan yang dikelola. Selama ini terungkap fakta bahwa petani tidak tahu cara mengelola perkebunan kelapa sawit yang benar. Mereka tidak memahami praktik bertani berkelanjutan. Hal itu diperparah dengan kesulitan memperoleh akses peralatan yang memadai. “Banyak dari mereka tidak mengerti bagaimana tata cara mengelola perkebunan yang baik dan benar, maka dari itu kami hadir untuk mengedukasi mereka,” kata Benjamin Hutagalung, selaku Koordinator CSR Asian Agri di Provinsi Riau. “Kami ingin masyarakat desa yang kami bina menjadi mandiri. Sehingga mereka tidak terus-menerus bergantung kepada orang lain”. Asian Agri menurunkan tim khusus untuk melatih petani swadaya dalam berkebun kelapa sawit. Mereka juga menjadi pendamping sekaligus mentor bagi para petani.

HASIL YANG DIDAPAT

bibit sawit Source: Inside-rge.com Selain dukungan dalam bentuk pelatihan, Asian Agri juga membantu hal krusial yang dibutuhkan petani swadaya. Mereka meminjamkan peralatan yang diperlukan untuk mengelola perkebunan. Selain itu, akses ke pupuk dipermudah sehingga hasil perkebunan optimal. Bukan hanya itu, unit bisnis grup yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas ini juga memberikan bibit berkualitas kepada petani swadaya. Mereka tahu bahwa bibit merupakan salah satu komponen penting keberhasilan perkebunan. Jika kualitas bibit minim dipastikan hasil panen bakal buruk. Begitu pula sebaliknya. Unit bisnis Royal Golden Eagle ini kemudian memberikan bibit Topaz untuk ditanam. Ini merupakan bibit berkualitas hasil pengembangan inovasi tim Riset dan Pengembangan Asian Agri. Asian Agri memberikan pendampingan dan dukungan selama tiga tahun. Setelah itu, petani swadaya diharapkan sudah paham tata cara pengelolaan perkebunan yang baik, sehingga mampu berkebun secara mandiri. “Jadi kami memberikan bekal yang cukup kuat kepada para warga desa untuk mereka mengelola perkebunannya secara mandiri,” papar Benjamin. Kemitraan khusus juga dijalankan oleh Asian Agri. Mereka akhirnya bertindak sebagai perusahaan inti bagi petani swadaya. Dengan itu, petani swadaya bisa menjual hasil perkebunannya kepada mereka. Hal itu amat penting karena petani berarti mendapat harga acuan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. “Selain itu, mereka juga tidak kebingungan lagi untuk memasarkan hasil perkebunannya, karena ketika masa panen tiba, mereka bisa langsung menjualnya ke Asian Agri,” lanjut Benjamin. Program Desa Sawit Lestari akhirnya mulai membuahkan hasil. Upaya peningkatan taraf hidup petani swadaya ini memang berhasil mengangkat perekonomian. Itu tidak lepas dari hasil perkebunannya yang meningkat. “Pendapatan mereka pun meningkat, seiring dengan meningkatnya hasil perkebunan,” ujar Benjamin. Asian Agri juga menggandeng pemangku kepentingan seperti Pemerintah Desa dalam program Desa Sawit Lestari. Nanti, ada porsi dari setiap pendapatan dari hasil penjualan kelapa sawit yang akan dimasukkan ke kas koperasi unit desa,. Hasilnya nanti bisa digunakan membangun fasilitas desa. Dengan cara ini unit bisnis Royal Golden Eagle itu mampu untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah operasi perusahaan. Kesuksesan ini membuat Asian Agri semakin bersemangat untuk menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Pasalnya, banyak petani yang merasakan manfaat positif. Hal ini mendorong mereka untuk menggulirkan program Kemitraan One to One. Ini adalah upaya bagi Asian Agri untuk menyeimbangkan luas lahan yang dikelola sendiri dengan yang ditangani oleh petani. Sekarang mereka sudah mengelola perkebunan seluas 100 ribu hektare. Sementara itu, ada lahan seluas 60 ribu hektare yang dikelola petani plasma. Agar seimbang, Asian Agri kemudian menjalin kerja sama dengan petani swadaya. Kegiatan itu ditargetkan dapat mencakup lahan seluas 40 ribu hektare pada 2018. Namun, Kemitraan One to One bukan hanya menambah luas lahan cakupan. Bagi Asian Agri, ada misi lain yang diusung di baliknya, yakni peningkatan taraf hidup petani kelapa sawit. “Melalui program kemitraan One to One, kami menempatkan hubungan antara perusahaan dengan petani tidak hanya sebatas penjual dan pembeli. Namun kami turut berfokus pada peningkatan kesejahteraan seluruh petani mitra melalui pendampingan dan praktik-praktik berkelanjutan yang diterapkan oleh para petani,” kata Direktur Corporate Affairs Asian Agri, M. Fadhil Hasan. Dengan program ini, Asian Agri mampu memberi manfaat kepada pihak lain khususnya petani kelapa sawit. Inilah yang menjadi kewajiban bagi unit-unit bisnis dari Royal Golden Eagle seperti mereka.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/royal-golden-eagle-meningkatkan-taraf-hidup-petani-kelapa-sawit-swadaya/8381/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.08 WITA

  • #Hidup Petan
  • #Kelapa Sawit
  • #RGE
  • #Raja Garuda Mas
  • #Royal Golden Eagle
  • #perkebunan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Tak Lagi Repot Cari Uang Kembalian, Pedagang di Bojonegoro Mulai Terbiasa Gunakan QRIS BRI

SG8 Group Jadi Identitas Baru PT Dwitunggal Jaya Pratama Maju, Perkuat Solusi Bisnis Terintegrasi

UMKM Kalitidu dan Malo Manfaatkan BRImo, Transaksi Usaha Jadi Lebih Praktis

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia
  2. 2

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  5. 5

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.