Oleh: Erefinda Zalfa Aurella
JurnalPost.com - Setiap pagi, sekitar pukul enam, Pak Catmoko sudah bersiap meninggalkan rumahnya. Dengan bantuan ojek online, ia menuju perempatan Panggung Solo, tempat ia menghabiskan hari-harinya menjajakan koran. Di bawah terik matahari dan hiruk-pikuk lalu lintas, pria berusia di atas 50 tahun itu berdiri dengan tenang, menawarkan lembaran berita kepada siapa pun yang melintas. Pukul tiga sore, ia kembali pulang ke rumah dengan rute yang sama. Hari Minggu menjadi satu-satunya waktu istirahatnya.
Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, tersimpan perjalanan hidup panjang yang tidak mudah. Sejak kecil, Pak Catmoko hidup dengan keterbatasan fisik, cacat pada kaki dan pendengarannya. Namun kondisi tersebut tak pernah benar-benar menghentikannya untuk terus bekerja dan bertahan hidup secara mandiri.
Sebelum dikenal sebagai penjual koran, Pak Catmoko sempat mengalami kebingungan menentukan arah hidup. Ia pernah bekerja sebagai tukang pijat di RS Moewardi hingga pandemi Covid-19 datang. Situasi rumah sakit yang berubah drastis membuatnya kehilangan penghasilan. “Waktu itu bingung mau jualan apa,” ujarnya. Pada bulan Oktober dan November, ia mencoba berjualan kalender. Setelah pandemi mulai mereda, ia kembali menjadi tukang pijat. Hingga suatu hari, ia melihat seorang kawan berjualan koran. Dari situlah muncul ide baru. Ia memberanikan diri bertanya ke agen koran dan mendapat jawaban sederhana: boleh ikut jualan, tanpa syarat apa pun, kalau mau ambil tinggalkan KTP saja. Sejak saat itu, koran menjadi sumber penghidupan utamanya.
Perjalanan kerja Pak Catmoko sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum itu. hidup Pak Catmoko diwarnai dengan pengembaraan mencari pekerjaan. Ia sempat “kelayapan” ke berbagai daerah: tiga tahun di Palembang, tiga tahun di Kalimantan, hingga Sulawesi. Di Palembang, ia bekerja sebagai pengrajin kulit mutiara selama satu tahun. Di Kalimantan, ia bahkan sempat mengumpulkan dan membantu penyandang kusta. Perjalanan tersebut bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang kepedulian pada sesama yang sama-sama terpinggirkan.
Tahun 1992 hingga 1998, ia bekerja di keluarga Cendana, tepatnya di Cileungsi, di PT Kharisma Surya Lestari, perusahaan yang memproduksi perhiasan dari kulit kerang. Ia bekerja bersama istrinya. Saat perusahaan hampir ditutup, Pak Catmoko justru mengajukan usulan agar PT tersebut tetap berjalan dengan mempekerjakan penyandang disabilitas dan dikelola olehnya. Usulan itu diterima, dan perusahaan pun perlahan bangkit kembali.
Namun keputusan itu membawa konsekuensi. Ia dianggap sebagai pengkhianat oleh pihak keluarga Cendana. Bahkan ketika ditawari untuk menunaikan ibadah haji, Pak Catmoko menolaknya dengan jujur karena ia beragama Kristen. Keputusan itu membuat posisinya semakin sulit. Diskriminasi agama memaksanya mengganti identitas demi bisa bertahan. Pada akhirnya, ia memilih keluar dan kembali ke Solo.
(Potret Pak Catmoko dan tumpukan barang jualannya)
Selain koran, Pak Catmoko juga dikenal sebagai penjual kalender dan majalah Bobo. Ia memiliki langganan tetap di berbagai kantor di Wonogiri, Sragen, Ngawi, hingga Madiun. Meski penghasilannya tidak besar, ia memilih untuk tetap bekerja sendiri. Ia tidak ingin merepotkan keluarga, kakak, maupun adik-adiknya.
“Selagi kaki dan tangan aku masih sanggup, aku akan usaha sendiri,” katanya pelan namun tegas.
Kepada generasi muda, Pak Catmoko punya pesan sederhana namun bermakna: berusahalah mandiri. Ia mengaku pernah berada di titik paling bingung dalam hidup, tak tahu harus bekerja apa. Namun keberanian untuk “melompat” mencoba hal baru, dari tukang pijat ke penjual kalender lalu penjual koran, membuatnya bisa terus bertahan.
Di tengah derasnya arus informasi digital dan menurunnya minat baca koran cetak, Pak Catmoko tetap setia pada pekerjaannya. Baginya, koran bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol kejujuran kerja dan pertemuan antarmanusia. Ia mengenal beberapa pembeli tetap yang setiap pagi menyapanya singkat, sekadar bertanya kabar atau mengeluhkan harga kebutuhan pokok. Interaksi kecil itu menjadi penyemangat tersendiri.
(Potret Pak Catmoko di tengah keramaian lalu lintas)
Meski usia tak lagi muda dan tubuh memiliki keterbatasan, Pak Catmoko tidak pernah mengeluh soal nasib. Baginya, bekerja adalah cara menjaga martabat diri. Ia percaya bahwa kelelahan karena bekerja jauh lebih terhormat daripada menyerah pada keadaan dan bergantung pada belas kasihan orang lain.
Di perempatan Panggung, Pak Catmoko mungkin hanya terlihat sebagai penjual koran biasa. Namun bagi siapa pun yang mau berhenti sejenak dan mendengar ceritanya, ia adalah potret keteguhan, kemandirian, dan semangat hidup yang tak mudah dipatahkan oleh keterbatasan maupun keadaan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda