Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Featured
  3. Menjaga Asa di Balik Lembar Koran

Menjaga Asa di Balik Lembar Koran

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
05 Januari 2026, 14.14 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Menjaga Asa
(Potret Pak Catmoko saat menunggu kendaraan di tepi lampu merah)

Oleh: Erefinda Zalfa Aurella

JurnalPost.com - Setiap pagi, sekitar pukul enam, Pak Catmoko sudah bersiap meninggalkan rumahnya. Dengan bantuan ojek online, ia menuju perempatan Panggung Solo, tempat ia menghabiskan hari-harinya menjajakan koran. Di bawah terik matahari dan hiruk-pikuk lalu lintas, pria berusia di atas 50 tahun itu berdiri dengan tenang, menawarkan lembaran berita kepada siapa pun yang melintas. Pukul tiga sore, ia kembali pulang ke rumah dengan rute yang sama. Hari Minggu menjadi satu-satunya waktu istirahatnya.

IKLAN

Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, tersimpan perjalanan hidup panjang yang tidak mudah. Sejak kecil, Pak Catmoko hidup dengan keterbatasan fisik, cacat pada kaki dan pendengarannya. Namun kondisi tersebut tak pernah benar-benar menghentikannya untuk terus bekerja dan bertahan hidup secara mandiri.

Adinda Caesya Thalia
Baca Juga

Profil Adinda Caesya Thalia, Model Muda Pontianak dengan Deretan Prestasi Nasional dan Digital

Sebelum dikenal sebagai penjual koran, Pak Catmoko sempat mengalami kebingungan menentukan arah hidup. Ia pernah bekerja sebagai tukang pijat di RS Moewardi hingga pandemi Covid-19 datang. Situasi rumah sakit yang berubah drastis membuatnya kehilangan penghasilan. “Waktu itu bingung mau jualan apa,” ujarnya. Pada bulan Oktober dan November, ia mencoba berjualan kalender. Setelah pandemi mulai mereda, ia kembali menjadi tukang pijat. Hingga suatu hari, ia melihat seorang kawan berjualan koran. Dari situlah muncul ide baru. Ia memberanikan diri bertanya ke agen koran dan mendapat jawaban sederhana: boleh ikut jualan, tanpa syarat apa pun, kalau mau ambil tinggalkan KTP saja. Sejak saat itu, koran menjadi sumber penghidupan utamanya.

Perjalanan kerja Pak Catmoko sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum itu. hidup Pak Catmoko diwarnai dengan pengembaraan mencari pekerjaan. Ia sempat “kelayapan” ke berbagai daerah: tiga tahun di Palembang, tiga tahun di Kalimantan, hingga Sulawesi. Di Palembang, ia bekerja sebagai pengrajin kulit mutiara selama satu tahun. Di Kalimantan, ia bahkan sempat mengumpulkan dan membantu penyandang kusta. Perjalanan tersebut bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang kepedulian pada sesama yang sama-sama terpinggirkan.

Tahun 1992 hingga 1998, ia bekerja di keluarga Cendana, tepatnya di Cileungsi, di PT Kharisma Surya Lestari, perusahaan yang memproduksi perhiasan dari kulit kerang. Ia bekerja bersama istrinya. Saat perusahaan hampir ditutup, Pak Catmoko justru mengajukan usulan agar PT tersebut tetap berjalan dengan mempekerjakan penyandang disabilitas dan dikelola olehnya. Usulan itu diterima, dan perusahaan pun perlahan bangkit kembali.

Namun keputusan itu membawa konsekuensi. Ia dianggap sebagai pengkhianat oleh pihak keluarga Cendana. Bahkan ketika ditawari untuk menunaikan ibadah haji, Pak Catmoko menolaknya dengan jujur karena ia beragama Kristen. Keputusan itu membuat posisinya semakin sulit. Diskriminasi agama memaksanya mengganti identitas demi bisa bertahan. Pada akhirnya, ia memilih keluar dan kembali ke Solo.

Ai Nita Amelia
Baca Juga

Dari Mahasiswa hingga Duta Genre 2025, Ai Nita Amelia Dorong Remaja Lebih Percaya Diri

IKLAN

Koran (Potret Pak Catmoko dan tumpukan barang jualannya)

Selain koran, Pak Catmoko juga dikenal sebagai penjual kalender dan majalah Bobo. Ia memiliki langganan tetap di berbagai kantor di Wonogiri, Sragen, Ngawi, hingga Madiun. Meski penghasilannya tidak besar, ia memilih untuk tetap bekerja sendiri. Ia tidak ingin merepotkan keluarga, kakak, maupun adik-adiknya.

“Selagi kaki dan tangan aku masih sanggup, aku akan usaha sendiri,” katanya pelan namun tegas.

Kepada generasi muda, Pak Catmoko punya pesan sederhana namun bermakna: berusahalah mandiri. Ia mengaku pernah berada di titik paling bingung dalam hidup, tak tahu harus bekerja apa. Namun keberanian untuk “melompat” mencoba hal baru, dari tukang pijat ke penjual kalender lalu penjual koran, membuatnya bisa terus bertahan.

Warren Buffett
Baca Juga

Bukan Sekedar Investor, Warren Buffett Punya Mesin Uang Bernama Asuransi

Di tengah derasnya arus informasi digital dan menurunnya minat baca koran cetak, Pak Catmoko tetap setia pada pekerjaannya. Baginya, koran bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol kejujuran kerja dan pertemuan antarmanusia. Ia mengenal beberapa pembeli tetap yang setiap pagi menyapanya singkat, sekadar bertanya kabar atau mengeluhkan harga kebutuhan pokok. Interaksi kecil itu menjadi penyemangat tersendiri.

Pak Catmoko (Potret Pak Catmoko di tengah keramaian lalu lintas)

Meski usia tak lagi muda dan tubuh memiliki keterbatasan, Pak Catmoko tidak pernah mengeluh soal nasib. Baginya, bekerja adalah cara menjaga martabat diri. Ia percaya bahwa kelelahan karena bekerja jauh lebih terhormat daripada menyerah pada keadaan dan bergantung pada belas kasihan orang lain.

Di perempatan Panggung, Pak Catmoko mungkin hanya terlihat sebagai penjual koran biasa. Namun bagi siapa pun yang mau berhenti sejenak dan mendengar ceritanya, ia adalah potret keteguhan, kemandirian, dan semangat hidup yang tak mudah dipatahkan oleh keterbatasan maupun keadaan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/menjaga-asa-di-balik-lembar-koran/89715/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.59 WITA

  • #Inspiratif
  • #Menjaga Asa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

Siapa MING VENUS? DJ Asal Surabaya yang Punya 101 Ribu Followers TikTok

Sempat Ragu Pilih Matematika atau Ekonomi, Amaia Berhasil Raih Medali Perunggu OSN 2026

Ronald Dewa Rilis 'Salah Mencinta', Kisah Cinta Tulus yang Berakhir Luka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Pilihan Editor

  1. 1 Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?
  2. 2

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  3. 3

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  4. 4

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

  5. 5

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.