Oleh: Bima Salafush Shalih Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro
JurnalPost.com - Mengapa kita terus-menerus merobohkan hutan mangrove, padahal ialah yang selama ini diam-diam menyelamatkan nyawa kita? Coba bayangkan, pohon-pohon itu yang menahan gelombang tsunami, mencegah tanah pantai tergerus, dan menjadi tempat ikan-ikan berkembang biak. Tapi anehnya, kita seolah tidak mendengar alarm yang sudah berbunyi keras. Setiap hektar mangrove yang rata seharusnya membuat kita bertanya, “jika mangrove tak lagi menjaga pantai, lalu siapa yang akan melindungi kita? Apakah kita hanya akan tersadar ketika air laut sudah masuk ke ruang tamu rumah kita?”
Saya pernah berdiri di tepi pantai utara Jawa. Di depan saya, ombak menghantam keras. Tidak ada yang menahan. Dulu, tempat itu dipenuhi pohon-pohon mangrove yang akarnya rapat dan kuat. Kini, yang tersisa hanya tanah lumpur yang perlahan terkikis. Warga setempat bercerita, kampung mereka sudah mundur hampir seratus meter dalam sepuluh tahun terakhir. “Dulu rumah saya di sini.” kata seorang bapak paruh baya sambil menunjuk ke arah laut. Saya hanya bisa diam.
Indonesia adalah negara maritim dengan laut yang luas. Seharusnya, mangrove menjadi benteng utama kita. Tapi kenyataannya, justru di sinilah kerusakan terbesar terjadi. Alih fungsi lahan menjadi tambak udang, pemukiman, dan industri terus berlangsung. Di Batam, separuh kawasan mangrove dilaporkan rusak. Di Bekasi, jarak antara pemukiman warga dengan laut kini hanya beberapa ratus meter saja. Nelayan mengeluh tangkapan ikan semakin sedikit. Mereka yang dulu pulang dengan puluhan kilogram ikan, sekarang sering pulang dengan tangan hampa. Bukan karena malas. Tempat ikan tinggal sudah rata dengan tanah.
Saya tidak setuju dengan pembabatan hutan mangrove, di mana pun tempatnya itu terjadi. Dan yang paling membuat saya khawatir adalah aturan yang sudah ada ternyata tidak berjalan. Pemerintah sebenarnya sudah menerbitkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025. Tapi fakta di lapangan menunjukkan, pembabatan tetap terjadi. Saya prihatin, karena yang paling menderita ujung-ujungnya adalah masyarakat kecil. Nelayan kehilangan pekerjaan. Anak-anak mereka terancam putus sekolah. Ibu-ibu nelayan harus mencari kerja sampingan demi menyambung hidup. Jika aturan hanya menjadi dokumen tanpa penegakan, maka sekeras apa pun kita berteriak melindungi hutan mangrove, semua hanya akan sia-sia.
Saya juga khawatir dengan rusaknya keseimbangan ekosistem. Mangrove bukan sekadar pohon. Ia adalah rumah bagi kepiting, udang, ikan kakap, dan berbagai biota laut lainnya. Ia juga tempat tinggal monyet, burung, dan satwa darat lainnya. Ketika mangrove ditebang, rantai makanan di laut dan darat ikut putus. Saya pernah mendengar cerita dari seorang nelayan tua di Sumatera. Ia bilang bahwa dulu, ia bisa menangkap udang hanya dengan jaring sederhana di dekat pantai. Sekarang, ia harus melaut jauh sampai berjam-jam, itu pun hasilnya tidak seberapa. “Pohon hilang, ikannya juga hilang,” katanya sambil menghela napas. Saya tidak ingin anak-anak kita nanti hanya bisa melihat hijaunya hutan pantai dari foto lama.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Menurut saya, penegakan hukum harus menjadi prioritas. Bukan aturan baru yang lebih ketat, tapi eksekusi di lapangan yang tegas. Setiap pembabatan ilegal harus ditindak. Setiap izin alih fungsi lahan yang merusak mangrove harus dicabut. Selain itu, masyarakat pesisir harus dilibatkan dalam menjaga mangrove. Mereka adalah garda terdepan. Beri mereka pelatihan, beri mereka mata pencaharian alternatif yang ramah lingkungan. Karena jika masyarakat sendiri tidak peduli, maka kita hanya akan berteriak di ruang hampa.
Krisis mangrove bukanlah ancaman yang datang besok atau lusa. Ia sudah terjadi hari ini. Setiap hektar yang rata, setiap nelayan yang pulang dengan tangan kosong, setiap meter pantai yang mundur ke belakang. Semua itu adalah bukti nyata bahwa kita sedang kehilangan benteng terakhir kita secara perlahan-lahan, tapi pasti. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita harus bertindak, tetapi apakah kita masih punya waktu sebelum gelombang berikutnya benar-benar menghanyutkan rumah kita sendiri. Jika mangrove tak lagi menjaga pantai, maka kitalah yang paling dirugikan. Dan jika bukan kita yang berhenti menebang, lalu siapa lagi?
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda