Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Mungkinkah Melawan Hegemoni Budaya Massa?

Mungkinkah Melawan Hegemoni Budaya Massa?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
11 Oktober 2023, 15.13 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
thumb

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas)

JurnalPost.com - Kajian budaya adalah kajian yang menarik. Salah satu topik kajiannya adalah budaya populer. Budaya ini juga terkadang disebut budaya massa. Budaya massa membawa ideologi penyeragaman menurut Herbert Marcuse dan menghilangkan kesadaran menurut Antonio Gramsci. Mungkinkan kita melawan tendensi hegemomi dalam budaya massa?

IKLAN

Seiring perkembangan posmodernisme maka kajian budaya tentu saja menghadapi tantangan seiring dengan ortodoksi perdebatan lama mengenai ideologi dan hegemoni. Dalam merespons tantangan ini, terdapat dua pendekatan yang dapat diambil. Di satu sisi, ada yang berpendapat bahwa kembali ke akar-akar Marxisme adalah solusi yang tepat. Sementara di sisi lain, ada yang melihat praktik konsumsi sebagai fokus yang lebih relevan.

Ahmad Naufal Fauzan
Baca Juga

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Dalam banyak hal, perdebatan ini mengingatkan pada polemik yang serupa pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an antara strukturalisme dan kulturalisme. Ini juga merupakan refleksi dari salah satu aspek dari dialektika Marx (1977), yang mengemukakan pertanyaan apakah manusia adalah hasil dari sejarah atau sebaliknya, apakah manusia yang menciptakan sejarah.

McRobbie (1994) menolak pendekatan kembali ke model dasar-struktur yang bersifat mekanis dan berisiko menjadikan populisme budaya sebagai satu-satunya alternatif. Sebagai gantinya, dia menganjurkan perluasan analisis budaya Gramscian dan kembali ke pendekatan etnografis dalam analisis budaya yang memusatkan perhatian pada pengalaman individu dalam mengonsumsi produk-produk industri budaya.

Teori hegemoni pasca-Marxis menekankan pentingnya dialog yang berkelanjutan antara proses produksi dan aktivitas konsumsi. Konsumen selalu dihadapkan pada teks atau praktik budaya dalam bentuk materialnya sebagai hasil dari kondisi produksi yang spesifik.

IKLAN

Denga kata lian, penting untuk menghadapi ideologi budaya massa dengan kritis. Saat ini, dunia kita dikuasai oleh kapitalisme multinasional, dan dalam jangka waktu yang dapat dilihat ke depan, hal ini tidak akan berubah. Tentu, kita perlu memiliki pesimisme intelektual dan optimisme kehendak (Storey, 2009).

Mahasiswa melakukan transaksi mandiri menggunakan QRIS dan kotak pembayaran tunai di Kantin Kejujuran kampus.
Baca Juga

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Penting juga untuk menyadari bahwa semua individu, tanpa terkecuali, berperan aktif dalam proses konsumsi budaya. Kita memilih, menolak, menciptakan makna, memberikan nilai, menolak, dan terkadang kita bahkan bisa tertipu atau dimanipulasi. Namun, hal ini tidak berarti kita harus mengabaikan pentingnya "politik representasi". Kita harus memahami bahwa meskipun kesenangan bersifat politis, kesenangan dan politik seringkali berbeda.

Misalnya, menyukai acara seperti "Desperate Housewives" atau "The Sopranos" tidak akan secara otomatis menentukan orientasi politik seseorang. Kesenangan dan politik adalah dua hal yang berbeda. Kita dapat menertawakan distorsi, penghindaran, dan penolakan dalam budaya massa sambil tetap mendukung politik yang mengkritik hal-hal tersebut. Kita perlu mengajarkan satu sama lain untuk memahami perbedaan antara berbagai versi realitas dan mengenali bahwa masing-masing dapat membutuhkan pendekatan politik yang berbeda.

Perlu ditekankan bahwa ini bukan berarti akhir dari politik budaya feminis atau sosialis, atau akhir dari perjuangan dalam mewakili "rasa", kelas, gender, disabilitas, atau seksualitas. Namun, hal ini harus menjadi titik pandangan bahwa pola-pola konsumsi tertentu dapat menentukan nilai moral dan politik seseorang.

Sejalan dengan perdebatan ini, kita harus menjauh dari ideologi budaya massa yang cenderung melihat budaya sebagai perpecahan antara "mereka" dan "kita". Ideologi ini seringkali didukung oleh diskursus yang kuat. Bagi yang menolak ideologi ini, kita sering kali hanya memiliki dukungan ideologi populisme, yang juga memiliki kelemahan dan keterbatasan tersendiri (Storey, 2009).

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
Baca Juga

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Alhasil, melawan kenyataan hegemoni budaya massa hari ini harus mencari cara-cara kerja konkret yang tidak jatuh ke dalam dua ekstrem, yaitu elitisme yang merendahkan dan anti-intelektualisme yang meremehkan. Sangat perlu mengajarkan konsumen untuk kritis dalam konsumsi budaya massa dan tidak mudah jatuh dalam polarisasi ekstrim antara budaya dan politik mereka versus budaya dan politik kita.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mungkinkah-melawan-hegemoni-budaya-massa/59912/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 04.28 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

Mengurangi Risiko Penggunaan Plastik Kresek Hitam pada Pedagang Kuliner Lokal

Jika Bisa Mengulang Hidup, Akankah Kita Memilih Jalan yang Sama?

Moral Dialektika sebagai Ruang Kontemplasi Gerakan Intelektual Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Pilihan Editor

  1. 1 Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3
  2. 2

    Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

  3. 3

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

  4. 4

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  5. 5

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.