Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Featured
  3. Langkah di Ujung Harapan Seorang Ibu

Langkah di Ujung Harapan Seorang Ibu

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
07 Januari 2025, 00.35 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Harapan Seorang Ibu

JurnalPost.com - Menyusuri gelapnya malam dengan langkah tertatih, sesekali harus berhenti untuk duduk dan dan beristirahat sambil menghela napas sejenak. Di usianya yang hampir 85 tahun, Ne’mah, sapaan akrab wanita paruh baya tersebut, masih harus menyusuri jalanan dengan tangannya yang keriput menggenggam erat karung yang kosong, matanya yang mulai kabur menyisir jalan dengan penuh usaha. Semua ia lakukan untuk memenuhi kehidupannya, dengan wanita pada seusianya seharusnya menjadi masa istirahat, ia justru menjadi tulang punggung keluarga, mencari rezeki untuk memberi makan anak, menantu, dan cucu-cucunya.

Mengumpulkan botol-botol plastik dan kardus yang terserak sudah menjadi rutinitas setiap hari. Baginya, memulung bukanlah suatu pilihan, melainkan keharusan. Dengan tubuh yang kerap dilanda asam urat, yang tak lagi diobati, ia tetap harus menjalankan rutinitasnya. Keluar di malam hari—kadang sehabis isya atau kadang pukul 9 malam hingga dini hari—sambil ditemani adik kandungnya yang menjalankan rutinitas yang sama. Jika nasib baik, ia bisa mendapatkan beberapa barang yang dapat dijual—botol plastik bekas, kardus bekas dengan jumlah yang cukup banyak. Sepuluh kilogram barang tersebut bisa dihargai sebesar Rp2.000 hingga Rp5.000 ribu per kilogram nya, maka Rp20.000 sampai Rp50.000 ribu ia bawa pulang untuk menyambung hidupnya.

IKLAN

Namun, jika dunia sedang tidak berpihak dengannya, ia bisa memulung sampai matahari terbit, berharap ada hal yang didapatkan di setiap sudut jalan atau kedai. “Kalau belum dapet banyak, ya terus mulung sampe pagi. Mau bagaimana lagi, cuma ini yang bisa saya kerjakan,” ujarnya dengan suara lirih, penuh kepasrahan. Hidupnya yang penuh dengan kehilangan tidak membuatnya patah semangat. Ia ibu dari delapan anak, namun hanya satu yang tersisa. Tujuh anaknya telah pergi, meninggalkannya dalam kesendirian yang berat. Kini, ia tinggal bersama anaknya yang menganggur, menantu, dan tiga cucunya—yang paling kecil baru berusia 45 hari.

km tilongkabila dan masyarakat pelabuhan
Baca Juga

KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

Mereka tinggal di rumah kecil dengan dua kamar itu, yang menurutnya—lebih mirip kandang ayam. Jika ia dapat kembali ke masa lalu, mungkin ada banyak hal yang ingin ia ubah. Salah satunya ialah mencegah saudaranya untuk menjual seluruh harta benda ibunya, yang katanya untuk kehidupan anaknya—yang menyebabkan ia menjadi seperti sekarang. “Sekarang saya diam saja terus terang—di tanah Jababeka” tuturnya dengan nada penuh penekanan.

Anaknya semula bekerja di salah satu rumah sakit besar di daerah Cikarang. Namun, ketika rumah sakit tersebut mengalami pergantian nama dan kepemilikan, ia terpaksa berhenti. Gajinya yang hanya tiga juta, ingin diturunkan dan harus dipotong oleh yayasan, untuk keperluan yang belum diketahui dengan jelas. Sejak saat itu, anaknya hanya bisa berharap mendapatkan pekerjaan baru. Beban hidup yang semula mereka tanggung bersama, kini sepenuhnya ada di pundak Ne’mah. Mungkin benar adanya—keindahan terbesar dari hati Tuhan adalah hati seorang ibu. Di sela-sela pekerjaannya, tubuhnya sering memberontak.

IKLAN

Ia sempat berhenti memulung selama dua bulan karena penyakit asam urat yang dideritanya. Bahkan, ia sempat dirawat selama empat hari di salah satu Rumah Sakit di Tegal Gede, Cikarang. Namun, karena ia buta huruf, membuatnya bahkan tak mengingat nama rumah sakit itu. Seolah sudah jatuh, tertimpa tangga, ujian hidup tidak berhenti disitu, takdir tampaknya terus mengujinya, ujian terasa makin berat.

Jalanan yang dahulu memberinya harapan, kini penuh persaingan. Banyak orang yang sudah memiliki pekerjaan, seperti buruh cuci, ojek, atau tukang parkir di siang hari, namun tetap memilih menjadi pemulung di malam hari. Dengan tubuh lemah dan penyakit yang ia derita, ia tak lagi bisa bersaing. “Capek, karung kosong, yang ada aja dikumpulin, dibawa pulang,” katanya lirih. Tatapannya kosong, seolah tak ada lagi harapan. Namun, ia tak pernah iri. Bahkan ketika orang-orang yang dulu mengolok-olok pekerjaannya sebagai pemulung kini ikut-ikutan, ia hanya bisa tersenyum. “Yang dulu ngusilin saya mulung, sekarang ikut-ikutan mulung. Hidup memang begitu,” ujarnya dengan nada bijak. Di sisi lain, hidup semakin sulit. Dulu, ia bisa mendapatkan 400 hingga 500 ribu rupiah dalam sehari. Kini, bahkan hanya untuk mendapatkan 100 ribu rupiah dalam tiga hari terasa sulit.

foto mang venus
Baca Juga

Siapa MING VENUS? DJ Asal Surabaya yang Punya 101 Ribu Followers TikTok

Di balik wajahnya yang penuh garis perjuangan, ada harapan kecil yang ia simpan. Ia tak pernah meminta banyak, hanya ingin segera sembuh dan bisa berjalan dengan nyaman tanpa rasa sakit. Jika Tuhan berkenan, ia ingin membuka usaha kecil-kecilan agar tidak perlu lagi memulung di malam hari sambil menahan sakit. Harapan itu tumbuh dari kenangan masa lalu saat ia pernah berdagang nasi di Pasar Induk Kramat Jati. Ia masih mengingat betul saat warung nasi yang ia kelola menggantikan mertuanya selalu ramai pembeli. “Makannya, sekarang lihat orang dagang rame, inget saya dulu,” kenangnya dengan senyum tipis di wajah keriputnya. Namun, semuanya berubah ketika suaminya membawa perempuan lain ke rumah mertuanya. Mereka akhirnya berpisah, dan sejak itu, ia berhenti berdagang. Kehidupannya menjadi penuh perjuangan.

Di jalanan malam yang sepi, langkah tertatihnya adalah bukti cinta seorang ibu yang tak mengenal usia, lelah, atau waktu. Cinta yang begitu besar terus menggerakkan tubuhnya untuk bekerja, meski menghadapi segala rintangan hidup. Kehidupan Ne’mah adalah kisah tentang keteguhan hati seorang ibu yang tak pernah menyerah—seorang wanita paruh baya yang menghabiskan sisa hidupnya bekerja demi keluarga. Meski hidupnya penuh kehilangan dan penderitaan, ia tetap berdiri tegak, demi masa depan cucu-cucunya yang menjadi harapan terakhirnya.

Oleh: Cut Asrita Chaerulyah Mahasiswa Ilmu Komunikasi, President University

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/langkah-di-ujung-harapan-seorang-ibu/77016/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.14 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Sempat Ragu Pilih Matematika atau Ekonomi, Amaia Berhasil Raih Medali Perunggu OSN 2026

Ronald Dewa Rilis 'Salah Mencinta', Kisah Cinta Tulus yang Berakhir Luka

Masih 16 Tahun, Firsya Rahma Mardiana Bikin Bangga! Siswi SMAN 3 Ciamis Ini Borong 3 Medali Nasional

Jalan Terpanjang, Ingatan Terpendek? Wajah Baru Djamin Ginting di Layar Lebar

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Laboratorium ke Genggaman: Menelusuri Evolusi dan Cara Kerja Water Quality Field Test Kit
  2. 2

    Perpres Ojol: Benarkah Pengemudi Sudah Mendapat Perlindungan yang Adil?

  3. 3

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  4. 4

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  5. 5

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.