JurnalPost.com - Negara indonesia termasuk benua asia, yang dimana memiliki lebih dari 17.000 pulaau, 1340 suku budaya, 718 keberagaman bahasa yang terdiri dari 34 provinsi. Indonesia terkenal dengan dengan negara yang kaya akan suku dan budayanya. Salah satu suku yang ada di negara indonesia adalah “JAWA” yang dimana masih terdapat banyak tradisi dan budaya yang masih mengalir hingga saat ini.
Jawa tengah contohnya yang dimana jawa tengah ini adalah salah satu provinsi yang berada di indonesia yang terletak di tengah pulau jawa. Banyak warga jawa tengah yang masih melestarikan tardisi dan budaya di desa – desanya, contohnya adalah tradisi sedekah bumi yang masih ada diantara desa – desa seperti di desa banjiran kec. Warungasem kab. Batang.
Tradisi sedekah bumi yang diselenggarakan di desa ini biasanya diadakan dengan tasyakuran dan acara wayang yang dimana ditanggung jawabi oleh bapak kepala desa. Namun, seiring berjalannya waktu kini tradisi tersebut sudah mulai berkembang yang dilakukan antar desa dan hanya diadakan dengan tasyakuran saja. Tradisi sedekah bumi ini diakukan atau diadakan dimana para warga menyampaikan rasa syukur mereka terhadap Tuhan atas hasil bumi.
Tradisi sedekah bumi ini biasanya dilaksanakan setiap bulan legeno (Dzulqo’dah), pelaksanaannya dengan cara membuat nasi yang kemudian dibentuk tumpeng pada malam hari yang nantinya diletakkan warga desa ditempat yang sudah ditentukan. Upaya warga desa untuk menjaga tradisi ini agar masih berjalan yaitu dengan melestarikannya dan masih dilaksanakan disetiap tahun lewat mushollah – mushollah , masjid – masjid dan lain – lain di berbagai desa.
Cinta tanah air adalah paham kebangsaan yang berarti kesetiaan tertinggi seseorang terhadap bangsa dan tanah airnya. Cinta tanah air juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam diri setiap warga negra dan merupakan pengalaman dari sila Persatuan Indonesia. Dengan adanya tradisi budaya yang masih ada di indonesia marilah kita jaga dan tetap melestarikannya sebagai wujud cinta tanah air kita kepada indonesia.
Oleh: Syu’lah Amelia Febriana Mahasiswa UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda