27.4 C
Jakarta
Jumat, Februari 26, 2021

Material Required Planning & Just In Time

Oleh : Ali Hosnan/Jurusan Akuntansi/Universitas Muhammdiyah Malang

  1. Definisi MRP

Material Required Planning adalah suatu metode untuk menentukan apa, kapan, dan berapa jumlah komponen dan material yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dari suatu perancanaan produksi. Perencanaan material secara detail dilakukan dengan Material Requirement Planning, yaitu penggabungan aktivitas yang mempengaruhi koordinasi dari suatu usaha didalam perusahaan. Material Requirement Planning (MRP) merupakan sistem informasi berbasis komputer yang didisain untuk memesan dan menjadwalkan permintaan (raw material, komponen dan sub assemblies) dengan cara yang terkoordinasi. Untuk menjalankan sistem MRP, ada tiga elemen utama yang harus dimasukkan, yaitu :

  1. Jadual induk produksi ( Master Production Schedule/MPS ).
  2.  Jumlah kebutuhan Material ( Bill of Material/BOM ).
  3. Status persediaan ( Inventory Status ).

Dalam jumlah induk produksi diuraikan bahan jadi yang akan diproduksi, yaitu meliputi waktu dan jumlah yang diproduksi. Jumlah kebutuhan material berisi jumlah kebutuhan material material pembentuk bahan jadi, baik bahan mentah maupun bahan yang dibeli jadi. Status persediaan material, order pembelian dan order pekerjaan.

Menurut Chase dan Aquilino, MRP adalah sistem yang menciptakan jadwal yang mengidentifikasikan komponen komponen khusus dan bahan baku yang diperlukan untuk menghasilkan produk akhir perusahaan, jumlah sesungguhnya yang diperlukan dan diterima atau diselesaikan dalam siklus produksi.

Keunggulan dan kelemahan Material Required Planning (MRP) yaitu :

  1. Memberikan kemampuan untuk menciptakan harga yang lebih kompetitif.
  2. Mengurangi harga jual.
  3.  Mengurangi persediaan.
  4.  Layanan yang lebih baik kepada pelanggan.
  5. Respon yang lebih baik terhadap tuntunan pasar.
  6. Kemampuan mengubah skedul master.
  7.  Mengurangi biaya set-up dan waktu nganggur (idle time).

Kelemahan yang menyangkut kegagalan MRP mencapai tujuan yaitu :

  1.  Kurangnya komitmen dari manajemen puncak dalam pengimplementasikan MRP.
  2. MRP di pandang sebagai sesuatu yang terpisah dari sistim lain, lebih dipandang sebagai sistim yang berdiri sendiri dalam menjalankan operasi perusahaan daripada sebagai suatu sistim yang terkait dengan sistim lain dalam perusahaan atau suatu bagian dari keseluruhan sistim perusahaan.
  3.  Mencoba menggabungkan MRP deng JIT tanpa memahami betul karakteristik kedua pendekatan tersebut.
  4. Membutuhkan akurasi operasi.
  5. Kesulitan dalam membuat skedul terinci.
  1.  Pengoperasian sistem MRP

Ada empat tahap dalam proses perencanaan kebutuhan material, tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

  1.  Netting (Perhitungan kebutuhan bersih)

Netting adalah proses perhitungan kebutuhan bersih yang besarnya merupakan selisih antara kebutuhan kotor denagan keadaan persediaan.

  1. Lotting (Penentuan ukuran pemesanan)

Lotting adalah menentukan besarnya pesanan setiap individu berdasarkan pada hasil perhitungan netting.

  1. Offsetting (Penetapan besarnya waktu ancang-ancang)

Offsetting bertujuan untuk menentukan saat yang tepat untuk melaksanakan rencana pemesanan dalam memenuhi kebutuhan bersih yang diinginkan lead time.

  1.  Exploding (Perhitungan selanjutnya untuk level di bawahnya)

Exploding adalah proses perhitungan kebutuhan kotor untuk tingkat level dibawahnya, berdasarkan pada rencana pemesanan.

Dengan MRP ini, kita akan mendapatkan informasi mengenai :

  1.  Bahan dan komponen apa saja yang akan dipesan serta berapa banyak yang diperlukan.
  2.  Kapan waktu komponen tersebut akan dipesan.
  3. Apakah komponen tersebut pemesanannya dipercepat, diperlambat atau dibatalkan

 

  1.  Definisi Just In Time 

JIT (just-in-time) adalah suatu sistem yang memusatkan pada eliminasi aktivitas pemborosan dengan cara memproduksi produk sesuai dengan permintaan konsumen dan hanya membeli bahan sesuai dengan kebutuhan produksi. JIT pemanufakturan didasarkan pada konsep :

  1.  Hanya memproduksi produk sejumlah yang diminta oleh konsumen (tepat  kuantitas)
  2.  Memproduksi produk bermutu tinggi.
  3.  Memproduksi produk berbiaya rendah.
  4. Memproduksi produk berdaur waktu yang tepat.
  5.  Mengirimkan produk pada konsumen tepat waktu.

JIT pembelian  didasarkan pada konsep :

  1.  Hanya membeli sejumlah barang yang diperlukan untuk produksi.
  2. Membeli barang bermutu tinggi.
  3. Membeli barang berharga murah.
  4.  Pengiriman barang yang dibeli tepat waktu

JIT mempunyai empat aspek pokok yaitu sebagai berikut :

  1. Pengiriman barang yang dibeli tepat waktu.h terhadap produk atau kepuasan konsumen harus dieliminasi.
  2.  Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu menjadi lebih tinggi.
  3.   Selalu diupayakan penyempurnaan berkesinambungan.
  4.  Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan pemahaman terhadap aktivitas.

 

  1.  Tujuan Penerapan Just In Time (JIT)

Tujuan strategis JIT adalah :

  1.  Meningkatkan laba.
  2. Memperbaiki posisi persaingan perusahaan.

Tujuan tersebut dapat dicapai dengan cara :

  1.  Mengeliminasi atau mengurangi persediaan.
  2. Meningkatkan mutu.
  3. Mengendalikan aktivitas supaya biaya rendah (sehingga memungkinkan harga jual rendah dan laba meningkat).
  4. Memperbaiki kinerja pengiriman.

Menurut Arman Hakim Nasution dan Yudha Prasetyawan (2008:315), tujuan penerapan sistem Just In Time adalah meningkatkan keuntungan dengan mereduksi biaya dan meningkatkan kualitas. Manfaat yang paling jelas dari penggunaan Just In Time adalah pengurangan dalam persediaan Work In Proses (WIP). Disamping mereduksi investasi persediaan, maka biaya-biaya fasilitas, peralatan dan tenaga kerja yang lebih rendah akan dapat dicapai. Just In Time tidak membutuhkan sistem pengendalian persediaan yang canggih, tetapi merupakan pengendalian produksi yang sangat sederhana. Just In Time (JIT) meningkatkan partisipasi dari tenaga kerja dalam penyelesaian masalah dengan mendorong mereka untuk mereduksi waktu set up dan menyelesaikan masalah-masalah kvualitas. Kualitas yang baik pada akhirnya akan menghasilkan sedikit material yang terbuang sia-sia, sedikit alokasi jam kerja untuk pengerjaan kembali (rework) produk cacat dan umpan balik yang cepat dalam memperbaiki produk cacat.

  1.  Kelebihan dan Kekurangan Just In Time (JIT)

Kelebihan : 

  1. Menjauhi bertumpuknya produk yang sudah jadi yang tidak laku terpasarkan di karenakan segala sesuatu yang berubah secara tiba-tiba dalam permohonan.
  2. Kualitas kesediaan yang kurang dengan begitu akan menghemat ruangan dan biaya yang di keluarkan utntuk biaya penyewaan sewa tempat.
  3. Kualitas kesediaan yang kurang dengan begitu akan menghemat ruangan dan biaya yang di keluarkan utntuk biaya penyewaan sewa tempat.
  4. Ketersediaan yang sedikit, di perkirakan akan mengakibatkan produk yang terbuang dengan sia-sia, karena  produk yang sudah tidak layak di konsomsi dan juga sudah ada yang rusak akan menjadi semakin rendah.
  5. Membutuhkan kualitas yang bagus dari bahan-bahan yang akan di gunakan dengan demikian waktu saat pemeriksaan akan berkurang dan juga pekerjaan pengulang

Kekurangan : 

  1.  Perusahaan barangkali tidak dapat secara langsung untuk memberi keperlua kiriman yang banyak dan tak terkira sebab mempunyai keterbatasan atau bahkan tidak mempunyai persediaan barang yang sudah jadi.
  2. Bayaran transaksi akan relatif tinggi yang akan mengakibatkan transaksi yang melambung sangat tinggi.
  3. Keterikatan yang melambung tinggi kepada agen yang melibatkan kualitas yang baik maupun kecermatan saat mengirim yang di luar dari daerah perusahaan manufakturing yang berkaitan. Saat terjadi nya pengiriman yang terlambat akan mempengaruhi halangan seluruh jadwal produksi yang sudah di bicarakan.
  4. Perusahaan yang berkaitan akan susah untuk mencukupi kemauan yang secara berkelangsungan tinggi di karenakan nyatanya tidak ada produk jadi yang berlebih

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini