Penulis : Riri Angraini Mahasiswa Universitas Negeri Padang
JurnalPost.com - “Kalau sudah memulai sesuatu dan dikasih tanggung jawab, selesaikan sampai akhir,” ujar Noviar Qodri yang akrab disapa Qodri pada Senin, 15 Desember 2025. Pemuda asal Palembang berusia 21 tahun yang kini menjejaki takdirnya sebagai mahasiswa rantau jurusan Fisika di Universitas Negeri Padang (UNP).
Prinsip itu bukan sekadar kata bijak di telinganya, melainkan sumber hidup yang menopang di setiap langkah saat jarak dari rumah terasa jauh, dan dunia seperti mendesak lebih banyak dari dirinya yang masih muda.
Di usia yang baru dua puluh satu, ketika banyak anak muda masih mencari arah, Qodri telah lebih dulu ditempa oleh tanggung jawab. Ia belajar menyeimbangkan antara kuliah di jurusan Fisika yang kaya teori dan praktikum, pekerjaan malam di bawah temaram lampu angkringan, serta amanah organisasi yang menuntut tanggung jawab dan waktu.
Prinsip itu ia genggam seerat genggaman tangan yang menahan kantuk di dini hari, saat langkah kaki terasa berat menembus malam Kota Padang yang sunyi. Karena baginya, sejauh apa pun ia melangkah, tanggung jawab dan komitmen akan selalu menjadi arah pulang.
Antara Rumus, Kopi, dan Deadline Di siang hari, Qodri adalah mahasiswa Fisika, menyatu dengan angka, teori, dan praktikum. Tapi begitu senja mulai malu-malu menampakkan diri berganti cahaya rembulan, dunianya bergeser. Ia mengganti buku catatan dengan celemek, mengganti pena dengan sendok, mengganti ruang kelas dengan angkringan tempatnya bekerja.
“Kadang aku bekerja dari jam empat sore sampai jam empat pagi, kadang cuma sampai jam sembilan malam,” ujarnya pelan, seolah mengulang ritme hidupnya yang mengikis ruang istirahatnya. Tapi nada suaranya tenang, nyaris tanpa keluhan, dibaluti semangat perjuangan, dan tak lupa senyum ketulusan menghiasi wajah pemuda itu.
Kerja paruh waktu itu bukan sekadar mencari uang tambahan. Bagi Qodri, ini adalah pemanasan sebelum dunia kerja sebenarnya dimulai.
“Ujung-ujungnya kan kita semua mau kerja. Jadi, kenapa tidak mulai dari sekarang? Biar nanti tidak kaget.”
Ia belajar banyak hal di sana, dari cara melayani pelanggan, menghitung stok bahan, menghadapi pelanggan, berkutat dengan sendok beserta kuali sampai memahami arti kerja sama. Dunia fisika ia seimbangkan dengan dunia nyata yang menuntut aksi cepat dan improvisasi.
Mengatur Waktu, Mengatur Hidup Di antara jadwal kuliah dan kerja, Qodri masih menyelipkan satu peran lagi: menjadi desainer grafis di Lembaga Pers Mahasiswa SKK Ganto di UNP. Sebuah pilihan yang bagi banyak orang, mungkin terdengar mustahil. Tapi bagi Qodri, organisasi adalah ruang untuk tumbuh dan memberi.
“Kurangi main-mainnya aja. Tapi jangan lupa kasih self reward. Kalau dipaksa terus, kita malah stres,” tuturnya sambil tersenyum.
Bagi Qodri, membagi waktu bukan tentang seberapa sibuk kita, tapi seberapa jujur kita pada prioritas. Ia belajar memanfaatkan waktu di sela-sela kelas untuk mengerjakan desain, mencicil laporan praktikum sebelum shift malam, dan menyelesaikan pekerjaan organisasi dari ponselnya saat istirahat kerja.
Noviar Qodri sedang wawancara dengan narasumber di Gedung MKU Universitas Negeri Padang (UNP), pada Sabtu (5/11). f/Ist
Fleksibilitas menjadi kunci, tapi komunikasi adalah fondasinya bertahan.
“Yang penting dikomunikasikan. Di organisasi kalau lagi tidak bisa ikut liputan bilang. Karena tanggung jawab itu tidak bisa dijalani sendirian.”
Saat Ingin Menyerah Qodri tidak menyangkal bahwa pernah ada masa di mana tubuhnya ingin berhenti. “Minggu pertama kerja itu berat banget,” kenangnya. “Teman-teman pekerjaan yang lain malah keluar semua. Rasanya pengen nyerah juga.”
Namun, prinsip yang selalu ia bawa sejak kecil kembali menyalakan api dalam dirinya:
“Kalau sudah memulai sesuatu dan dikasih tanggung jawab, selesaikan sampai akhir.”
Prinsip itulah yang menahan langkahnya agar tak menyerah, baik di tempat kerja, di kampus, maupun di organisasi. Prinsip yang sama pula yang menjaga nyalanya tetap hidup saat dunia terasa terlalu cepat berputar dari biasanya.
Makna Berjuang “Berjuang itu pantang menyerah, dan tahu tujuan kita. Karena kalau kita tidak tahu tujuan, buat apa berjuang?” katanya, menatap jauh di ujung sana.
Baginya, setiap lelah yang ia rasakan kini bukan beban, tapi tanda bahwa ia sedang berjalan ke arah yang benar. Ia belajar berpikir kritis dari dunia kerja, belajar manajemen waktu dari kuliah, dan belajar tanggung jawab dari organisasi.
Momen yang paling ia syukuri bukan saat nilai A menghiasi KRS atau saat libur datang, tapi ketika ia bisa membeli sesuatu dari uang hasil jerih payahnya sendiri. “Gaji pertama itu berkesan sekali. Rasanya beda. Bangga aja gitu, akhirnya bisa pakai uang yang bener-bener hasil kerja sendiri,” ujarnya dengan senyum menghiasi wajahnya.
Tentang Cita-Cita dan Bunga Meski menempuh studi di Fisika, Qodri tak menambatkan mimpinya pada laboratorium. Ia justru ingin menapaki jalur yang lebih lembut: membuka bakery dan toko bunga.
“Suka aja lihat bunga. Tenang gitu. Kalau bakery itu impian aku sama kakakku, dia suka bikin kue, aku bantu jual. Nanti kalau keuangan udah stabil, pengen buka itu.”
Ada kesederhanaan sekaligus kedewasaan dalam mimpi itu bukan ambisi besar, tapi bentuk kecil dari kebahagiaan yang ingin ia rawat dan menikmati hidup.
untuk Mereka yang Masih Diam
Bagi mahasiswa yang memilih jalur “kuliah-pulang, kuliah-pulang”, Qodri pun berpesan
“Coba keluar, lihat dunia luar. Ikut organisasi, atau kerja part time. Karena lebih baik sibuk di luar dari pada capek tidak tahu mau ngapain.”
Kalimat itu mungkin terdengar ringan seperti angin yang berlalu, tapi datang dari seseorang yang sudah membuktikan arti bertahan, seorang perantau muda yang belajar bahwa hidup tak akan menunggu siapa pun yang berhenti di tengah jalan.
Akhir yang Belum Usai Hidup Qodri mungkin belum berakhir di halaman kampus UNP, di balik meja angkringan, atau di ruang redaksi tempat ia mendesain. Tapi satu hal pasti: Ia tidak akan berhenti di tengah jalan. Karena bagi Qodri, setiap perjalanan betapapun beratnya pantas diselesaikan sampai akhir. Dan di antara kelelahan dan kesibukan yang tak ada jeda, di sanalah Qodri menemukan dirinya: bukan hanya mahasiswa, bukan hanya pekerja, tapi seorang perantau muda berusia dua puluh satu tahun yang belajar memaknai arti tanggung jawab, kerja keras, dan komitmen hingga akhir.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda