Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Makna Hegemoni Dalam Kajian Sosial dan Budaya

Makna Hegemoni Dalam Kajian Sosial dan Budaya

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
12 Oktober 2023, 20.53 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
thumb

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas)

JurnalPost.com - Pendalaman terhadap makna hegemoni sangat penting untuk menganalisis realitas sosial dan budaya. Hegemoni menurut Gramsci adalah konsep politik yang menjelaskan gagalnya revolusi sosialis di dalam sistem demokrasi kapitalisme. Hegemoni juga bermakna kondisi dan proses berkuasanya kelas dominan dalam masyarakat melalui aliansi dengan kelas lain dan penggunaan kepemimpinan moral dan intelektual (Gramsci. 1998).

IKLAN

Hegemoni digunakan untuk menggambarkan masyarakat di mana meskipun ada penindasan dan eksploitasi, namun terdapat tingkat konsensus yang tinggi dalam masyarakat. Suatu kenyataan dalam masyarakat di mana kelompok dan kelas yang lebih rendah tampak secara aktif mendukung dan menganut nilai, cita-cita, tujuan, makna budaya, dan politik yang mengakomodasi mereka ke dalam struktur kekuasaan yang ada.

Ahmad Naufal Fauzan
Baca Juga

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Hegemoni juga menunjukkan bahwa konflik dalam suatu masyarakat telah dikendalikan dan dikelola. Hegemoni dijaga dan harus selalu dijaga sebagai proses berkelanjutan oleh kelompok dan kelas dominan yang mengadakan negosiasi dan memberi konsesi kepada kelompok dan kelas yang lebih rendah.

Misalnya hegemoni kolonial Inggris di Karibia. Salah satu cara yang digunakan oleh Inggris untuk mengamankan kontrolnya atas populasi asli dan orang Afrika yang mereka bawa sebagai budak adalah dengan memaksakan kepada mereka untuk mengadopsi budaya dan bahasa Inggris.

Namun, hasilnya bukanlah pemaksaaan bahasa Inggris. Tetapi, sebagian besar populasi malah mencipatakan bahasa baru. Elemen dominan dari bahasa baru ini adalah bahasa Inggris, tetapi bahasa itu sendiri bukan hanya bahasa Inggris. Yang muncul adalah bahasa Inggris yang telah berubah, dengan tekanan baru, ritme baru, dan makna baru, dengan beberapa kata yang dihapus dan kata-kata baru yang diperkenalkan dari bahasa Afrika dan lainnya.

Bahasa baru ini adalah hasil dari negosiasi antara budaya yang dominan dan yang lebih rendah, yaitu, bukan bahasa yang dipaksakan dari atas maupun bahasa yang muncul secara spontan dari bawah, melainkan bahasa yang merupakan hasil dari perjuangan hegemoni antara dua budaya bahasa, budaya bahasa dominan dan budaya bahasa yang lebih rendah, yang melibatkan baik resistensi maupun inkorporasi.

Mahasiswa melakukan transaksi mandiri menggunakan QRIS dan kotak pembayaran tunai di Kantin Kejujuran kampus.
Baca Juga

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Oleh karena itu, hegemoni bukanlah dominasi dari atas dalam arti yang diimplikasikan oleh istilah ideologi dominan, di mana segala konsep perjuangan ditekan menjadi tidak ada di bawah beban pemaksaaan dari atas (Storey, 2003).

Hegemoni adalah jenis konsensus tertentu di mana terjadi perjuangan aktif dan berkelanjutan untuk mendapatkan dukungan, melalui strategi kepemimpinan moral dan intelektual, untuk mempertahankan penguasaan kelas dominan.

Hegemoni diorganisir oleh mereka yang Gramsci sebut sebagai intelektual organik. Menurut Gramsci, intelektual dibedakan oleh fungsi sosial mereka. Artinya, semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi intelektual, tetapi hanya beberapa orang yang ada dalam masyarakat yang memiliki fungsi sebagai intelektual.

IKLAN

Setiap kelas menciptakan intelektual organiknya sendiri. Intelektual organik berfungsi sebagai pengorganisir kelas. Mereka memberikan homogenitas kelas dan kesadaran akan fungsi kelas tersebut, tidak hanya di ranah ekonomi, tetapi juga di bidang sosial dan politik.

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
Baca Juga

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Tugas intelektual organik dari kelas dominan adalah menentukan dan mengorganisir reformasi kehidupan moral dan intelektual. Mereka adalah wakil kelas dominan, berusaha untuk mengamankan dan mempertahankan hegemoninya (Storey, 2003).

Gramsci cenderung berbicara tentang intelektual organik sebagai individu, tetapi cara konsep ini digunakan dalam kajian budaya lebih identik dengan pemikiran Louis Althusser (1998) sebagai kolektif intelektual organik yang disebut aparatus negara ideologis yang mencakup keluarga, televisi, pers, pendidikan, agama, industri budaya, dll.

Pengenalan konsep hegemoni Gramsci ke dalam kajian budaya di Inggris pada awal 1970-an menghasilkan pemikiran ulang terhadap budaya populer sebagai situs kunci untuk produksi dan reproduksi hegemoni. Masyarakat industri kapitalis adalah masyarakat yang terbagi secara tidak merata dalam hal misalnya ras, etnisitas, gender, generasi, seksualitas, dan kelas sosial. Budaya populer adalah salah satu situs utama di mana pembagian-pembagian ini dibentuk dan dipertentangkan. Dengan kata lain, budaya populer adalah arena pertempuran dan negosiasi antara kepentingan kelompok dominan dan kepentingan kelompok yang lebih rendah.

Pengenalan hegemoni ke dalam kajian budaya di Inggris juga menghasilkan pemikiran ulang terhadap konsep budaya populer itu sendiri (Hall 1996; Storey, 2001). Pemikiran ulang ini melibatkan penggabungan dua tradisi sebelumnya yang dominan tetapi antagonis dalam cara berpikir tentang budaya populer. Tradisi pertama melihat budaya populer sebagai budaya yang dipaksakan oleh industri budaya kapitalis, budaya yang disediakan untuk keuntungan dan manipulasi ideologis. Ini adalah budaya populer sebagai struktur.

Tradisi kedua melihat budaya populer sebagai budaya yang muncul secara spontan dari bawah. Budaya autentik, budaya buruh, atau subkultur, suara rakyat. Ini adalah budaya populer sebagai agen.

Dalam pandangan Gramscian, budaya populer bukanlah budaya autentik, folk, budaya buruh, atau subkultur, dan juga bukan budaya yang hanya dipaksakan oleh industri budaya kapitalis, melainkan kompromi keseimbangan antara keduanya, campuran yang bertentangan dari kekuatan dari bawah dan atas, baik komersial maupun autentik, ditandai oleh resistensi dan inkorporasi, struktur dan agen (Gramsci,1998).

Dalam perspektif teori hegemoni, ranah budaya ditandai oleh perjuangan untuk merumuskan, merombak, dan merumuskan ulang teks-teks budaya dan praktik-praktik budaya untuk ideologi tertentu, politik tertentu. Menurut Stuart Hall (1985), makna adalah praktik produksi sosial.  Dunia harus dibuat memiliki makna. Oleh karena itu, makna yang berbeda dapat diatribusikan ke teks budaya yang sama, praktik, atau peristiwa yang sama, makna selalu merupakan situs dan hasil dari perjuangan.

Walaupun Industri budaya adalah situs utama produksi ideologi, membangun citra, deskripsi, definisi, kerangka referensi untuk memahami dunia, namun Gramsci menolak pandangan bahwa orang-orang yang mengonsumsi produksi ini adalah korban budaya, korban dari opium rakyat yang diperbarui.

Kajian budaya Gramscian didasarkan pada gagasan bahwa orang menciptakan budaya populer dari kumpulan komoditas yang disediakan oleh industri budaya. Membuat budaya populer dapat memberdayakan kelas bawah dan menentang pemahaman dominan. Tetapi ini bukan berarti bahwa budaya populer selalu memberdayakan dan menentang (Storey, 2003).

Alhasil, hegemoni sangat penting dalam melihat proses bekerjanya kekuasaan di era kapitalisme mutakhir hari ini di level politik elit dan dalam budaya massa. Namun, manusia bukan makhluk yang pasif karena manusia bisa melancarkan aksi konter hegemoni terhadap elit dan juga dapat menjadi konsumen yang aktif dalam memaknai produks budaya massa. Potensi perlawanan, negoisasi dan eskapisme selalu ada di balik setiap hegemoni elit dan budaya massa.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/makna-hegemoni-dalam-kajian-sosial-dan-budaya/59973/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 03.25 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

Mengurangi Risiko Penggunaan Plastik Kresek Hitam pada Pedagang Kuliner Lokal

Jika Bisa Mengulang Hidup, Akankah Kita Memilih Jalan yang Sama?

Moral Dialektika sebagai Ruang Kontemplasi Gerakan Intelektual Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Pilihan Editor

  1. 1 Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
  2. 2

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  4. 4

    Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  5. 5

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.