JurnalPost.com - Olahraga kini bukan lagi sekadar rutinitas membakar kalori demi menjaga kebugaran tubuh, melainkan telah bermutasi menjadi bagian dari gaya hidup modern yang sangat bergengsi. Di era digital saat ini, berbagai jenis aktivitas fisik—mulai dari lari maraton, tenis, hingga pilates mendadak dipenuhi oleh antusiasme generasi muda. Mengenakan pakaian olahraga yang modis, melingkarkan jam tangan pintar di pergelangan, dan berkumpul di fasilitas olahraga terbaik kini dianggap sebagai simbol baru masyarakat yang produktif. Namun, tren yang tampak positif ini menyisakan sebuah tanda tanya besar: apakah gelombang antusiasme ini murni lahir dari kesadaran akan kesehatan, ataukah sekadar respons terhadap arus tren yang berputar di media sosial?
Realitas di lapangan saat ini sering kali berbicara lain dan menampilkan pemandangan yang menggelitik. Coba perhatikan sudut-sudut area olahraga populer atau kompleks stadion di akhir pekan; pemandangan yang mendominasi sering kali bukan lagi orang-orang yang fokus pada teknik pemanasan yang benar atau pengaturan napas yang stabil. Sebaliknya, area tersebut telah bergeser fungsi menjadi studio foto luar ruangan dadakan. Kesibukan utama justru berputar pada bagaimana mengatur sudut kamera ponsel di atas tripod, memastikan pencahayaan matahari pas, hingga mengambil ulang video lari demi mendapatkan estitika visual yang sempurna untuk konten TikTok atau Instagram Reels.
Ritual berolahraga kini rasanya belum sah jika tidak diawali dengan sesi foto outfit of the day (OOTD) saat baju masih rapi dan belum seuntai pun keringat menetes. Ditambah lagi dengan kewajiban mengunggah tangkapan layar rute lari dari aplikasi pintar atau angka detak jantung dari jam tangan premium ke media sosial. Aktivitas fisik yang sejatinya bersifat personal untuk kesehatan tubuh, kini telah bergeser menjadi sebuah pertunjukan publik. Olahraga seolah baru dianggap valid dan diakui eksistensinya jika berhasil mendatangkan ratusan tanda suka serta komentar pujian dari para pengikut virtual.
Di satu sisi, FOMO dalam hal olahraga memanglah baik jika dilihat sebagai pemantik awal untuk menggerakkan masyarakat agar lebih aktif bergerak dan peduli pada kesehatan fisik. Tren ikut-ikutan ini setidaknya berhasil mengubah kebiasaan malas menjadi lebih produktif di akhir pekan. Namun, dampak positif ini akan langsung sirna ketika motivasi utamanya bergeser dari berburu kebugaran menjadi berburu pengakuan. Ketika seseorang memaksakan diri mengikuti olahraga yang sedang hype hanya agar tidak tersisih dari pergaulan, aktivitas ini tidak lagi menyehatkan mental, melainkan justru menciptakan tekanan psikologis baru dan menjebak mereka dalam gaya hidup konsumtif demi tuntutan visual semata.
Dampak dari sekadar ikut-ikutan tanpa pemahaman ini pun mulai terasa nyata, baik bagi tubuh maupun kantong. Banyak pelaku olahraga musiman yang langsung memaksakan diri melakukan latihan fisik dengan intensitas tinggi, seperti lari jarak jauh atau olahraga intensitas tinggi lainnya tanpa memahami batas kemampuan tubuh atau teknik yang benar. Alih-alih mendapatkan kebugaran, tidak sedikit yang justru berakhir dengan cedera otot atau sendi karena abai terhadap proses.
Di sisi lain, jeratan konsumtif juga tidak bisa dihindari. Demi terlihat 'setara' dalam lingkaran pergaulan virtual, banyak yang rela merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli sepatu lari edisi khusus, raket tenis bermerek, hingga pakaian olahraga premium yang harganya selangit. Olahraga yang sejatinya murah dan merakyat, kini seolah berubah menjadi kompetisi finansial terselubung di mana nilai seseorang diukur dari apa yang ia kenakan saat berkeringat.
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan memanfaatkan momentum tren untuk memulai hidup sehat. Namun, kita perlu meluruskan kembali niat sebelum melangkah ke lapangan. Kesehatan adalah investasi jangka panjang untuk diri sendiri, bukan komoditas visual yang harus selalu dipamerkan demi memburu validasi digital. Menjadikan olahraga sebagai ajang pamer gengsi hanya akan menyisakan lelah fisik dan dompet yang terkuras. Oleh karena itu, mari kita ubah fokus kita; mulailah bergerak karena tubuh kita memang membutuhkannya, bukan karena takut ketinggalan zaman. Berkeringatlah demi jantung yang lebih sehat di masa depan, bukan demi feeds Instagram yang terlihat hebat saat ini.
Oleh : Nayla Ramadani, Fakultas Ekonomi dan Bisnis S1 Akuntansi, Universitas Pamulang.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda