Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Menolak Punah di FYP: Ketika Humas Budaya Kalah Siasat dari Algoritma Media Sosial

Menolak Punah di FYP: Ketika Humas Budaya Kalah Siasat dari Algoritma Media Sosial

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
05 Juli 2026, 13.33 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Humas Budaya Kalah Siasat

JurnalPost.com - Ada ironi yang jamak kita saksikan di layar gawai hari ini. Sebuah tren tarian dari luar negeri bisa mengumpulkan jutaan penonton dalam hitungan jam, sementara video dokumentasi festival seni tradisi yang dipersiapkan berbulan-bulan berakhir sepi peminat, terpojok di sudut linimasa. Kita sering tergesa-gesa mengambil kesimpulan: generasi muda telah amnesia terhadap akarnya sendiri. Namun, benarkah demikian? Atau jangan-jangan, justru cara kita mengomunikasikan budaya itulah yang sudah kedaluwarsa?

Angka tidak berbohong. Data Statista per Juli 2024 mencatat Indonesia sebagai negara dengan pengguna TikTok terbesar di dunia, melampaui 157,6 juta pengguna. Panggung digital ini seharusnya menjadi peluang emas bagi pelestari budaya. Namun, kenyataannya, meskipun identitas budaya Indonesia masih terlihat di media sosial Gen Z seperti konten batik, tradisi Lebaran, atau peringatan hari nasional, generasi ini belum banyak mengekspresikan kekayaan budaya lokal dalam konten mereka secara aktif dan konsisten. Ada jurang lebar antara potensi platform dan realisasi komunikasi budaya di dalamnya.

IKLAN

Terjebak Nostalgia dan Komunikasi Menara Gading

Focused Study Break on Social Media
Baca Juga

Scrolling Boleh, Pecah Belah Jangan: Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Ramainya Media Sosial

Kelemahan terbesar kampanye humas budaya selama ini adalah kecenderungan memosisikan tradisi di atas menara gading. Narasi yang dibangun kerap terlalu formal, penuh jargon instruktif, dan bernada meratap seolah audiens muda “wajib” peduli hanya karena itu adalah warisan leluhur. Model komunikasi linear seperti ini jelas bukan lagi bahasa yang relevan di era media baru.

Penelitian tentang perilaku media sosial Gen Z Indonesia menunjukkan bahwa generasi ini memiliki kecenderungan kuat untuk lebih merespons konten dari figur yang sebaya dan relevan dengan minat serta aktivitas mereka. Mereka bukan konsumen pasif yang bisa diceramahi, mereka adalah individu yang digerakkan oleh koneksi emosional, estetika, dan keterlibatan. Ketika humas budaya hanya memindahkan teks brosur fisik ke dalam caption Instagram tanpa kurasi visual yang matang, mereka menyerahkan panggung perhatian publik secara sukarela kepada konten asing yang jauh lebih lihai bersiasat dengan algoritma.

Mendisrupsi Narasi: Mengemas Tradisi Menjadi Ikon Pop Baru

Efektivitas komunikasi di era digital tidak lagi diukur dari seberapa sering sebuah instansi merilis siaran pers. Indikatornya adalah engagement: seberapa jauh narasi yang dilempar mampu memicu percakapan organik. Dan bukti empiris sudah ada di depan mata. Kasus Pacu Jalur dari Riau membuktikan hal ini: tradisi lomba perahu yang sebelumnya hanya dikenal secara lokal berhasil meledak di TikTok dan mendapat perhatian luas, bahkan hingga ke tingkat internasional, dengan banyak pengguna mancanegara yang ikut membagikan ulang kontennya. Ini bukan keajaiban, ini adalah hasil dari pengemasan konten yang tepat sasaran.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

IKLAN

Studi terhadap konten warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) di TikTok menunjukkan bahwa para kreator yang berhasil mendapat lebih dari 10.000 likes secara konsisten menerapkan strategi spesifik: aktif berpartisipasi dalam tantangan tren platform, menyesuaikan ritme dan gaya penyuntingan video dengan kebiasaan menonton pengguna, serta mengemas konten tradisional dalam format yang ringkas dan sinematik. Filosofi mendalam sebuah alat musik tradisional atau seni pertunjukan, misalnya, bisa dibongkar menjadi micro documentary berdurasi 60 detik yang jauh lebih menggugah rasa penasaran dibandingkan pertunjukan penuh dua jam yang melelahkan attention span anak muda.

Langkah berikutnya adalah siasat kolaborasi. Praktisi PR budaya harus berhenti berbicara sendiri di dalam gelembung mereka. Kreator seperti Kiki Nasution lewat akun Sabda Bumi telah membuktikan bahwa pendekatan dokumenter personal yang menggabungkan foto, potongan podcast, dan video dapat membawa kehidupan masyarakat tradisional dari suku Mentawai, Baduy, hingga Dayak Iban kepada audiens yang lebih luas dengan cara yang terasa autentik, bukan dibuat-buat. Ketika seorang kreator fashion memadukan pakaian tradisional dengan tren kekinian, pesan budaya tersampaikan dengan cara yang lebih efektif dan menarik karena ia berbicara dalam bahasa yang sama dengan audiensnya.

Mengubah Klik Menjadi Gerakan Nyata

Pada akhirnya, keberhasilan strategi PR budaya terlihat ketika saluran digital mampu menggerakkan jempol di layar menjadi langkah kaki di dunia nyata. Penelitian tentang promosi digital warisan budaya musik menunjukkan bahwa pengguna secara umum memberikan evaluasi positif terhadap kanal promosi digital, dan platform seperti TikTok terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran serta keterlibatan audiens terhadap warisan budaya. Artinya, ketika kontennya tepat, ketertarikan itu nyata, bukan sekadar angka di atas kertas.

Filtered Beauty Standards and Self Comparison
Baca Juga

Shade 00 dan Ilusi “Glow Up”: Ketika Algoritma TikTok Menjadi Hakim atas Tubuh Perempuan

Menyelamatkan budaya dari kepunahan di era digital bukan tentang menolak modernisasi. Sebaliknya, digitalisasi adalah panggung terbesar dalam sejarah peradaban untuk memperkenalkan kekayaan tradisi secara inklusif. Tugas besar Public Relations adalah menjadi jembatan penerjemah zaman, memastikan pesan luhur dari masa lalu tidak lenyap ditelan bisingnya jagat maya, melainkan menjelma menjadi tren baru yang justru dinantikan di halaman FYP. Dengan pendekatan komunikasi yang kreatif, adaptif, dan benar-benar memahami cara kerja algoritma, krisis eksistensi budaya ini bukan hanya bisa ditahan, ia bisa dibalik sepenuhnya.

Penulis: Abigail Bintang Yunari Mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Daftar Referensi

● Amelia, dkk. (2024). Pemanfaatan media sosial untuk peningkatan literasi budaya pada generasi muda. Jurnal Komunikasi Digital. ● ANTARA News. (2024, Agustus). Kisah para kreator konten kenalkan budaya Indonesia di platform TikTok. antaranews.com ● Campaign Indonesia. (2025). Di balik paradoks TikTok Indonesia: Jumlah pengguna terbesar, penetrasi global terbatas. campaignindonesia.id ● DataReportal. (2024). Digital 2024: Indonesia. datareportal.com ● Erwin et al. (2023). The influence of social media influencers on Generation Z consumer behavior in Indonesia. ResearchGate. ● Tirawati. (2023). Indonesian cultural identity in social media networks. Journal of Media Studies. ● Wang, et al. (2025). Exploring the promotion of musical intangible cultural heritage under TikTok short videos. Scientific Reports, Nature. ● Zhou, R. (2024). Understanding the impact of TikTok’s recommendation algorithm on user engagement. International Journal of Computer Science and Information Technology, 3(2).

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/menolak-punah-di-fyp-ketika-humas-budaya-kalah-siasat-dari-algoritma-media-sosial/95454/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.20 WITA

  • #FYP
  • #Universitas Padjadjaran
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Pilihan Editor

  1. 1 Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama
  2. 2

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. 3

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

  4. 4

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  5. 5

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.