Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika Harapan Menjadi Kekuatan: Memaknai Hope Generasi Z di Rumah Sakit Misi Kristen

Ketika Harapan Menjadi Kekuatan: Memaknai Hope Generasi Z di Rumah Sakit Misi Kristen

T
Penulis: Tofan Arville
28 September 2026, 15.51 WITA • Editor: Gilang Pamungkas
7 menit baca
Hope Generasi Z
Tenaga kesehatan muda mendampingi pasien lanjut usia di lingkungan rumah sakit. Harapan, makna kerja, dan dukungan organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan Generasi Z membangun masa depan di dunia kerja. Foto: Ilustrasi/JurnalPost

Oleh: Tofan Arville Yunardo Sosakokone
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Soegijapranata
NIM: 25E020039

JurnalPost.com - Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, muncul satu pertanyaan penting: apa yang membuat seseorang tetap bertahan ketika pekerjaannya tidak selalu berjalan sesuai harapan?

IKLAN

Pertanyaan ini semakin relevan bagi Generasi Z, generasi yang kini mulai mengisi berbagai ruang kerja. Bagi mereka, pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan penghasilan, tetapi juga pengembangan diri dan pencarian makna.

Di lingkungan rumah sakit, pekerjaan bahkan melampaui rutinitas sehari-hari. Di dalamnya terdapat unsur pengabdian, tanggung jawab, dan pelayanan kepada sesama.

Lantas, apa yang membuat anak muda tetap memiliki harapan di tengah berbagai tantangan pekerjaan, terutama di RS Imanuel Way Halim Bandar Lampung?

Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam sebuah konsep sederhana, tetapi kuat: hope atau harapan.

Hope Bukan Sekadar “Berharap”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata harapan dalam pengertian sederhana, misalnya, “Saya berharap karier saya akan berjalan baik.”

Namun, psikolog Charles R. Snyder melihat hope secara lebih mendalam.

Dalam Hope Theory, Snyder menjelaskan bahwa hope bukan sekadar keinginan agar sesuatu yang baik terjadi. Hope berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memiliki tujuan, menemukan berbagai jalan untuk mencapai tujuan tersebut, dan mempertahankan dorongan untuk terus bergerak ke arahnya.

Orang yang memiliki hope bukan berarti tidak menghadapi masalah.

Seseorang mungkin sedang bergumul dengan pekerjaan, gagal memperoleh promosi, menghadapi beban kerja yang berat, atau merasakan kelelahan. Namun, ia masih mampu mengatakan kepada dirinya sendiri, “Saya mungkin belum tahu caranya, tetapi saya masih bisa mencari jalan.”

Ia mungkin gagal memperoleh kesempatan yang diinginkan, tetapi tetap belajar. Ia mungkin merasa lelah, tetapi masih memiliki alasan untuk melanjutkan.

Dengan demikian, hope bukan berarti hidup tanpa kesulitan. Hope adalah kemampuan untuk melihat bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan.

Generasi Z dan Pencarian Makna

Generasi Z memasuki dunia kerja ketika teknologi berkembang sangat cepat, tuntutan kompetensi terus meningkat, dan batas antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan semakin cair.

Di lingkungan rumah sakit, tantangannya bahkan lebih kompleks. Ada tuntutan menghadapi pasien dan keluarga, kondisi darurat, pekerjaan administratif, pencapaian standar mutu, hingga dinamika organisasi.

Dalam situasi seperti ini, pekerja muda membutuhkan lebih dari sekadar instruksi mengenai apa yang harus mereka kerjakan.

Mereka juga membutuhkan jawaban atas pertanyaan: “Mengapa saya melakukan pekerjaan ini?”

Ketika sebuah pekerjaan memiliki makna, pekerjaan tersebut tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kewajiban. Pekerjaan dapat menjadi bagian dari proses seseorang membangun identitas, mengembangkan kemampuan, dan memberi manfaat kepada orang lain.

Ketika Pekerjaan Menjadi Pelayanan

RS Imanuel Way Halim memiliki identitas sebagai rumah sakit dengan misi Kristen dan membawa moto “Mengasihi dan Melayani.”

Dalam perspektif tersebut, pasien tidak hanya dilihat sebagai “kasus” atau “nomor rekam medis”. Pasien adalah manusia yang memiliki keluarga, ketakutan, harapan, serta hak untuk diperlakukan secara bermartabat.

Namun, nilai organisasi tidak secara otomatis menjadi nilai pribadi seluruh karyawan.

Bagi seseorang, bekerja di rumah sakit dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk melayani. Bagi orang lain, pekerjaan tersebut merupakan kesempatan membantu pasien. Ada pula yang memandang rumah sakit sebagai tempat bertumbuh, mengembangkan kompetensi, membangun karier, sekaligus memberikan manfaat kepada sesama.

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apa nilai yang dimiliki rumah sakit?”

Pertanyaan yang sama pentingnya adalah, “Bagaimana nilai tersebut dialami dan dimaknai oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya?”

Ketika Hope Bertemu Budaya Organisasi

Bayangkan seorang karyawan muda yang memiliki cita-cita menjadi tenaga profesional yang kompeten.

Cita-cita tersebut merupakan goal atau tujuan.

Dalam perjalanannya, ia mungkin menghadapi berbagai hambatan, seperti kesempatan belajar yang terbatas, peningkatan beban kerja, atau jalur pengembangan karier yang belum sepenuhnya jelas.

Ia kemudian mulai bertanya, “Apa jalan lain yang masih dapat saya tempuh?”

Ia mencari mentor, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan atasan, atau belajar dari rekan kerja yang lebih berpengalaman. Dalam Hope Theory Snyder, kemampuan menemukan berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut disebut pathways.

Setelah itu muncul pertanyaan berikutnya: “Apakah saya masih mau berusaha untuk mencapainya?”

Ketika seseorang masih memiliki energi, motivasi, dan keyakinan untuk melanjutkan usahanya, hal tersebut disebut agency.

Tujuan, kemampuan menemukan jalan, serta dorongan untuk terus bergerak merupakan inti dari Hope Theory.

IKLAN

Di titik itulah hope menjadi sesuatu yang nyata dalam kehidupan kerja.

Bukan Sekadar Mempertahankan Karyawan

Rumah sakit sering membahas berbagai strategi untuk mempertahankan tenaga kerja, meningkatkan kepuasan kerja, serta menurunkan tingkat turnover.

Semua hal tersebut penting.

Namun, ada pertanyaan yang mungkin lebih mendasar:

Apakah karyawan masih dapat melihat masa depan mereka di dalam organisasi ini?

Karyawan yang mampu melihat masa depan akan lebih mudah menginvestasikan waktu, tenaga, dan kemampuannya pada pekerjaan yang dijalani saat ini.

Membangun hope bukan berarti menjanjikan bahwa seluruh masalah akan hilang. Organisasi juga tidak mungkin menjamin bahwa setiap harapan karyawan akan selalu terpenuhi.

Membangun hope berarti membantu seseorang melihat tujuan, menemukan jalan yang mungkin ditempuh, dan memiliki alasan untuk terus bergerak.

Dalam proses inilah peran pimpinan, mentor, dan rekan kerja menjadi penting.

Generasi Z Tidak Selalu Membutuhkan Jawaban Instan

Generasi muda sering dianggap sebagai generasi yang menginginkan segala sesuatu secara cepat.

Padahal, yang mereka butuhkan tidak selalu jawaban instan.

Terkadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan, ruang untuk mencoba, kesempatan untuk belajar dari kesalahan, dan keyakinan bahwa ketika satu jalan tertutup, masih ada kemungkinan jalan lain yang dapat ditempuh.

Dalam bahasa Snyder, kemampuan melihat alternatif jalan tersebut merupakan bagian dari pathways thinking.

Lingkungan kerja yang memberi kesempatan kepada pekerja muda untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dapat membantu mereka mempertahankan harapan terhadap masa depan.

Menjaga Harapan Generasi Z

Membangun hope bukan berarti menciptakan lingkungan kerja tanpa masalah.

Sebaliknya, hope tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan seseorang menghadapi masalah tanpa kehilangan pandangan terhadap masa depannya.

Ada beberapa hal yang dapat menjadi perhatian organisasi.

Pertama, memberikan arah yang jelas agar karyawan memahami kontribusi pekerjaannya terhadap tujuan organisasi dan pelayanan kepada pasien.

Kedua, membuka kesempatan belajar melalui pelatihan, mentoring, pengembangan kompetensi, dan jalur pengembangan karier.

Ketiga, membangun hubungan kerja yang manusiawi. Lingkungan yang memungkinkan seseorang didengar, dihargai, dan diberikan ruang untuk berkembang dapat menjadi fondasi penting bagi munculnya harapan.

Keempat, menjaga agar makna pelayanan hadir dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya tertulis di dalam dokumen organisasi atau menjadi sebuah slogan.

Kelima, mendengarkan suara generasi muda. Masa depan mereka di dalam organisasi sulit dibangun tanpa memahami bagaimana mereka memandang pekerjaan, perkembangan karier, dan kehidupan yang ingin mereka jalani.

Pada Akhirnya, Hope Adalah tentang Masa Depan

Generasi Z bukan sekadar mencari pekerjaan. Mereka juga mencari tempat untuk membangun masa depan.

Masa depan tersebut membutuhkan lebih dari kompetensi. Mereka membutuhkan tujuan, jalan untuk mencapai tujuan itu, serta alasan untuk terus melangkah.

Bagi RS Imanuel Way Halim, hope dapat menjadi ruang perjumpaan antara profesionalisme dan pelayanan, antara karier dan panggilan, serta antara kepentingan individu dengan tujuan organisasi.

Mungkin, pertanyaan terbesar bagi sebuah organisasi bukanlah, “Bagaimana membuat karyawan bertahan?”

Pertanyaan yang lebih mendalam adalah, “Apa yang membuat mereka masih ingin berjalan bersama kita menuju masa depan?”

Sebab ketika seseorang masih mampu melihat masa depan dan menemukan jalan untuk mencapainya, di sanalah hope hidup.

Dan mungkin, rumah sakit bukan hanya menjadi tempat untuk merawat kehidupan, tetapi juga tempat di mana harapan manusia—baik pasien maupun mereka yang bekerja di dalamnya—dapat terus dipelihara.

Referensi

Snyder, C. R., Harris, C., Anderson, J. R., Holleran, S. A., Irving, L. M., Sigmon, S. T., Yoshinobu, L., Gibb, J., Langelle, C., & Harney, P. (1991). The will and the ways: Development and validation of an individual-differences measure of hope. Journal of Personality and Social Psychology, 60(4), 570–585.

Snyder, C. R. (1995). Conceptualizing, measuring, and nurturing hope. Journal of Counseling & Development, 73(3), 355–360.

Hampton, D. C., & Welsh, D. (2019). Work values of Generation Z nurses. Journal of Nursing Administration, 49(10), 480–486.

Kanste, O., Ylisirniö, M., Hammarén, M., & Kuha, S. (2025). The perceptions of Generation Z professionals and students concerning health-care work: A scoping review. Nurse Education Today, 150, 106678.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-harapan-menjadi-kekuatan-memaknai-hope-generasi-z-di-rumah-sakit-misi-kristen/97882/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 20.43 WITA

  • #Dunia Kerja
  • #Generasi Z
  • #Hope Theory
  • #Motivasi Karyawan
  • #Psikologi Kerja
  • #Rumah Sakit
  • #pengembangan SDM

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Strategi Mengatasi Mismatch Pengelolaan Aset untuk Menjaga Stabilitas Keuangan

Kurikulum yang Tak Tertulis di Pesantren: Antara Keteladanan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak

Etika Komunikasi Publik dan Integritas Bangsa: Catatan Kritis Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Urgensi Literasi Digital bagi Generasi Z

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

“In This Economy”: Mampukah Gen Z Menemukan Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian?

Bayar Jasa Dokter Kini Lebih Praktis, Pasien Bisa Pakai QRIS BRI

Pemanfaatan Anyaman Pandan Sebagai Media Pembelajaran Matematika Berbasis Kearifan Lokal Aceh Timur

Pegawai DLH Pamekasan Ikuti Pelatihan Pengambilan Sampel Air di PPSDM Migas

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.