JurnalPost.com - Menyusuri gelapnya malam dengan langkah tertatih, sesekali harus berhenti untuk duduk dan dan beristirahat sambil menghela napas sejenak. Di usianya yang hampir 85 tahun, Ne’mah, sapaan akrab wanita paruh baya tersebut, masih harus menyusuri jalanan dengan tangannya yang keriput menggenggam erat karung yang kosong, matanya yang mulai kabur menyisir jalan dengan penuh usaha. Semua ia lakukan untuk memenuhi kehidupannya, dengan wanita pada seusianya seharusnya menjadi masa istirahat, ia justru menjadi tulang punggung keluarga, mencari rezeki untuk memberi makan anak, menantu, dan cucu-cucunya.
Mengumpulkan botol-botol plastik dan kardus yang terserak sudah menjadi rutinitas setiap hari. Baginya, memulung bukanlah suatu pilihan, melainkan keharusan. Dengan tubuh yang kerap dilanda asam urat, yang tak lagi diobati, ia tetap harus menjalankan rutinitasnya. Keluar di malam hari—kadang sehabis isya atau kadang pukul 9 malam hingga dini hari—sambil ditemani adik kandungnya yang menjalankan rutinitas yang sama. Jika nasib baik, ia bisa mendapatkan beberapa barang yang dapat dijual—botol plastik bekas, kardus bekas dengan jumlah yang cukup banyak. Sepuluh kilogram barang tersebut bisa dihargai sebesar Rp2.000 hingga Rp5.000 ribu per kilogram nya, maka Rp20.000 sampai Rp50.000 ribu ia bawa pulang untuk menyambung hidupnya.
Namun, jika dunia sedang tidak berpihak dengannya, ia bisa memulung sampai matahari terbit, berharap ada hal yang didapatkan di setiap sudut jalan atau kedai. “Kalau belum dapet banyak, ya terus mulung sampe pagi. Mau bagaimana lagi, cuma ini yang bisa saya kerjakan,” ujarnya dengan suara lirih, penuh kepasrahan. Hidupnya yang penuh dengan kehilangan tidak membuatnya patah semangat. Ia ibu dari delapan anak, namun hanya satu yang tersisa. Tujuh anaknya telah pergi, meninggalkannya dalam kesendirian yang berat. Kini, ia tinggal bersama anaknya yang menganggur, menantu, dan tiga cucunya—yang paling kecil baru berusia 45 hari.
Mereka tinggal di rumah kecil dengan dua kamar itu, yang menurutnya—lebih mirip kandang ayam. Jika ia dapat kembali ke masa lalu, mungkin ada banyak hal yang ingin ia ubah. Salah satunya ialah mencegah saudaranya untuk menjual seluruh harta benda ibunya, yang katanya untuk kehidupan anaknya—yang menyebabkan ia menjadi seperti sekarang. “Sekarang saya diam saja terus terang—di tanah Jababeka” tuturnya dengan nada penuh penekanan.
Anaknya semula bekerja di salah satu rumah sakit besar di daerah Cikarang. Namun, ketika rumah sakit tersebut mengalami pergantian nama dan kepemilikan, ia terpaksa berhenti. Gajinya yang hanya tiga juta, ingin diturunkan dan harus dipotong oleh yayasan, untuk keperluan yang belum diketahui dengan jelas. Sejak saat itu, anaknya hanya bisa berharap mendapatkan pekerjaan baru. Beban hidup yang semula mereka tanggung bersama, kini sepenuhnya ada di pundak Ne’mah. Mungkin benar adanya—keindahan terbesar dari hati Tuhan adalah hati seorang ibu. Di sela-sela pekerjaannya, tubuhnya sering memberontak.
Ia sempat berhenti memulung selama dua bulan karena penyakit asam urat yang dideritanya. Bahkan, ia sempat dirawat selama empat hari di salah satu Rumah Sakit di Tegal Gede, Cikarang. Namun, karena ia buta huruf, membuatnya bahkan tak mengingat nama rumah sakit itu. Seolah sudah jatuh, tertimpa tangga, ujian hidup tidak berhenti disitu, takdir tampaknya terus mengujinya, ujian terasa makin berat.
Jalanan yang dahulu memberinya harapan, kini penuh persaingan. Banyak orang yang sudah memiliki pekerjaan, seperti buruh cuci, ojek, atau tukang parkir di siang hari, namun tetap memilih menjadi pemulung di malam hari. Dengan tubuh lemah dan penyakit yang ia derita, ia tak lagi bisa bersaing. “Capek, karung kosong, yang ada aja dikumpulin, dibawa pulang,” katanya lirih. Tatapannya kosong, seolah tak ada lagi harapan. Namun, ia tak pernah iri. Bahkan ketika orang-orang yang dulu mengolok-olok pekerjaannya sebagai pemulung kini ikut-ikutan, ia hanya bisa tersenyum. “Yang dulu ngusilin saya mulung, sekarang ikut-ikutan mulung. Hidup memang begitu,” ujarnya dengan nada bijak. Di sisi lain, hidup semakin sulit. Dulu, ia bisa mendapatkan 400 hingga 500 ribu rupiah dalam sehari. Kini, bahkan hanya untuk mendapatkan 100 ribu rupiah dalam tiga hari terasa sulit.
Di balik wajahnya yang penuh garis perjuangan, ada harapan kecil yang ia simpan. Ia tak pernah meminta banyak, hanya ingin segera sembuh dan bisa berjalan dengan nyaman tanpa rasa sakit. Jika Tuhan berkenan, ia ingin membuka usaha kecil-kecilan agar tidak perlu lagi memulung di malam hari sambil menahan sakit. Harapan itu tumbuh dari kenangan masa lalu saat ia pernah berdagang nasi di Pasar Induk Kramat Jati. Ia masih mengingat betul saat warung nasi yang ia kelola menggantikan mertuanya selalu ramai pembeli. “Makannya, sekarang lihat orang dagang rame, inget saya dulu,” kenangnya dengan senyum tipis di wajah keriputnya. Namun, semuanya berubah ketika suaminya membawa perempuan lain ke rumah mertuanya. Mereka akhirnya berpisah, dan sejak itu, ia berhenti berdagang. Kehidupannya menjadi penuh perjuangan.
Di jalanan malam yang sepi, langkah tertatihnya adalah bukti cinta seorang ibu yang tak mengenal usia, lelah, atau waktu. Cinta yang begitu besar terus menggerakkan tubuhnya untuk bekerja, meski menghadapi segala rintangan hidup. Kehidupan Ne’mah adalah kisah tentang keteguhan hati seorang ibu yang tak pernah menyerah—seorang wanita paruh baya yang menghabiskan sisa hidupnya bekerja demi keluarga. Meski hidupnya penuh kehilangan dan penderitaan, ia tetap berdiri tegak, demi masa depan cucu-cucunya yang menjadi harapan terakhirnya.
Oleh: Cut Asrita Chaerulyah Mahasiswa Ilmu Komunikasi, President University
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda