Oleh : Athiyyah Dzakirah, Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB
JurnalPost.com - Rahma Diana atau akrab disapa Rahma merupakan seorang guru di salah satu sekolah swasta di Kota Bengkulu. Selain itu, wanita kelahiran Padang Panjang, 23 Juni 1986 ini juga merupakan seniman teater dan aktif sebagai pengajar praktik pada program Guru Penggerak selama 1 periode di angkatan ketujuh. Saat ini ia sedang proses pendaftaran calon fasilitator pada program Guru Penggerak. Selain itu ia juga aktif di Dewan Kesenian Kota Bengkulu sebagai kepalad divisi teater. Rahma merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang jurusan seni teater. Pekerjaan tetapnya sebagai guru seni budaya di SMA IT IQRA’ Kota Bengkulu.
Motivasi Rahma menjalani karirnya saat ini karena memiliki rasa penasaran dan selalu ingin belajar. Mendapatkan posisi sebagai pengajar di program Guru Penggerak, bukan berarti kegiatannya selalu mengajar, tetapi juga belajar. Ia banyak belajar dari pengalaman dan teman-teman baru. Rahma berharap ilmu yang ia dapatkan selama menjalani program tersebut dapat bermanfaat bagi dirinya, orang-orang sekitar serta nusa dan bangsa.
Rahma menjadi salah satu penggerak seni teater di Bengkulu. Ia dengan tulus memberikan ilmu-ilmu yang ia miliki baik secara langsung kepada generasi muda di Bengkulu ataupun dengan membuat komunitas-komunitas. Rahma sendiri memiliki sifat yang suka bersosialisasi yang semakin membantunya dalam memberikan manfaat serta kontribusi bagi masyarakat luas.
Rahma bukan berasal dari keluarga yang berada, ibunya memiliki usaha laundry dan ayahnya seorang buruh tani. Hal tersebut membuat Rahma sering merenungkan apakah ia masih bisa melanjutkan pendidikannya. Ternyata saat itu memang tidak memungkinkan. Namun Rahma tidak patah semangat demi menggapai mimpinya. Keadaan tersebut justru menjadikannya lebih mandiri dengan cara membuka diri dan bergaul di tengah masyarakat.
Rahma yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar suka mengikuti kegiatan positif yang diadakan di lingkungan rumahnya, salah satunya membuat kerajinan tangan. Hasil penjualan kerajinan tersebut ia belikan sepatu dan peralatan sekolah. Saat di bangku Sekolah Menengah Pertama, Rahma bekerja dengan mengisi acara-acara hajatan. Rahma mendapatkan honorer dari pekerjaan tersebut. Honorer tersebut ia gunakan untuk membiayai pendidikannya dan adik-adiknya.
Setelah lulus SMA, Rahma melanjutkan pendidikannya di sekolah seni. Sebelum menempuh pendidikan di sekolah seni, Rahma sudah menjadi seniman otodidak. Di sekolah seni ia cukup mengejar nilai akademisnya saja, karena semua hal yang berkaitan dengan keterampilan sudah didapatkannya di lapangan.
Jadi hal yang paling Rahma ingat dari dulu sampai sekarang adalah ketika ia menyadari keterbatasan kondisi ekonomi orang tuanya, namun tidak menghentikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan. Saat ia berusaha mandiri dengan mengikuti kegiatan di masyarakat sekitar, orang-orang disana berkata padanya, “Wah, kamu nanti bakal jadi orang sukses!,” kata-kata itulah yang terus diingat oleh Rahma sampai sekarang. Ia percaya bahwa ucapan adalah doa dan benar saja ucapan orang-orang tersebut menjadi kenyataan.
Rahma memiliki caranya sendiri dalam menyeimbangkan urusan keluarga dan karirnya. Menurutnya hal pertama yang harus dimiliki adalah konsep diri. Kalau untuk kehidupan sehari-hari, itu sudah kebutuhan pokok dan bukan sebuah beban bagi Rahma. Jadi yang harus dipikirkan adalah karir dan target pencapaian. Ketika di rumah, Rahma tetap menjalani perannya sebagai seorang istri dan juga ibu sembari merancang target dan jadwal untuk pekerjaan di sela-sela waktu. Jadi cara ia membagi waktu antara kehidupan pribadi dan profesional adalah dengan membuat schedule serta manajemen waktu yang baik.
Pada awalnya ada tantangan khusus yang dihadapi Rahma. Sebagaimana seorang ibu yang sedang memiliki anak kecil, Rahma berusaha untuk belajar dan memahami kondisi anaknya yang suasana hatinya bisa berubah-ubah. Ia berusaha untuk membangun sikap disiplin dalam diri anak-anaknya. Sebagaimana seorang ibu yang pasti menginginkan anaknya menjadi versi terbaiknya. Suami Rahma juga memberikan dukungan penuh padanya, sehingga ia tetap bisa fokus menjalani karirnya dan perannya sebagai istri dan ibu.
Prinsip yang dimiliki oleh Rahma dalam menjalani hidup adalah selalu berusaha keras dan totalitas. Sebagai seorang guru, ia seringkali membantu siswanya ketika mengadakan acara di sekolah. Entah itu acara besar atau kecil, ia selalu berusaha untuk membuat acara tersebut berjalan lancar. Prinsipnya : bekerja keras, totalitas, dan percaya pada diri sendiri. Menurutnya kita harus memberikan kepercayaan pada orang lain, namun tetap harus diutamakan pada kepercayaan diri sendiri. Karena ketika misalnya orang yang kita percaya tidak sanggup melakukan suatu tugas, kita bisa mengatasinya.
Sebenarnya setelah tamat SMA, semangat Rahma menekuni bidang seni mulai memudar. Ia sempat berpikir ingin menjadi guru Bahasa Inggris. Lalu ia mengambil jurusan Bahasa Inggris di salah satu kampus yang ada di Kota Padang. Jarak kampus dengan kampung dimana rumah Rahma berada sekitar dua jam perjalanan. Namun, ia gagal masuk ke kampus tersebut karena ibunya berpulang untuk selamanya. Rahma akhirnya harus membuat keputusan untuk tidak jadi melanjutkan pendidikannya karena harus mengurus dan merawat adik-adiknya di kampung.
Namun Rahma tidak terus terpuruk dengan keadaan, ia menjadikan kegagalan tersebut sebagai pembelajaran yang pasti selalu ada dalam kehidupan. Setelah ibunya pergi, ia kembali berusaha untuk bisa melanjutkan pendidikan. Akhirnya ia bisa melanjutkan kuliah di kampung halamannya sambil tetap mengurus adik-adiknya. Kegagalan yang sempat ia hadapi membuatnya lebih sadar diri dan berusaha untuk serius menjalani pendidikannya.
Pencapaian terbesar dalam hidupnya adalah di usia yang masih muda Rahma bisa merawat empat orang anaknya. Selain itu ia juga bisa membeli rumah dan properti dari hasil keringat sendiri. Dalam hal pekerjaan, ia menjadi pengajar praktik pada program guru penggerak, terpajang di platform Merdeka Mengajar sebagai narasumber di acara Berbagi Praktik Baik, berkontribusi dalam program seniman masuk sekolah, dan membuat buku.
Rahma berpesan pada generasi muda Indonesia, “Jadilah pribadi yang baik, jujur, percaya diri, dan jangan hanya bergantung pada satu hal. Gali potensi diri sebanyak-banyaknya, barangkali salah satu potensi diri kalian itulah yang akan membawa kalian pada kesuksesan,”
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda