JurnalPost.com - Pernah nggak, kamu sebenarnya ingin menolak suatu tugas di organisasi, namun tetap berakhir dengan kalimat "siap, Kak."?
Atau saat rapat, kamu mendapati ruangan menjadi hening seketika setelah kalimat "setuju, ya?" dilontarkan oleh senior?
Kalau pernah, mungkin kamu sedang berhadapan dengan sesuatu yang cukup akrab dalam budaya Indonesia: budaya sungkan atau ewuh pakewuh.
Di satu sisi, budaya ini membuat hubungan antaranggota organisasi terasa hangat dan penuh rasa hormat. Namun di sisi lain, terlalu banyak sungkan justru bisa membuat organisasi berjalan kurang sehat. Dari sudut pandang antropologi, budaya sungkan merupakan bagian dari nilai sosial yang diwariskan dalam masyarakat dan memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan kelompoknya. Masalahnya, nilai yang awalnya bertujuan menjaga keakraban kadang menghasilkan dampak negatif yang tidak disadari.
1. Budaya Sungkan Membuat Anggota Sulit Berbicara Jujur
Dalam organisasi, komunikasi adalah aspek yang penting. Sayangnya, budaya sungkan membuat anggota memilih diam daripada menyampaikan pendapat mereka yang sebenarnya. Misalnya, ada program kerja yang kurang efektif atau pembagian tugas yang terasa tidak adil. Alih-alih menyampaikan keberatan, banyak anggota memilih mengalah karena takut dianggap tidak menghargai.
Padahal, kritik yang disampaikan dengan baik bukan sebuah ancaman bagi organisasi, justru membantu organisasi berkembang. Ketika semua orang memilih diam, masalah yang ada tidak pernah benar-benar selesai.
2, Budaya Sungkan Membuat Beban Kerja Tidak Seimbang
Fenomena ini sering dijumpai di organisasi mahasiswa.
Anggota yang dikenal rajin biasanya akan lebih sering dimintai bantuan. Karena tidak enak menolak, mereka menerima tugas tambahan meskipun sebenarnya sudah kewalahan.
Lama-kelamaan muncul situasi yang tidak sehat, di mana sebagian orang bekerja terlalu banyak, sementara sebagian lainnya bekerja dengan beban yang jauh lebih sedikit.
Penelitian mengenai budaya ewuh pakewuh menunjukkan bahwa rasa sungkan sering membuat seseorang kesulitan menolak permintaan orang lain, terutama jika permintaan tersebut datang dari orang yang lebih senior atau memiliki posisi lebih tinggi.
3. Budaya Sungkan Memicu Senioritas
Tidak semua senioritas bersifat buruk. Pengalaman senior memang bisa menjadi sumber pembelajaran bagi anggota baru. Namun, budaya sungkan yang berlebihan sering membuat hubungan tersebut menjadi tidak seimbang.
Anggota baru merasa tidak nyaman mengemukakan pendapat yang berbeda. Mereka lebih memilih mengikuti keputusan yang sudah ada karena khawatir dianggap tidak sopan. Akibatnya, organisasi mungkin kehilangan banyak ide baru yang sebenarnya bisa muncul dari anggota yang lebih muda.
4. Budaya Sungkan Menciptakan Harmoni 'Palsu'
Ini mungkin dampak yang paling jarang disadari.
Organisasi terlihat baik-baik saja. Tidak ada konflik besar. Tidak ada perdebatan. Semua anggota tampak akrab.
Tetapi, apakah benar tidak ada masalah?
Faktanya, sungkan menunjukkan bahwa keinginan menjaga harmoni terkadang membuat orang menahan kritik, ketidaksetujuan, bahkan kebenaran yang perlu disampaikan. Akibatnya, organisasi terlihat harmonis di permukaan, tetapi menyimpan banyak persoalan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Refleksi Budaya sungkan bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Nilai ini lahir dari keinginan untuk menghormati orang lain dan menjaga hubungan sosial agar tetap baik.
Namun, dalam organisasi mahasiswa, terlalu banyak sungkan justru dapat menghambat komunikasi, memperberat beban kerja anggota tertentu, memperkuat senioritas, dan menciptakan harmoni ‘palsu’.
Dalam perspektif antropologi, budaya memang membentuk cara kita berinteraksi. Akan tetapi, budaya juga selalu bisa ditafsirkan ulang sesuai kebutuhan zaman. Menghormati orang lain tidak harus berarti selalu diam, dan menyampaikan pendapat tidak selalu berarti tidak sopan.
Karena organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan organisasi yang mampu membuat setiap anggotanya merasa aman untuk berbicara.***
Oleh: Faiza Lintang Azrianti, mahasiswa S1 Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada.
References
Asmadi, K. (2023). BUDAYA SUNGKAN: TRADISI UNIK YANG MEMBELENGGU? Froyonion.com. https://www.froyonion.com/news/esensi/budaya-sungkan-tradisi-unik-yang-membelenggu
Br Bangun, S. M., Peristianto, S. V., & Wulandari, N. Y. (2024). DINAMIKA BUDAYA EWUH PAKEWUH PADA KESEHATAN MENTAL ORANG JAWA. Jurnal Psikologi Malahayati, 7(1). https://doi.org/10.33024/jpm.v7i1.18507
Hartono, R., Thamrindinata, H. (2026). Rekonstruksi Etika Relasional dalam Budaya Sungkan melalui Dialog dengan Shared Praxis dari Thomas Groome. SERVITA DEI : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 1(2), 215-233.
Sampoerna University. (2022, May 12). Pengertian Budaya Organisasi Beserta Fungsi Jenis dan Contoh. Sampoernauniversity.ac.id. https://www.sampoernauniversity.ac.id/id/news/budaya-organisasi-adalah
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda