TAIYUAN, JurnalPost.com - Gua Yungang di Provinsi Shanxi, China utara, kini tak hanya menarik perhatian wisatawan karena patung-patung kunonya yang menjulang tinggi. Banyak pengunjung juga terlihat membawa boneka berwajah bulat dengan ekspresi tersenyum untuk berfoto di kawasan situs warisan dunia tersebut.
Boneka itu dikenal sebagai Foxiaoban, sebuah karakter kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) budaya dan kreatif modern yang terinspirasi dari warisan budaya China. Kehadirannya menciptakan kontras menarik antara peninggalan kuno berusia lebih dari 1.500 tahun dan produk budaya kontemporer yang dekat dengan anak muda.
"Saya datang ke Gua Yungang dengan membawa boneka karakter Foxiaoban ini untuk berfoto," kata Wang Jing, wisatawan berusia 28 tahun.
Menurut Wang, di balik tampilan boneka yang menggemaskan, terdapat nilai budaya mendalam yang terhubung dengan pahatan-pahatan kuno di gua tersebut. Ia menilai perpaduan antara unsur tradisional dan modern itu sangat menarik.
Gua Yungang merupakan salah satu dari empat kompleks gua utama di China. Situs ini memiliki 45 gua utama dan lebih dari 59.000 patung batu. Gua tersebut juga dikenal sebagai salah satu pencapaian tertinggi seni Buddha China pada abad kelima.
Upaya menghadirkan warisan budaya kepada generasi muda menjadi tantangan penting bagi sektor pariwisata budaya China. Foxiaoban menjadi salah satu contoh bagaimana warisan budaya dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan kreatif.
"Kami tidak pernah bermaksud untuk mereplikasi patung Buddha," kata Manajer Umum Shanxi Datong Foxiaoban Management Co., Ltd., Wang Xing.
Menurutnya, Foxiaoban dibuat untuk mengekspresikan nilai-nilai positif dalam budaya tradisional dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh generasi muda.
Karakter tersebut terinspirasi dari unsur artistik Gua Yungang, Kuil Huayan, dan Kuil Gantung, yang merupakan situs warisan ikonik di Provinsi Shanxi. Tim desain tidak meniru langsung bentuk peninggalan budaya, melainkan mengambil konsep spiritual seperti kebaikan, ketenangan, dan inklusivitas, lalu menerjemahkannya ke dalam bentuk yang lebih modern.
"Popularitas Foxiaoban membuat kami menyadari bahwa kaum muda tidak antipati terhadap budaya tradisional. Mereka hanya membutuhkan cara untuk merasa terhubung dengannya," ujar Wang.
Saat ini, Foxiaoban telah mengoperasikan 15 toko di seluruh China. Lebih dari 2,8 juta produk telah terjual dengan nilai penjualan lebih dari 180 juta yuan atau sekitar Rp477 miliar.
Keberhasilan Foxiaoban mencerminkan tren yang lebih luas dalam sektor warisan budaya China. Dalam beberapa tahun terakhir, museum dan objek wisata budaya di China semakin banyak mengembangkan produk yang lebih dekat dengan gaya hidup anak muda.
Beberapa contohnya adalah lipstik bertema Museum Istana, es krim berbentuk makhluk atap di Beijing, produk budaya dari Gua Mogao di Provinsi Gansu, blind box topeng perunggu Sanxingdui di Provinsi Sichuan, hingga boneka Prajurit Terakota di Provinsi Shaanxi.
Menurut Akademi Pariwisata China, pengalaman wisata budaya yang mendalam, konsumsi berbasis emosi, dan produk budaya tradisional China menjadi tren utama di kalangan wisatawan muda dalam beberapa tahun terakhir.
Administrasi Warisan Budaya Nasional China juga berulang kali mendorong transformasi kreatif dan pengembangan inovatif sumber daya budaya agar warisan budaya dapat lebih dekat dengan kehidupan modern.
Foxiaoban kini mulai memperluas pasar ke luar China. Produk-produknya telah dipamerkan di berbagai platform internasional, termasuk Expo 2025 Osaka dan Pameran Industri Budaya Internasional China di Shenzhen.
Perusahaan tersebut juga berencana membuka toko di Thailand, Singapura, dan sejumlah pasar internasional lainnya.
"Kami tidak sekadar menjual produk. Tujuan kami adalah berbagi estetika dan nilai-nilai budaya di balik warisan China dengan dunia melalui cara yang hangat dan mudah diakses," kata Wang.
Dari patung-patung khidmat yang terukir di gua kuno hingga boneka menggemaskan yang disukai anak muda, warisan budaya China kini menemukan bentuk ekspresi baru dalam kehidupan modern.
Seiring semakin banyaknya IP budaya yang keluar dari ruang museum dan masuk ke kehidupan sehari-hari, kekayaan budaya kuno China kembali menemukan tempat di hati generasi muda. (Xinhua)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda