Penulis: Adhara Suwanta Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur
JurnalPost.com - Teknologi hadir untuk mempermudah hidup dan pekerjaan manusia, itu fakta. Namun kemudahan yang ditawarkan teknologi juga membawa dampak buruk yang laten pada banyak aspek kehidupan, salah satunya keberlanjutan aktivisme di era digital. Dahulu aktivis dikenal karena aksi dan orasinya saat turun ke jalan menyuarakan protes terhadap ketimpangan dan menuntut perubahan. Tetapi seiring perubahan teknologi digital, aktivisme tersebut berubah rupanya dan melebur ke dalam aktivitas media sosial. Berbagai kritik dan aksi yang dilakukan secara online ini mengarah pada satu pertanyaan: sejauh mana aksi digital tersebut berdampak di dunia nyata dan mengubah realitas?
Aktivisme digital dimaknai sebagai penggunaan platform digital seperti media sosial, situs web, dan teknologi jaringan lain untuk memperjuangkan perubahan sosial, politik, budaya, atau lingkungan (Glenn, 2015). Aktivisme yang dulunya dilakukan secara langsung menghadap pihak yang berkepentingan, sekarang dapat dilakukan secara online lewat media sosial maupun platform digital lainnya. Konsep aktivisme digital ini sangatlah luas dan kabur sehingga diperlukan konteks lebih lanjut untuk memaknainya. Sehingga muncul sebuah istilah slacktivisme, yang merupakan leburan dari kata ‘slacking/malas’ dan aktivisme, jauh di tahun 2009 oleh Morozov. Slacktivisme adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan aktivisme digital yang menyenangkan hati atau memberikan perasaan lega namun tidak memiliki dampak politik atau sosial sama sekali (Morozov, 2009). Banyak permasalahan sosial yang hanya viral di media sosial namun realitanya tidak ada perubahan, isu yang viral sesaat langsung mereda begitu perhatian publik teralihkan oleh hal lain.
Ilusi partisipatif dan perasaan lega yang dimunculkan oleh slacktivisme ini membuat banyak orang berpikir mereka telah berkontribusi terhadap perubahan sosial dengan like, share, dan repost. Bentuk-bentuk aktivisme digital yang kerap mengarah ke slacktivism seperti clicktivism, hashtag activism atau menaikkan tagar isu, mengisi petisi online, juga diramaikan oleh para pengguna yang berbondong-bondong mengganti foto profil mereka di media sosial agar sesuai dengan isu yang diangkat. Sifat platform media sosial yang simpel dan praktis membuai publik dengan kemudahannya sehingga muncul ilusi partisipatif dan kontribusi minimalis dalam aktivisme digital. Kampanye mudah viral namun juga mudah bergeser sehingga hanya menjadi tren sesaat dan bukan sebagai perjuangan jangka panjang. Performative activism dilakukan agar individu terlihat tahu dan peduli dibandingkan dengan memberikan dampak nyata (Glenn, 2015; Schumann, 2015). Publik merasa sudah ‘turut serta berjuang’ sehingga motivasi aksi offline menurun dan tidak ada tokoh utama yang mengakomodir jalannya aksi atau kampanye.
Hal tersebut lebih tepat disebut ekspresi online daripada aktivisme digital, mengingat minimnya dampak yang ditimbulkan di dunia nyata. Ketika ekspresi ini muncul dan dilakukan publik, hal tersebut sudah mengikis esensi dari inti aktivisme itu sendiri. Aktivisme memiliki arti jauh lebih besar dari pada hanya sekedar mengganti foto profil, menaikkan tagar, klik like dan share. Aktivisme berarti berpartisipasi secara aktif dalam perubahan sosial, politik, budaya, dan mengikis ketimpangan yang ada di masyarakat.
Kemudahan teknologi dalam media sosial dan jejaring internet sesungguhnya dapat menjadi bara aktivisme, tergantung pada bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya. Hal ini juga menjadi tantangan bagi generasi muda yang lahir dan besar dalam ruang digital dan erat dengan kemajuan teknologi. Setiap klik yang kita lakukan pastikan telah meyakinkan diri bahwa akan ada langkah nyata setelahnya. Jadikan aktivisme digital sebagai gerbang langkah perjuangan dengan perubahan yang riil, juga sebagai tanggung jawab untuk keluar dari ilusi perjuangan instan.
Referensi: Glenn, Cerise L. (2015). Activism or “Slacktivism?”: Digital Media and Organizing for Social Change. Communication Teacher, 29:2, 81-85, DOI:10.1080/17404622.2014.1003310 Morozov, E. (2009, May 19). The brave new world of slacktivism [Weblog post]. Retrieved from https://foreignpolicy.com/2009/05/19/the-brave-new-world-of-slacktivism/ Schumann, S. and Oliver, O. (2015). Substitute or stepping stone? Assessing the impact of low-threshold online collective actions on offline participation. European Journal of Social Psychology, 45, 308-322. DOI: 10.1002/ejsp.2084
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda