Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas)
JurnalPost.com - Kajian budaya adalah kajian yang menarik. Salah satu topik kajiannya adalah budaya populer. Budaya ini juga terkadang disebut budaya massa. Budaya massa membawa ideologi penyeragaman menurut Herbert Marcuse dan menghilangkan kesadaran menurut Antonio Gramsci. Mungkinkan kita melawan tendensi hegemomi dalam budaya massa?
Seiring perkembangan posmodernisme maka kajian budaya tentu saja menghadapi tantangan seiring dengan ortodoksi perdebatan lama mengenai ideologi dan hegemoni. Dalam merespons tantangan ini, terdapat dua pendekatan yang dapat diambil. Di satu sisi, ada yang berpendapat bahwa kembali ke akar-akar Marxisme adalah solusi yang tepat. Sementara di sisi lain, ada yang melihat praktik konsumsi sebagai fokus yang lebih relevan.
Dalam banyak hal, perdebatan ini mengingatkan pada polemik yang serupa pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an antara strukturalisme dan kulturalisme. Ini juga merupakan refleksi dari salah satu aspek dari dialektika Marx (1977), yang mengemukakan pertanyaan apakah manusia adalah hasil dari sejarah atau sebaliknya, apakah manusia yang menciptakan sejarah.
McRobbie (1994) menolak pendekatan kembali ke model dasar-struktur yang bersifat mekanis dan berisiko menjadikan populisme budaya sebagai satu-satunya alternatif. Sebagai gantinya, dia menganjurkan perluasan analisis budaya Gramscian dan kembali ke pendekatan etnografis dalam analisis budaya yang memusatkan perhatian pada pengalaman individu dalam mengonsumsi produk-produk industri budaya.
Teori hegemoni pasca-Marxis menekankan pentingnya dialog yang berkelanjutan antara proses produksi dan aktivitas konsumsi. Konsumen selalu dihadapkan pada teks atau praktik budaya dalam bentuk materialnya sebagai hasil dari kondisi produksi yang spesifik.
Denga kata lian, penting untuk menghadapi ideologi budaya massa dengan kritis. Saat ini, dunia kita dikuasai oleh kapitalisme multinasional, dan dalam jangka waktu yang dapat dilihat ke depan, hal ini tidak akan berubah. Tentu, kita perlu memiliki pesimisme intelektual dan optimisme kehendak (Storey, 2009).
Penting juga untuk menyadari bahwa semua individu, tanpa terkecuali, berperan aktif dalam proses konsumsi budaya. Kita memilih, menolak, menciptakan makna, memberikan nilai, menolak, dan terkadang kita bahkan bisa tertipu atau dimanipulasi. Namun, hal ini tidak berarti kita harus mengabaikan pentingnya "politik representasi". Kita harus memahami bahwa meskipun kesenangan bersifat politis, kesenangan dan politik seringkali berbeda.
Misalnya, menyukai acara seperti "Desperate Housewives" atau "The Sopranos" tidak akan secara otomatis menentukan orientasi politik seseorang. Kesenangan dan politik adalah dua hal yang berbeda. Kita dapat menertawakan distorsi, penghindaran, dan penolakan dalam budaya massa sambil tetap mendukung politik yang mengkritik hal-hal tersebut. Kita perlu mengajarkan satu sama lain untuk memahami perbedaan antara berbagai versi realitas dan mengenali bahwa masing-masing dapat membutuhkan pendekatan politik yang berbeda.
Perlu ditekankan bahwa ini bukan berarti akhir dari politik budaya feminis atau sosialis, atau akhir dari perjuangan dalam mewakili "rasa", kelas, gender, disabilitas, atau seksualitas. Namun, hal ini harus menjadi titik pandangan bahwa pola-pola konsumsi tertentu dapat menentukan nilai moral dan politik seseorang.
Sejalan dengan perdebatan ini, kita harus menjauh dari ideologi budaya massa yang cenderung melihat budaya sebagai perpecahan antara "mereka" dan "kita". Ideologi ini seringkali didukung oleh diskursus yang kuat. Bagi yang menolak ideologi ini, kita sering kali hanya memiliki dukungan ideologi populisme, yang juga memiliki kelemahan dan keterbatasan tersendiri (Storey, 2009).
Alhasil, melawan kenyataan hegemoni budaya massa hari ini harus mencari cara-cara kerja konkret yang tidak jatuh ke dalam dua ekstrem, yaitu elitisme yang merendahkan dan anti-intelektualisme yang meremehkan. Sangat perlu mengajarkan konsumen untuk kritis dalam konsumsi budaya massa dan tidak mudah jatuh dalam polarisasi ekstrim antara budaya dan politik mereka versus budaya dan politik kita.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda