oleh: Wielfred Leorenzo/25.E2.0042/
Mahasiswa Magister Psikologi - Soegijapranata Catholic University
Saat Panggilan Jiwa Bertemu Kelelahan: Hope, Gen Z, dan Seni Menjaga Batas Diri
Layar ponsel berkedip pada pukul 22.45 WIB. Sebuah pesan masuk di grup WhatsApp kelas dari seorang wali murid yang mencemaskan nilai anaknya. Di sudut kamar, seorang guru muda berusia 24 tahun menatap layar itu dengan perasaan berkecamuk.
Logikanya berbisik, "Ini sudah di luar jam kerja, istirahatlah." Namun, hatinya menyahut, "Bagaimana kalau ini penting? Bagaimana kalau muridku butuh bantuan?"
Pilihan untuk mematikan ponsel terasa seperti tindakan yang egois. Sebab baginya, mengajar bukan sekadar datang pukul tujuh pagi dan pulang pukul empat sore. Mengajar adalah panggilan jiwa (career calling).
Fenomena ini dialami oleh banyak pekerja Generasi Z yang memasuki profesi relasional seperti guru, tenaga medis, atau konselor. Di satu sisi, Gen Z sering dinilai sebagai generasi yang sangat peduli pada kesehatan mental, work-life balance, dan batas diri (boundaries). Namun di sisi lain, ketika mereka mencintai apa yang mereka kerjakan, batas itu perlahan meluruh.
Bagaimana seseorang bisa menarik garis batas, ketika pekerjaan yang ia lakukan justru terasa begitu bermakna?
Jebakan Pekerjaan yang Bermakna
Dalam kajian psikologi vokasional, career calling adalah kondisi ketika seseorang merasakan bahwa pekerjaannya memiliki tujuan mendalam, sejalan dengan nilai hidup, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Pekerjaan tidak lagi diecer sekadar sebagai ladang mencari nafkah (job), melainkan bagian dari identitas diri.
Bagi seorang guru, calling adalah bahan bakar utama. Penelitian Zhao et al. (2022) menemukan bahwa guru dengan tingkat calling yang tinggi cenderung memiliki keterlibatan kerja (work engagement) yang lebih kuat dan lebih terlindung dari risiko kejenuhan ekstrim (burnout).
Namun, ada paradoks tersembunyi di balik makna yang dalam tersebut.
Ketika mengajar dipandang sebagai panggilan hidup, setiap persoalan di sekolah bisa bertransformasi menjadi persoalan personal. Pesan wali murid di malam hari bukan lagi sekadar urusan administrasi, melainkan ujian bagi dedikasi. Rasa bersalah muncul setiap kali tubuh merasa lelah.
Di sinilah letak jebakannya: Pekerjaan yang paling bermakna sering kali menjadi pekerjaan yang paling sulit untuk ditinggalkan. Tanpa disadari, kita mempertaruhkan kesehatan mental demi memelihara identitas tersebut.
Gen Z: Ingin Berdampak, Tapi Juga Ingin Tetap "Hidup"
Sering ada stigma bahwa Gen Z adalah generasi yang "kurang tangguh" hanya karena mereka vokal menyuarakan keseimbangan hidup. Padahal, temuan Venida (2022) menunjukkan bahwa guru Gen Z sebenarnya membawa dua nilai penting secara beriringan: mereka memiliki ambisi intrinsik yang kuat untuk berkembang dan berdampak, namun mereka juga menghargai hubungan kerja yang sehat serta ruang untuk kehidupan pribadi.
Artinya, Gen Z bukannya tidak peduli. Justru sebaliknya: mereka sangat peduli, tetapi mereka tidak ingin pekerjaan menghabisi seluruh ruang hidup mereka.
Teknologi modern pun memperkeruh batas ini. Otonomi dan fleksibilitas kerja yang digadang-gadang memberikan kebebasan justru kerap memicu autonomy paradox—situasi di mana kebebasan waktu membuat pekerjaan menyusup ke setiap celah waktu luang. Grup pesan singkat, email di usap jari, dan tenggat waktu digital meruntuhkan batas fisik antara ruang kelas dan kamar tidur.
Lantas, bagaimana kita menyikapi kondisi ini tanpa harus mengorbankan salah satunya?
Hope: Jantung Psikologi Positif yang Mengubah Cara Bertahan
Di dalam interaksi antara tuntutan kerja dan kesehatan mental inilah psikologi positif menawarkan sebuah jawaban kunci: Hope (Harapan).
Banyak orang mengartikan harapan sebagai sikap pasif—sebuah bisikan pasrah seperti, "Semoga esok hari akan lebih baik." Namun, dalam Hope Theory yang dikembangkan oleh C.R. Snyder (2002), harapan adalah sebuah konstruk kognitif yang aktif dan berdaya.
Snyder menjelaskan bahwa Hope terdiri dari dua fondasi utama:
Guru
Agency Thinking (Tekad): Keyakinan dan energi mental bahwa "Saya mampu dan memiliki daya untuk mencapai tujuan saya."
Pathways Thinking (Peta/Jalan Keluar): Kemampuan mental untuk menemukan "Banyak jalan alternatif ketika jalan utama terhalang."
Dalam kerangka psikologi kesehatan mental, Hope adalah bagian integral dari Psychological Capital (PsyCap)—modal psikologis yang membuat seseorang lentur menghadapi tekanan (resilience).
Mari kita lihat bagaimana ketiga konsep ini saling menyapa dalam benak seorang guru:
Calling menjawab pertanyaan: "Mengapa saya melakukan pekerjaan ini?" (Sebab ini bermakna bagi saya).
Burnout / Stress mengajukan ancaman: "Tuntutan ini terlalu berat, kamu tidak akan sanggup."
Hope hadir memberikan jalan: "Tujuanmu mulia, tetapi jalan untuk mencapainya bukan dengan menghancurkan dirimu. Mari kita cari jalan lain."

Mengapa Menetapkan Batas Adalah Bentuk Tertinggi dari Hope?
Di sinilah letak miskonsepsi yang sering terjadi. Banyak orang menganggap menetapkan batas (boundary management) sebagai bentuk keputusasaan atau tanda berkurangnya dedikasi. Padahal, secara psikologis, menetapkan batas adalah tindakan nyata dari Hope.
Ketika seorang guru yang lelah memilih untuk tidak membalas pesan kerja di atas pukul delapan malam, Agency Thinking-nya berkata, "Saya berhak atas istirahat agar esok saya punya energi untuk murid-murid saya." Sementara Pathways Thinking-nya menyusun langkah: "Saya akan mengomunikasikan jam layanan pesan kepada orang tua murid secara profesional besok pagi."
Penelitian Choi et al. (2018) menegaskan hal ini. Individu yang memiliki calling tinggi dan didukung oleh modal psikologis (termasuk hope) akan mengalami kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi ketika mereka menerapkan strategi segmentasi—yakni keberanian untuk memisahkan domain kerja dan domain pribadi.
Menetapkan batas bukanlah tanda bahwa kita membenci pekerjaan kita. Batas adalah pagar perlindungan agar rasa cinta kita terhadap pekerjaan tersebut tidak mati terbakar kelelahan.
Menghidupkan Hope dalam Keseharian: Seni Membuat Batas
Bagi siapa pun yang sedang berjuang di profesi yang sarat akan makna dan tuntutan emosional, menjaga kesehatan mental melalui Hope dan Boundary Management dapat dimaknai melalui langkah nyata:
Re-framing Arti Dedikasi
Menjadi profesional yang baik tidak berarti harus selalu tersedia selama 24 jam. Dedikasi terbaik lahir dari kondisi mental yang sehat dan tenang, bukan dari kondisi emosional yang terkuras habis.Mengaktifkan Pathways Thinking (Mencari Jalan Alternatif)
Ketika beban kerja terasa menumpuk, hindari berpikir secara biner ("Saya harus selesaikan malam ini" atau "Saya menyerah saja"). Gunakan hope untuk mencari jalan ketiga: bernegosiasi soal tenggat waktu, membagi tugas dengan rekan sejawat, atau menyederhanakan proses administrasi.Membangun Batas Komunikasi yang Jelas
Sepakati waktu komunikasi sejak awal. Memberi tahu wali murid atau kolega mengenai jam operasional balasan pesan bukanlah bentuk ketidakramahan, melainkan bentuk profesionalisme yang menjaga ekspektasi bersama.Memisahkan Identitas Diri dari Peran Profesional
Ingatlah bahwa "Guru", "Konselor", atau "Karyawan" hanyalah salah satu peran dalam hidup Anda. Anda juga seorang individu, anak, pasangan, teman, dan manusia yang butuh ruang untuk bertumbuh di luar dunia kerja.
Menjaga Api Tanpa Harus Membakar Diri
Pekerjaan yang bermakna adalah sebuah anugerah. Namun, pekerjaan yang bermakna tanpa ditopang oleh batas yang sehat dapat berubah menjadi kurungan yang halus.
Generasi Z mengajarkan kita sebuah pelajaran penting tentang kesehatan mental: bahwa meminta ruang untuk bernapas bukan berarti kita melarikan diri dari tanggung jawab. Melalui kacamata psikologi positif, hope memberi kita keberanian untuk percaya bahwa kita bisa tetap berdedikasi tanpa harus mengorbankan kesejahteraan diri.
Seorang guru, atau pekerja mana pun, tidak perlu menjadi lilin yang menerangi orang lain dengan cara membiarkan dirinya habis terbakar.
Sebab pada akhirnya, lilin yang terus menyala dengan stabil adalah lilin yang dirawat apinya, diisi kembali minyaknya, dan dilindungi dari angin kencang.
Anda boleh memiliki calling. Anda boleh memiliki hope. Dan Anda sangat berhak untuk memiliki batas.
Referensi
Choi, Y. E., Cho, E., Jung, H. J., & Sohn, Y. W. (2018). Calling as a predictor of life satisfaction: The roles of psychological capital, work–family enrichment, and boundary management strategy. Journal of Career Assessment, 26(4), 567–582. https://doi.org/10.1177/1069072717723092.
Sathianwatchai, A., & Niramitchainont, P. (2022). Generation Z teachers’ quality of work life: Measurement and enhancement guidelines. Kasetsart Journal of Social Sciences, 43(3), 783–788. https://doi.org/10.34044/j.kjss.2022.43.3.34
Snyder, C. R. (2002). Hope theory: Rainbows in the mind. Psychological Inquiry, 13(4), 249–275. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1304_01
Venida, A. C. (2022). Exploring Generation Z teachers’ work values: Implications to educational leadership and management. International Journal of Education, 15(1). https://doi.org/10.17509/ije.v15i1.46153.
Zhao, X., Wu, K., Sun, B., & Li, W. (2022). Teacher career calling reduces burnout: The mediation effects of work engagement and psychological capital. Frontiers in Psychology, 13, 988467. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.988467.
Herdianti, S. N., Rohayati, N., & Ramadan, R. (2026). Teacher well-being guru Gen-Z: Peran work life balance dan perceived organizational support. PAEDAGOGY: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, 6(3), 2627–2641. https://doi.org/10.51878/paedagogy.v6i3.11843.
Alamudi, A. K., & Rizqi, M. A. (2026). Flextime and Gen Z work-life balance: The moderating roles of job crafting and boundary management. Management Analysis Journal, 15(1). https://doi.org/10.15294/maj.v15i1.46933.
Ab Hamid, S. M. H. S., & Zainudin, Z. N. (2026). The impact of career calling on teachers’ well-being and professional outcomes: A systematic literature review. Pertanika Journal of Counsellor Educator and Counselling Psychology, 2(1). https://doi.org/10.47836/pjocecp.2.1.04.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda