Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Makanan Kukus dan Rebus Makin Digemari Pekerja Komuter Jakarta

Makanan Kukus dan Rebus Makin Digemari Pekerja Komuter Jakarta

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
24 Juni 2026, 10.13 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Makanan Kukus dan Rebus Makin Digemari Pekerja Komuter Jakarta
oto dokumentasi pribadi menunjukkan Milda Hasna, S.Gz., seorang ahli gizi lepas, di Jakarta pada 21 Juni 2026. (Xinhua/Istimewa)

Makanan Kukus Foto menunjukkan lapak makanan kukus dan rebus yang ada di sebuah stasiun kereta rel listrik (KRL) di Jakarta pada 19 Juni 2026. (Xinhua/Ferdi)

Jakarta, JurnalPost.com - Pagi baru saja menyapa Jakarta ketika Ella (45) turun dari gerbong KRL yang padat. Seperti pekerja komuter lainnya, ia bergegas menuju tempat kerja di kawasan Sudirman. Namun, sebelum melanjutkan perjalanan ke kantor, ada satu kebiasaan baru yang belakangan tak pernah ia lewatkan.

IKLAN

Ella menyempatkan diri mampir ke sebuah lapak makanan kukus dan rebus di area stasiun. Di lapak itu, terlihat jagung manis, ubi jalar, kentang, telur, hingga kacang tanah tersusun rapi dan masih mengepul hangat.

Panas Ekstrem Landa AS
Baca Juga

Gelombang Panas Ekstrem Landa AS, Death Valley Catat Rekor Suhu Malam 38,3 Derajat Celsius

Dengan uang sekitar belasan ribu rupiah, ia sudah bisa membawa pulang seporsi jagung manis dan ubi kukus untuk sarapan. Bagi Ella, pilihan itu bukan sekadar praktis, tetapi juga bagian dari upayanya menjaga kesehatan.

"Alasan utamanya tentu kesehatan," kata Ella saat ditemui di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Ella mengaku mulai lebih selektif memilih makanan sejak memasuki usia 40 tahun. Ia merasa tubuhnya tidak lagi sama seperti dulu, terutama dalam mencerna makanan tinggi minyak dan gula.

"Di usia saya yang sudah 40-an, metabolisme tubuh sudah tidak seperti dulu. Jadi harus pintar-pintar mengurangi gorengan dan makanan tinggi minyak atau gula," ujarnya.

tanaman daun pandan
Baca Juga

Dari Maluku ke Hainan, Pandan Menjadi Jembatan Rasa Indonesia dan China

Menurut Ella, makanan kukus dan rebus terasa lebih aman bagi tubuh karena minim proses pengolahan. Selain itu, ubi dan jagung yang kaya serat membuatnya kenyang lebih lama tanpa menimbulkan rasa begah.

Bagi pekerja komuter, makanan seperti ini juga dinilai praktis. Pedagang biasanya sudah menyiapkan makanan dalam kondisi matang dan hangat sehingga pembeli tidak perlu menunggu lama. Makanan kukus dan rebus juga lebih mudah dibawa karena tidak berminyak.

Dari sisi harga, makanan ini relatif ramah di kantong. Satu porsi umumnya dijual sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000. Harga tersebut dianggap lebih hemat dibandingkan membeli kopi susu kekinian atau camilan di kafe sekitar perkantoran.

Geliat Bisnis Makanan Kukus dan Rebus

robot humanoid
Baca Juga

Robot Humanoid Catat 9,39 Detik di Lari 100 Meter, Lebih Cepat dari Rekor Usain Bolt

Meningkatnya minat masyarakat urban terhadap makanan sehat turut membuka peluang bagi pelaku usaha mikro di kawasan transportasi publik. Salah satunya Hartono (48), pemilik lapak makanan kukus dan rebus di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan.

Hartono mulai berjualan sejak akhir 2022, ketika aktivitas masyarakat kembali meningkat setelah pembatasan pandemi mulai dilonggarkan. Ia melihat stasiun KRL memiliki potensi besar karena menjadi titik pertemuan ribuan pekerja setiap hari.

Menurut Hartono, pilihannya menjual makanan kukus dan rebus cukup beralasan. Selain karena harga minyak goreng sempat naik turun, makanan rebus dan kukus lebih mudah dijaga kualitasnya. Berbeda dengan gorengan yang cepat melempem saat dingin, makanan rebus tetap bisa disajikan hangat di dalam dandang.

Pekerja Komuter Jakarta oto dokumentasi pribadi menunjukkan Milda Hasna, S.Gz., seorang ahli gizi lepas, di Jakarta pada 21 Juni 2026. (Xinhua/Istimewa)

"Kalau direbus atau dikukus, makanan tetap hangat dan aromanya keluar terus," kata Hartono.

Menu yang dijual Hartono cukup beragam. Ada jagung manis rebus, kacang tanah rebus, ubi kukus, telur rebus, singkong rebus, hingga talas rebus. Harganya dipatok mulai Rp5.000 sampai Rp15.000.

Lapaknya kerap dipadati pembeli, terutama pada jam pulang kerja. Dalam sehari, omzet yang diperoleh Hartono bisa mencapai Rp800.000 hingga Rp1,2 juta pada hari kerja.

Hartono menilai tren makanan sehat di kalangan masyarakat perkotaan bukan sekadar tren sesaat. Ia melihat semakin banyak orang mulai mencari makanan yang mengenyangkan, murah, tetapi tidak terlalu berminyak.

"Menurut saya ini bukan musiman, tapi sudah jadi kebutuhan orang kota yang sibuk," ujarnya.

Tak Lagi Identik dengan Orang Tua

Selama ini makanan rebus dan kukus kerap dianggap sebagai makanan tradisional yang lebih dekat dengan generasi tua. Namun, tren itu mulai berubah. Kalangan muda kini mulai melirik makanan minim proses sebagai pilihan camilan dan sarapan.

Survei IDN Research Institute dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 yang dimuat IDN Times menunjukkan makanan rebus dan kukus semakin populer di kalangan milenial dan generasi Z.

Dalam survei terhadap 628 responden, sebanyak 85,2 persen mengaku pernah membeli makanan rebus atau kukus sebagai pengganti camilan dalam enam bulan terakhir. Sebanyak 25 persen responden mengonsumsinya secara rutin, sementara 47 persen lainnya mengonsumsi makanan rebus atau kukus setidaknya sekali dalam sepekan.

IKLAN

Alasan utama mereka memilih makanan kukus dan rebus adalah faktor kesehatan. Sebanyak 56,3 persen responden menyebut makanan jenis ini lebih sehat sekaligus membantu menghemat pengeluaran.

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kampanye gaya hidup sehat, gerakan menanam bahan pangan sendiri di rumah, serta kesadaran lingkungan di kalangan anak muda urban. Bagi sebagian orang, memilih makanan minim proses bukan hanya soal diet, tetapi juga bagian dari gaya hidup modern yang lebih bertanggung jawab.

Catatan Ahli Gizi

Freelance nutritionist Milda Hasna, S.Gz., menilai tren mengurangi gorengan dan makanan berminyak sebagai sinyal positif. Menurutnya, hal ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang sadar pentingnya mengontrol asupan kalori dan lemak jenuh.

Namun, Milda mengingatkan agar masyarakat tidak salah memahami pola makan sehat. Mengurangi gorengan bukan berarti tubuh harus benar-benar menghindari lemak.

"Secara ilmu gizi, asupan lemak tetap harus dipenuhi. Mengurangi lemak secara berlebihan justru bisa merugikan tubuh," jelas Milda.

Ia menjelaskan, tubuh tetap membutuhkan lemak untuk membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K. Lemak juga berperan dalam produksi hormon serta menjaga kecukupan energi.

Menurut Milda, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar konsumsi makanan rebus dan kukus tetap seimbang. Pertama, variasi makanan harus diperhatikan. Sebagian besar menu rebusan yang dijual di pasaran didominasi karbohidrat seperti ubi, singkong, jagung, dan kentang.

Karena itu, masyarakat disarankan menambahkan sumber protein seperti telur rebus, tahu, tempe, atau kacang kedelai rebus agar menu sarapan lebih lengkap.

Kedua, kebutuhan serat tetap perlu dicukupi. Buah potong atau sayuran seperti pecel bisa menjadi pelengkap makanan rebus dan kukus.

Ketiga, penggunaan cocolan tinggi kalori perlu dibatasi. Saus kemasan, mayones, atau bumbu tambahan berlebihan dapat mengurangi manfaat sehat dari makanan kukus dan rebus.

Keempat, pembeli perlu memperhatikan kebersihan tempat berjualan dan kesegaran makanan. Hal ini penting untuk mencegah gangguan pencernaan atau risiko keracunan makanan.

Agar Tidak Hambar

Salah satu tantangan dalam mengonsumsi makanan kukus dan rebus adalah rasanya yang cenderung hambar. Milda menyarankan penggunaan rempah alami untuk memperkaya cita rasa.

Beberapa bumbu seperti bawang putih, bawang merah, jahe, kemiri, lada, ketumbar, daun jeruk, dan daun salam dapat digunakan. Selain membuat rasa lebih menarik, rempah juga mengandung antioksidan.

Penggunaan garam atau kaldu bubuk tetap diperbolehkan, tetapi sebaiknya tidak berlebihan. Milda menyarankan bumbu tersebut ditambahkan setelah makanan matang agar rasanya lebih terasa meski jumlahnya sedikit.

Bagi penderita diabetes, makanan berbahan umbi rebus sering dianggap lebih aman karena indeks glikemiknya lebih bersahabat. Namun, Milda mengingatkan bahwa porsi tetap harus dikontrol.

Ia menyarankan penderita diabetes menerapkan konsep 3 TJ, yakni tepat jenis, tepat jumlah, dan tepat jam. Tepat jenis berarti memilih sumber karbohidrat yang lebih sesuai. Tepat jumlah berarti memperhatikan porsi dan menyeimbangkannya dengan protein serta serat. Sementara tepat jam berarti menjaga waktu makan secara konsisten agar kadar gula darah tetap stabil.

Menuju Gaya Hidup Sehat

Metode memasak dengan cara dikukus atau direbus memang dapat membantu mengurangi asupan kalori dari minyak. Pola ini juga bisa menjadi pilihan bagi orang yang sedang mengontrol berat badan.

Namun, Milda menekankan bahwa pola makan sehat tidak cukup hanya dengan mengganti gorengan dengan makanan rebus. Penurunan berat badan dan kesehatan tubuh tetap perlu didukung olahraga, tidur yang cukup, pengelolaan stres, serta konsumsi air putih yang memadai.

Ia juga mengingatkan bahwa diet sebaiknya tidak membuat seseorang merasa tertekan. Prinsipnya, pola makan sehat harus tetap menyenangkan agar bisa dijalani dalam jangka panjang.

Kembali memilih makanan lokal yang minim proses, seperti yang dilakukan Ella dan difasilitasi pedagang seperti Hartono, bisa menjadi langkah sederhana menuju pola makan yang lebih seimbang.

Selama dijalankan dengan prinsip gizi seimbang dan tidak berlebihan, tren makanan kukus dan rebus berpotensi berkembang dari sekadar kebiasaan sesaat menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat perkotaan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/makanan-kukus-dan-rebus-makin-digemari-pekerja-komuter-jakarta/94848/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.30 WITA

  • #Berita Xinhua

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Pilihan Editor

  1. 1 Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi
  2. 2

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  3. 3

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  4. 4

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  5. 5

    DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.