Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Featured
  3. Perjuangan Ibu Sahari Demi Kemajuan Anak Di Pelosok Negeri

Perjuangan Ibu Sahari Demi Kemajuan Anak Di Pelosok Negeri

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
24 Desember 2022, 13.29 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Perjuangan Ibu Sahari Demi Kemajuan Anak Di Pelosok Negeri

sahari

JurnalPost.com - Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Jika seorang menjadi guru karena panggilan jiwanya, maka tak ada alasan baginya untuk berhenti mengajar dan mendidik siswanya agar menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Jika mengajar adalah panggilan jiwa, gunung dan jurang bukan alasan untuk datang terlambat ke sekolah.

IKLAN

Itulah gambaran dengan Sahari, seorang guru honorer di Kampung Bung, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasa’Tene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kampung Buung sendiri adalah sebuah wilayah terisolir yang terletak di sebelah timur ibu kota Kabupaten Pangkep. Kampung yang dihuni sekitar 50an kepala keluarga ini merupakan wilayah pegunungan. Untuk sampai di Kampung ini, tak ada akses jalanan untuk kendaraan, siapa pun yang mau ke sana harus berjalan kaki paling cepat 90 menit.

km tilongkabila dan masyarakat pelabuhan
Baca Juga

KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

Tak ada keluhan, yang tampak dari raut wajahnya adalah semangat hidup. Kedua bola matanya bersinar menyala-nyala menceritakan kisahnya menjadi guru honor di tempat terpencil.

siswa sdn 60 bung

SDN 60 Kampung Buung merupakan Sekolah yang menjadi tempat mengajar Bu Guru Sahari. Tak ada jaringan seluler di sana, apalagi sinyal wifii. Sebelumnya ia mengajar di SDN 60 Bung, bu Guru Sahari sudah melanglang buana mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar, awal karirnya sebagai guru Hononer mulai di Kota Makassar. Pada tahun 1999 ia mengajar di SD Galangan, lalu pindah mengabdikan diri di Pangkep di TK Pertiwi Pangkep anak ranting Sapanang dan pada tahun 2008 ia pindah mengajar di SDN 60 Buung sampai sekarang.

Tepat tahun 2022 ibu Guru Sahari sudah mengabdikan diri selama 23 tahun, guru honorer yang bergaji Rp100 ribu sebulan yang diterimanya setiap triwulan ini menghabiskan waktunya mengajar di kampung yang berada di atas gunung ini. Sembilan tahun dia habiskan menjadi Guru Honorer di Kota dan sisanya di SD Kampung Buung, tempatnya sekarang. Status guru Honorer dengan gaji Rp100/bulan tidak cukup untuk menafkahi diri dan keluarga.

foto mang venus
Baca Juga

Siapa MING VENUS? DJ Asal Surabaya yang Punya 101 Ribu Followers TikTok

"Saya cuma digaji dari dana BOS, dana BOS itu kan besarannya berdasarkan dari jumlah siswa, sementara siswa di Sekolah saya sedikit jadi gaji yang saya terima juga sedikit" Terangnya.

sekolah sdn 60 bung

Kala pagi-pagi buta, ia dengan jaket dan sepeda motornya melaju menembus dingin udara pagi untuk pergi mengajar dan tiba di Kaki gunung, dari sini perjalanan sesungguhnya barulah dimulai. Ia harus berjalan kaki menuju puncak gunung. Jalan rusak atau hujan tak menghentikannya untuk segera sampai di sekolah. Wajah lugu bocah pedalaman yang tersenyum menyambutnya setiap pagi menjadi semangat untuk segera sampai di sekolah yang hanya mempunyai tiga ruang kelas tersebut.

“Saya selalu rindu sama anak-anak. Sambutan mereka setiap pagi menjemput saya seperti energi baru. Capekku’ langsung hilang,” kata bu Sari tersenyum.

Amaia
Baca Juga

Sempat Ragu Pilih Matematika atau Ekonomi, Amaia Berhasil Raih Medali Perunggu OSN 2026

sahari tiba di sekolah

"Saya pernah berkata kepada anak-anak, saya mau berhenti mengajar, tapi anak-anak pada menangis memeluk saya, katanya ibu jangan berhenti di situlah saya mengurungkan niat untuk tidak berhenti karena kalau saya berhenti anak-anak ibarat anak ayam yang kehilangan Induknya, mungkin saya ditakdirkan mengajar di kampung terpencil, sebelum di Bung saya sudah 3 kali pindah sekolah. Saya jalani saja, saya ikhlas,” ujarnya.

IKLAN

Ia berkisah pernah suatu waktu saat ia pulang mengajar dari kampung Buung, dalam perjalanan ia diguyur hujan deras sambil berjalan kaki menelusuri hutan belantara Kampung Buung yang terkadang ada hewan liar babi dan ular yang bisa membahayakan nyawanya.

“Saya berjalan kaki di tengah hutan tiba-tiba hujan deras dan gelap, seketika saya panik karena saya berjalan sendirian, mau menelepon suami saya untuk menjemput tidak bisa karena hape saya lobet karena di rumah dinas saat itu belum ada listrik jadi tidak bisa cas hape, di sanalah saya terdiam dan berdoa ya Allah lindungilah saya semoga tidak terjadi apa-apa denganku” Tuturnya.

sahari ke sekolah

Sebenarnya Sahari adalah guru kelas 1, di SDN 60 Bung terdapat 8 tenaga pengajar, 3 Orang PNS, 2 orang guru P3K dan 3 lainya guru Honorer, sedangkan untuk jumlah siswa 50 Orang. Untuk menutupi kebutuhan hidup bersama keluarga, Sahari juga harus bertani bersama suaminya. Sepetak sawah dan kebun milik saudaranya ditanaminya palawija seperti ubi dan padi.

Berstatus guru honor, tak membuatnya patah semangat. Baginya menjadi guru bukan soal mengejar status tapi bagaimana mewujudkan niat. Dan hal itu dibuktikannya dengan sungguh-sungguh. Baginya mengajar dan mendidik anak-anak kampung di pedalaman bagi Bu Sahari bukan hanya kewajiban tapi sebuah kehormatan.

“Tidak semua orang diberi kesempatan berbagi ilmu dengan orang kesulitan mengakses ilmu, mengajar di sana adalah kehormatan besar. Saya berharap suatu waktu nanti ada murid saya yang jadi pejabat di kota,” pungkasnya.

Diketahui bahwa pada tahun 2014 Sahari pernah lulus K2 namun sampai saat ini ia belum menerima SK, dan baru-baru ini ada pendaftaran guru PPPK (P3K) namun ia tidak dapat mendaftar karena Sahari hanya mengantongi Ijazah D2 sedangkan untuk masuk jadi guru PPPK harus memiliki Ijazah S1. Ia juga sudah pupus harapan untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang S1 untuk penuhi syarat menjadi guru PPPK karena kini usianya sudah masuk 56 tahun.

“Saya mau kuliah untuk dapat ijazah S1 untuk mendaftar guru PPPK sudah tidak dapat karena usia saya, jika saya kuliah saya harus menghabiskan waktu kurang lebih 4 tahun sementara kini usia saya sudah masuk 56 tahun, yang artinya saat saya selesai kuliah saya sudah masuk usia pensiun jadi otomatis tidak dapat mendaftar guru PPPK” Jelasnya.

Lanjut Sahari juga sangat berharap agar ia bisa diangkat menjadi PNS oleh pemerintah atas jasa-jasa pengabdiannya menjadi Guru Honorer selama 23 tahun.

“Saya sangat berharap saya bisa dapat SK PNS dari pemerintah biar dimasa akhir pengabdian saya nanti saya bisa menikmati gaji pensiun” Tuturnya.

keluarga sahari

Sahari yang dikarunia 5 orang anak kini 3 anaknya sudah bekerja, anak pertamanya Saeful Alam Hariyono sekarang ia sama-sama mengajar di Kampung Buung juga sebagai guru Honorer di SMPN 4 Satap Minasatene. Anak Kedua Nur Alam Fajar Pendidikan S2 saat ini bekerja di Pasca Sarjana UNM sebagai tenaga kontrak Administrasi, Anak ketiga Nur Syafar pendidikan S1 saat ini kontrak di PT Telkom sebagai sekuriti, anak keempat Nur Hikmah yanti pendidikan S1 saat ini berstatus Hononer di PU Kab Pangkep dan anak kelima Nur Asisa saat ini masih menjalani pendidikan semester 5 di UNM jurusan Ekonomi Pembangunan, dan suami dari ibu Sahari Fatahuddin umur 58 tahun mantan karyawan Perusahaan tambang di Pangkep dan kini sudah 3 tahun tak bekerja lagi.

Ini adalah berkah walaupun ia bergaji Rp100/bulan tidak ada yang sia-sia karena ketika kita berbuat baik maka kehidupan akan memberikan hal baik untuk kita termasuk dari anak-anak ibu Sahari yang pada akhirnya anak-anak ibu Sahari bisa lulus kuliah dan dapat mengangkat derajat keluarganya. Ia bisa menyekolahkan anak-anaknya sehingga bisa selesai sekolah di Perguruan tinggi atas bantun dari saudara dan bea siswa yang ia dapatkan. (*Hasbi)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/perjuangan-ibu-sahari-demi-kemajuan-anak-di-pelosok-negeri/41146/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.19 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ronald Dewa Rilis 'Salah Mencinta', Kisah Cinta Tulus yang Berakhir Luka

Masih 16 Tahun, Firsya Rahma Mardiana Bikin Bangga! Siswi SMAN 3 Ciamis Ini Borong 3 Medali Nasional

Jalan Terpanjang, Ingatan Terpendek? Wajah Baru Djamin Ginting di Layar Lebar

Bermodal Cermin hingga Terbang ke Thailand, Perjalanan Cikibul Bangun Karier sebagai Kreator Gaming TikTok

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Pilihan Editor

  1. 1 Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai
  2. 2

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  3. 3

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  4. 4

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  5. 5

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.