Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Aktivisme Digital atau Performatif? Menelaah Slacktivisme dalam Ruang Media Sosial

Aktivisme Digital atau Performatif? Menelaah Slacktivisme dalam Ruang Media Sosial

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
19 Januari 2026, 20.18 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Media Sosial

Penulis: Adhara Suwanta Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur

JurnalPost.com - Teknologi hadir untuk mempermudah hidup dan pekerjaan manusia, itu fakta. Namun kemudahan yang ditawarkan teknologi juga membawa dampak buruk yang laten pada banyak aspek kehidupan, salah satunya keberlanjutan aktivisme di era digital. Dahulu aktivis dikenal karena aksi dan orasinya saat turun ke jalan menyuarakan protes terhadap ketimpangan dan menuntut perubahan. Tetapi seiring perubahan teknologi digital, aktivisme tersebut berubah rupanya dan melebur ke dalam aktivitas media sosial. Berbagai kritik dan aksi yang dilakukan secara online ini mengarah pada satu pertanyaan: sejauh mana aksi digital tersebut berdampak di dunia nyata dan mengubah realitas?

IKLAN

Aktivisme digital dimaknai sebagai penggunaan platform digital seperti media sosial, situs web, dan teknologi jaringan lain untuk memperjuangkan perubahan sosial, politik, budaya, atau lingkungan (Glenn, 2015). Aktivisme yang dulunya dilakukan secara langsung menghadap pihak yang berkepentingan, sekarang dapat dilakukan secara online lewat media sosial maupun platform digital lainnya. Konsep aktivisme digital ini sangatlah luas dan kabur sehingga diperlukan konteks lebih lanjut untuk memaknainya. Sehingga muncul sebuah istilah slacktivisme, yang merupakan leburan dari kata ‘slacking/malas’ dan aktivisme, jauh di tahun 2009 oleh Morozov. Slacktivisme adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan aktivisme digital yang menyenangkan hati atau memberikan perasaan lega namun tidak memiliki dampak politik atau sosial sama sekali (Morozov, 2009). Banyak permasalahan sosial yang hanya viral di media sosial namun realitanya tidak ada perubahan, isu yang viral sesaat langsung mereda begitu perhatian publik teralihkan oleh hal lain.

Focused Study Break on Social Media
Baca Juga

Scrolling Boleh, Pecah Belah Jangan: Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Ramainya Media Sosial

IKLAN

Ilusi partisipatif dan perasaan lega yang dimunculkan oleh slacktivisme ini membuat banyak orang berpikir mereka telah berkontribusi terhadap perubahan sosial dengan like, share, dan repost. Bentuk-bentuk aktivisme digital yang kerap mengarah ke slacktivism seperti clicktivism, hashtag activism atau menaikkan tagar isu, mengisi petisi online, juga diramaikan oleh para pengguna yang berbondong-bondong mengganti foto profil mereka di media sosial agar sesuai dengan isu yang diangkat. Sifat platform media sosial yang simpel dan praktis membuai publik dengan kemudahannya sehingga muncul ilusi partisipatif dan kontribusi minimalis dalam aktivisme digital. Kampanye mudah viral namun juga mudah bergeser sehingga hanya menjadi tren sesaat dan bukan sebagai perjuangan jangka panjang. Performative activism dilakukan agar individu terlihat tahu dan peduli dibandingkan dengan memberikan dampak nyata (Glenn, 2015; Schumann, 2015). Publik merasa sudah ‘turut serta berjuang’ sehingga motivasi aksi offline menurun dan tidak ada tokoh utama yang mengakomodir jalannya aksi atau kampanye.

Hal tersebut lebih tepat disebut ekspresi online daripada aktivisme digital, mengingat minimnya dampak yang ditimbulkan di dunia nyata. Ketika ekspresi ini muncul dan dilakukan publik, hal tersebut sudah mengikis esensi dari inti aktivisme itu sendiri. Aktivisme memiliki arti jauh lebih besar dari pada hanya sekedar mengganti foto profil, menaikkan tagar, klik like dan share. Aktivisme berarti berpartisipasi secara aktif dalam perubahan sosial, politik, budaya, dan mengikis ketimpangan yang ada di masyarakat.

Kemudahan teknologi dalam media sosial dan jejaring internet sesungguhnya dapat menjadi bara aktivisme, tergantung pada bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya. Hal ini juga menjadi tantangan bagi generasi muda yang lahir dan besar dalam ruang digital dan erat dengan kemajuan teknologi. Setiap klik yang kita lakukan pastikan telah meyakinkan diri bahwa akan ada langkah nyata setelahnya. Jadikan aktivisme digital sebagai gerbang langkah perjuangan dengan perubahan yang riil, juga sebagai tanggung jawab untuk keluar dari ilusi perjuangan instan.

Referensi: Glenn, Cerise L. (2015). Activism or “Slacktivism?”: Digital Media and Organizing for Social Change. Communication Teacher, 29:2, 81-85, DOI:10.1080/17404622.2014.1003310 Morozov, E. (2009, May 19). The brave new world of slacktivism [Weblog post]. Retrieved from https://foreignpolicy.com/2009/05/19/the-brave-new-world-of-slacktivism/ Schumann, S. and Oliver, O. (2015). Substitute or stepping stone? Assessing the impact of low-threshold online collective actions on offline participation. European Journal of Social Psychology, 45, 308-322. DOI: 10.1002/ejsp.2084

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/aktivisme-digital-atau-performatif-menelaah-slacktivisme-dalam-ruang-media-sosial/90092/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.22 WITA

  • #Aktivisme Digital
  • #Opini Dosen
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai
  2. 2

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  3. 3

    DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

  4. 4

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  5. 5

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.