Oleh: Tofan Arville Yunardo Sosakokone
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Soegijapranata
NIM: 25E020039
JurnalPost.com - Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, muncul satu pertanyaan penting: apa yang membuat seseorang tetap bertahan ketika pekerjaannya tidak selalu berjalan sesuai harapan?
Pertanyaan ini semakin relevan bagi Generasi Z, generasi yang kini mulai mengisi berbagai ruang kerja. Bagi mereka, pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan penghasilan, tetapi juga pengembangan diri dan pencarian makna.
Di lingkungan rumah sakit, pekerjaan bahkan melampaui rutinitas sehari-hari. Di dalamnya terdapat unsur pengabdian, tanggung jawab, dan pelayanan kepada sesama.
Lantas, apa yang membuat anak muda tetap memiliki harapan di tengah berbagai tantangan pekerjaan, terutama di RS Imanuel Way Halim Bandar Lampung?
Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam sebuah konsep sederhana, tetapi kuat: hope atau harapan.
Hope Bukan Sekadar “Berharap”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata harapan dalam pengertian sederhana, misalnya, “Saya berharap karier saya akan berjalan baik.”
Namun, psikolog Charles R. Snyder melihat hope secara lebih mendalam.
Dalam Hope Theory, Snyder menjelaskan bahwa hope bukan sekadar keinginan agar sesuatu yang baik terjadi. Hope berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memiliki tujuan, menemukan berbagai jalan untuk mencapai tujuan tersebut, dan mempertahankan dorongan untuk terus bergerak ke arahnya.
Orang yang memiliki hope bukan berarti tidak menghadapi masalah.
Seseorang mungkin sedang bergumul dengan pekerjaan, gagal memperoleh promosi, menghadapi beban kerja yang berat, atau merasakan kelelahan. Namun, ia masih mampu mengatakan kepada dirinya sendiri, “Saya mungkin belum tahu caranya, tetapi saya masih bisa mencari jalan.”
Ia mungkin gagal memperoleh kesempatan yang diinginkan, tetapi tetap belajar. Ia mungkin merasa lelah, tetapi masih memiliki alasan untuk melanjutkan.
Dengan demikian, hope bukan berarti hidup tanpa kesulitan. Hope adalah kemampuan untuk melihat bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan.
Generasi Z dan Pencarian Makna
Generasi Z memasuki dunia kerja ketika teknologi berkembang sangat cepat, tuntutan kompetensi terus meningkat, dan batas antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan semakin cair.
Di lingkungan rumah sakit, tantangannya bahkan lebih kompleks. Ada tuntutan menghadapi pasien dan keluarga, kondisi darurat, pekerjaan administratif, pencapaian standar mutu, hingga dinamika organisasi.
Dalam situasi seperti ini, pekerja muda membutuhkan lebih dari sekadar instruksi mengenai apa yang harus mereka kerjakan.
Mereka juga membutuhkan jawaban atas pertanyaan: “Mengapa saya melakukan pekerjaan ini?”
Ketika sebuah pekerjaan memiliki makna, pekerjaan tersebut tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kewajiban. Pekerjaan dapat menjadi bagian dari proses seseorang membangun identitas, mengembangkan kemampuan, dan memberi manfaat kepada orang lain.
Ketika Pekerjaan Menjadi Pelayanan
RS Imanuel Way Halim memiliki identitas sebagai rumah sakit dengan misi Kristen dan membawa moto “Mengasihi dan Melayani.”
Dalam perspektif tersebut, pasien tidak hanya dilihat sebagai “kasus” atau “nomor rekam medis”. Pasien adalah manusia yang memiliki keluarga, ketakutan, harapan, serta hak untuk diperlakukan secara bermartabat.
Namun, nilai organisasi tidak secara otomatis menjadi nilai pribadi seluruh karyawan.
Bagi seseorang, bekerja di rumah sakit dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk melayani. Bagi orang lain, pekerjaan tersebut merupakan kesempatan membantu pasien. Ada pula yang memandang rumah sakit sebagai tempat bertumbuh, mengembangkan kompetensi, membangun karier, sekaligus memberikan manfaat kepada sesama.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apa nilai yang dimiliki rumah sakit?”
Pertanyaan yang sama pentingnya adalah, “Bagaimana nilai tersebut dialami dan dimaknai oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya?”
Ketika Hope Bertemu Budaya Organisasi
Bayangkan seorang karyawan muda yang memiliki cita-cita menjadi tenaga profesional yang kompeten.
Cita-cita tersebut merupakan goal atau tujuan.
Dalam perjalanannya, ia mungkin menghadapi berbagai hambatan, seperti kesempatan belajar yang terbatas, peningkatan beban kerja, atau jalur pengembangan karier yang belum sepenuhnya jelas.
Ia kemudian mulai bertanya, “Apa jalan lain yang masih dapat saya tempuh?”
Ia mencari mentor, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan atasan, atau belajar dari rekan kerja yang lebih berpengalaman. Dalam Hope Theory Snyder, kemampuan menemukan berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut disebut pathways.
Setelah itu muncul pertanyaan berikutnya: “Apakah saya masih mau berusaha untuk mencapainya?”
Ketika seseorang masih memiliki energi, motivasi, dan keyakinan untuk melanjutkan usahanya, hal tersebut disebut agency.
Tujuan, kemampuan menemukan jalan, serta dorongan untuk terus bergerak merupakan inti dari Hope Theory.
Di titik itulah hope menjadi sesuatu yang nyata dalam kehidupan kerja.
Bukan Sekadar Mempertahankan Karyawan
Rumah sakit sering membahas berbagai strategi untuk mempertahankan tenaga kerja, meningkatkan kepuasan kerja, serta menurunkan tingkat turnover.
Semua hal tersebut penting.
Namun, ada pertanyaan yang mungkin lebih mendasar:
Apakah karyawan masih dapat melihat masa depan mereka di dalam organisasi ini?
Karyawan yang mampu melihat masa depan akan lebih mudah menginvestasikan waktu, tenaga, dan kemampuannya pada pekerjaan yang dijalani saat ini.
Membangun hope bukan berarti menjanjikan bahwa seluruh masalah akan hilang. Organisasi juga tidak mungkin menjamin bahwa setiap harapan karyawan akan selalu terpenuhi.
Membangun hope berarti membantu seseorang melihat tujuan, menemukan jalan yang mungkin ditempuh, dan memiliki alasan untuk terus bergerak.
Dalam proses inilah peran pimpinan, mentor, dan rekan kerja menjadi penting.
Generasi Z Tidak Selalu Membutuhkan Jawaban Instan
Generasi muda sering dianggap sebagai generasi yang menginginkan segala sesuatu secara cepat.
Padahal, yang mereka butuhkan tidak selalu jawaban instan.
Terkadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan, ruang untuk mencoba, kesempatan untuk belajar dari kesalahan, dan keyakinan bahwa ketika satu jalan tertutup, masih ada kemungkinan jalan lain yang dapat ditempuh.
Dalam bahasa Snyder, kemampuan melihat alternatif jalan tersebut merupakan bagian dari pathways thinking.
Lingkungan kerja yang memberi kesempatan kepada pekerja muda untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dapat membantu mereka mempertahankan harapan terhadap masa depan.
Menjaga Harapan Generasi Z
Membangun hope bukan berarti menciptakan lingkungan kerja tanpa masalah.
Sebaliknya, hope tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan seseorang menghadapi masalah tanpa kehilangan pandangan terhadap masa depannya.
Ada beberapa hal yang dapat menjadi perhatian organisasi.
Pertama, memberikan arah yang jelas agar karyawan memahami kontribusi pekerjaannya terhadap tujuan organisasi dan pelayanan kepada pasien.
Kedua, membuka kesempatan belajar melalui pelatihan, mentoring, pengembangan kompetensi, dan jalur pengembangan karier.
Ketiga, membangun hubungan kerja yang manusiawi. Lingkungan yang memungkinkan seseorang didengar, dihargai, dan diberikan ruang untuk berkembang dapat menjadi fondasi penting bagi munculnya harapan.
Keempat, menjaga agar makna pelayanan hadir dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya tertulis di dalam dokumen organisasi atau menjadi sebuah slogan.
Kelima, mendengarkan suara generasi muda. Masa depan mereka di dalam organisasi sulit dibangun tanpa memahami bagaimana mereka memandang pekerjaan, perkembangan karier, dan kehidupan yang ingin mereka jalani.
Pada Akhirnya, Hope Adalah tentang Masa Depan
Generasi Z bukan sekadar mencari pekerjaan. Mereka juga mencari tempat untuk membangun masa depan.
Masa depan tersebut membutuhkan lebih dari kompetensi. Mereka membutuhkan tujuan, jalan untuk mencapai tujuan itu, serta alasan untuk terus melangkah.
Bagi RS Imanuel Way Halim, hope dapat menjadi ruang perjumpaan antara profesionalisme dan pelayanan, antara karier dan panggilan, serta antara kepentingan individu dengan tujuan organisasi.
Mungkin, pertanyaan terbesar bagi sebuah organisasi bukanlah, “Bagaimana membuat karyawan bertahan?”
Pertanyaan yang lebih mendalam adalah, “Apa yang membuat mereka masih ingin berjalan bersama kita menuju masa depan?”
Sebab ketika seseorang masih mampu melihat masa depan dan menemukan jalan untuk mencapainya, di sanalah hope hidup.
Dan mungkin, rumah sakit bukan hanya menjadi tempat untuk merawat kehidupan, tetapi juga tempat di mana harapan manusia—baik pasien maupun mereka yang bekerja di dalamnya—dapat terus dipelihara.
Referensi
Snyder, C. R., Harris, C., Anderson, J. R., Holleran, S. A., Irving, L. M., Sigmon, S. T., Yoshinobu, L., Gibb, J., Langelle, C., & Harney, P. (1991). The will and the ways: Development and validation of an individual-differences measure of hope. Journal of Personality and Social Psychology, 60(4), 570–585.
Snyder, C. R. (1995). Conceptualizing, measuring, and nurturing hope. Journal of Counseling & Development, 73(3), 355–360.
Hampton, D. C., & Welsh, D. (2019). Work values of Generation Z nurses. Journal of Nursing Administration, 49(10), 480–486.
Kanste, O., Ylisirniö, M., Hammarén, M., & Kuha, S. (2025). The perceptions of Generation Z professionals and students concerning health-care work: A scoping review. Nurse Education Today, 150, 106678.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda