- Pemisahan antara Muamalah dan Akidah: Dalam urusan sosial (muamalah), kita didorong untuk bekerja sama secara maksimal dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang agama. Namun, dalam urusan ibadah dan keyakinan, setiap individu memiliki hak sepenuhnya untuk memegang teguh ajaran agamanya masing-masing.
- Setuju dalam Perbedaan (Agree in Disagreement): Toleransi bukan berarti mengakui semua kebenaran agama itu sama, melainkan mengakui bahwa setiap pemeluk agama memiliki hak untuk meyakini kebenaran agamanya. Kita menghormati hak orang lain tanpa harus mengikuti keyakinan mereka.
- Dialog Berbasis Kesantunan: Ruang publik harus diisi dengan narasi yang menyejukkan. Menyampaikan kebenaran agama tidak perlu dilakukan dengan cara merendahkan simbol-simbol agama lain.
Moderasi Beragama di Ruang Publik: Merajut Harmoni Tanpa Mengorbankan Akidah
Oleh : Ilyas Rozak Hanafi, M.Pd.I
Dosen STAI Ma`arif Kalirejo Lampung Tengah Lampung
JurnalPost.com - Indonesia merupakan laboratorium sosial terbesar di dunia dalam hal keberagaman. Dengan ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, dan beragam keyakinan, menjaga stabilitas sosial bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan fundamental. Di tengah arus informasi yang kian deras, wacana moderasi beragama muncul sebagai jembatan untuk menjaga persatuan di ruang publik tanpa harus meluruhkan prinsip-prinsip teologis atau akidah yang diyakini setiap individu.
Memahami Esensi Moderasi
Secara etimologis, moderasi berarti "jalan tengah". Dalam konteks beragama, moderasi bukanlah upaya mendangkalkan ajaran agama atau mencampuradukkan ritual (sinkretisme). Moderasi beragama adalah sikap mental dan cara pandang dalam beragama yang moderat, yakni tidak ekstrem kiri (liberalisme radikal) dan tidak ekstrem kanan (fanatisme buta).
Di ruang publik, moderasi tecermin dalam sikap menghargai eksistensi orang lain, menerima perbedaan, dan bersedia bekerja sama demi kemaslahatan bersama. Hal ini menjadi krusial karena ruang publik adalah milik kolektif, tempat berbagai identitas bertemu dan berinteraksi.
Menjaga Akidah di Tengah Toleransi
Sering kali muncul kekhawatiran bahwa bersikap toleran berarti harus mengompromikan keyakinan dasar (akidah). Padahal, moderasi yang benar justru menuntut seseorang untuk menjadi penganut agama yang taat sekaligus warga negara yang baik. Berikut adalah beberapa prinsip agar harmoni tetap terjaga tanpa mengorbankan akidah:
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda