Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Mengapa Budaya Sungkan Membuat Organisasi Mahasiswa Kurang Sehat?

Mengapa Budaya Sungkan Membuat Organisasi Mahasiswa Kurang Sehat?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
02 Juni 2026, 19.10 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
lustrasi Beban Kerja. Sumber Magnific
lustrasi Beban Kerja. Sumber Magnific

JurnalPost.com - Pernah nggak, kamu sebenarnya ingin menolak suatu tugas di organisasi, namun tetap berakhir dengan kalimat "siap, Kak."?

Atau saat rapat, kamu mendapati ruangan menjadi hening seketika setelah kalimat "setuju, ya?" dilontarkan oleh senior?

IKLAN

Kalau pernah, mungkin kamu sedang berhadapan dengan sesuatu yang cukup akrab dalam budaya Indonesia: budaya sungkan atau ewuh pakewuh.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Di satu sisi, budaya ini membuat hubungan antaranggota organisasi terasa hangat dan penuh rasa hormat. Namun di sisi lain, terlalu banyak sungkan justru bisa membuat organisasi berjalan kurang sehat. Dari sudut pandang antropologi, budaya sungkan merupakan bagian dari nilai sosial yang diwariskan dalam masyarakat dan memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan kelompoknya. Masalahnya, nilai yang awalnya bertujuan menjaga keakraban kadang menghasilkan dampak negatif yang tidak disadari.

1.  Budaya Sungkan Membuat Anggota Sulit Berbicara Jujur

Dalam organisasi, komunikasi adalah aspek yang penting. Sayangnya, budaya sungkan membuat anggota memilih diam daripada menyampaikan pendapat mereka yang sebenarnya. Misalnya, ada program kerja yang kurang efektif atau pembagian tugas yang terasa tidak adil. Alih-alih menyampaikan keberatan, banyak anggota memilih mengalah karena takut dianggap tidak menghargai.

Padahal, kritik yang disampaikan dengan baik bukan sebuah ancaman bagi organisasi, justru membantu organisasi berkembang. Ketika semua orang memilih diam, masalah yang ada tidak pernah benar-benar selesai.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

2,  Budaya Sungkan Membuat Beban Kerja Tidak Seimbang

Fenomena ini sering dijumpai di organisasi mahasiswa.

Anggota yang dikenal rajin biasanya akan lebih sering dimintai bantuan. Karena tidak enak menolak, mereka menerima tugas tambahan meskipun sebenarnya sudah kewalahan.

Lama-kelamaan muncul situasi yang tidak sehat, di mana sebagian orang bekerja terlalu banyak, sementara sebagian lainnya bekerja dengan beban yang jauh lebih sedikit.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Penelitian mengenai budaya ewuh pakewuh menunjukkan bahwa rasa sungkan sering membuat seseorang kesulitan menolak permintaan orang lain, terutama jika permintaan tersebut datang dari orang yang lebih senior atau memiliki posisi lebih tinggi.

3. Budaya Sungkan Memicu Senioritas

Tidak semua senioritas bersifat buruk. Pengalaman senior memang bisa menjadi sumber pembelajaran bagi anggota baru. Namun, budaya sungkan yang berlebihan sering membuat hubungan tersebut menjadi tidak seimbang.

Anggota baru merasa tidak nyaman mengemukakan pendapat yang berbeda. Mereka lebih memilih mengikuti keputusan yang sudah ada karena khawatir dianggap tidak sopan. Akibatnya, organisasi mungkin kehilangan banyak ide baru yang sebenarnya bisa muncul dari anggota yang lebih muda.

IKLAN

4. Budaya Sungkan Menciptakan Harmoni 'Palsu'

Ini mungkin dampak yang paling jarang disadari.

Organisasi terlihat baik-baik saja. Tidak ada konflik besar. Tidak ada perdebatan. Semua anggota tampak akrab.

Tetapi, apakah benar tidak ada masalah?

Faktanya, sungkan menunjukkan bahwa keinginan menjaga harmoni terkadang membuat orang menahan kritik, ketidaksetujuan, bahkan kebenaran yang perlu disampaikan. Akibatnya, organisasi terlihat harmonis di permukaan, tetapi menyimpan banyak persoalan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

Refleksi Budaya sungkan bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Nilai ini lahir dari keinginan untuk menghormati orang lain dan menjaga hubungan sosial agar tetap baik.

Namun, dalam organisasi mahasiswa, terlalu banyak sungkan justru dapat menghambat komunikasi, memperberat beban kerja anggota tertentu, memperkuat senioritas, dan menciptakan harmoni ‘palsu’.

Dalam perspektif antropologi, budaya memang membentuk cara kita berinteraksi. Akan tetapi, budaya juga selalu bisa ditafsirkan ulang sesuai kebutuhan zaman. Menghormati orang lain tidak harus berarti selalu diam, dan menyampaikan pendapat tidak selalu berarti tidak sopan.

Karena organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan organisasi yang mampu membuat setiap anggotanya merasa aman untuk berbicara.***

Oleh: Faiza Lintang Azrianti, mahasiswa S1 Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

References

Asmadi, K. (2023). BUDAYA SUNGKAN: TRADISI UNIK YANG MEMBELENGGU? Froyonion.com. https://www.froyonion.com/news/esensi/budaya-sungkan-tradisi-unik-yang-membelenggu

Br Bangun, S. M., Peristianto, S. V., & Wulandari, N. Y. (2024). DINAMIKA BUDAYA EWUH PAKEWUH PADA KESEHATAN MENTAL ORANG JAWA. Jurnal Psikologi Malahayati, 7(1). https://doi.org/10.33024/jpm.v7i1.18507

Hartono, R., Thamrindinata, H. (2026). Rekonstruksi Etika Relasional dalam Budaya Sungkan melalui Dialog dengan Shared Praxis dari Thomas Groome. SERVITA DEI : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 1(2), 215-233.

Sampoerna University. (2022, May 12). Pengertian Budaya Organisasi Beserta Fungsi Jenis dan Contoh. Sampoernauniversity.ac.id. https://www.sampoernauniversity.ac.id/id/news/budaya-organisasi-adalah

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengapa-budaya-sungkan-membuat-organisasi-mahasiswa-kurang-sehat/93963/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.07 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Gadjah Mada

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Pilihan Editor

  1. 1 Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?
  2. 2

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  5. 5

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.