Washington, JurnalPost.com — Perang Amerika Serikat dengan Iran mulai menunjukkan dampak besar terhadap kemampuan militer Washington. Laporan terbaru lembaga pengawas pemerintah AS mengungkap konflik tersebut tidak hanya menguras anggaran puluhan miliar dolar, tetapi juga menekan persediaan senjata canggih serta menyebabkan kerusakan pada pangkalan militer, pesawat, drone, hingga fasilitas diplomatik AS di Timur Tengah.
Laporan pertama mengenai Operation Epic Fury itu dirilis Office of Inspector General pada 14 September 2026. Dokumen tersebut merupakan laporan pengawasan resmi pertama mengenai operasi AS terkait perang Iran dan mencakup perkembangan hingga 30 Juni 2026.
Salah satu temuan yang mendapat perhatian adalah tekanan terhadap persediaan amunisi strategis Amerika Serikat. Konflik berkepanjangan disebut telah menguras sejumlah persenjataan berteknologi tinggi sekaligus memperlihatkan keterbatasan kapasitas industri pertahanan dalam mengganti amunisi yang telah digunakan.
Perang dengan Iran telah menyebabkan kekurangan pada persediaan strategis dan memperlihatkan hambatan pada basis industri dalam mengisi kembali amunisi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sejumlah persenjataan presisi membutuhkan proses produksi yang panjang. Laporan lain dari Congressional Budget Office (CBO) bahkan memperkirakan pemulihan sejumlah persediaan rudal presisi jarak jauh dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun. Pentagon, di sisi lain, tetap menyatakan kesiapan militer AS masih terjaga.
Ratusan Bangunan di Pangkalan AS Terdampak
Kerusakan akibat serangan Iran juga dilaporkan meluas ke jaringan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Serangan terhadap fasilitas AS dilaporkan merusak atau menghancurkan ratusan bangunan dan struktur lain yang berada di pangkalan Amerika di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.
Besarnya tekanan terhadap fasilitas di kawasan tersebut bahkan memaksa militer AS menyesuaikan sebagian jalur logistik dan menggunakan lokasi yang lebih jauh untuk mendukung operasinya.
Pesawat dan sistem udara nirawak juga terdampak. Associated Press, mengutip laporan pengawas tersebut, menyebut hingga sekitar 30 drone MQ-9 Reaper serta tujuh pesawat pengisian bahan bakar KC-135 termasuk di antara aset yang rusak atau hilang selama konflik.
Kerugian tersebut menjadi signifikan mengingat MQ-9 merupakan salah satu platform utama militer AS untuk operasi pengawasan dan serangan jarak jauh.
Biaya Perang Capai Puluhan Miliar Dolar
Dampak perang juga terasa pada anggaran pemerintah Amerika Serikat.
Pete Hegseth sebelumnya menyampaikan kepada Kongres bahwa biaya perang Iran telah mencapai sekitar 37,5 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026.
Perhitungan terbaru dari Congressional Budget Office kemudian memperkirakan pengeluaran Departemen Pertahanan AS terkait perang telah melampaui 38 miliar dolar AS hingga 1 Agustus 2026. Jika konflik berlanjut dengan intensitas yang sama, biaya tambahan diperkirakan dapat mencapai sekitar 3 miliar dolar AS setiap bulan.
Angka tersebut terutama berkaitan dengan penggunaan dan penggantian amunisi, peralatan militer, serta biaya operasi. Nilainya belum sepenuhnya menggambarkan konsekuensi jangka panjang seperti perawatan personel maupun sejumlah pengeluaran lain setelah konflik.
Fasilitas Diplomatik AS Ikut Rusak
Kerusakan tidak hanya dialami fasilitas militer.
Sejumlah kantor dan kompleks diplomatik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah turut menjadi sasaran atau terkena dampak serangan selama perang.
Fasilitas diplomatik AS di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab termasuk yang mengalami kerusakan paling berat.
Nilai kerusakan fisik terhadap fasilitas diplomatik tersebut diperkirakan mencapai 184 juta dolar AS. Pemerintah AS juga harus mengeluarkan biaya besar untuk respons darurat dan evakuasi warga serta personel dari kawasan terdampak.
Sekitar 9.000 warga Amerika dilaporkan telah dipindahkan dari sejumlah wilayah terdampak melalui kombinasi penerbangan, perjalanan darat, dan jalur laut.
Laporan tersebut memberikan gambaran lebih rinci mengenai konsekuensi perang yang sebelumnya lebih banyak terlihat melalui serangan udara dan perkembangan pertempuran di lapangan.
Tekanan terhadap Kesiapan Militer AS
Persoalan persediaan senjata menjadi salah satu aspek yang kini mendapat sorotan karena konflik Iran berlangsung ketika Amerika Serikat juga mempertahankan komitmen militernya di sejumlah kawasan lain.
Penggunaan rudal, sistem pertahanan udara, drone, dan amunisi presisi dalam jumlah besar dapat menimbulkan kebutuhan pengadaan baru yang tidak selalu dapat dipenuhi dengan cepat.
Laporan pengawas Pentagon menilai kondisi tersebut memperlihatkan persoalan pada kapasitas industri pertahanan AS untuk menggantikan persenjataan dengan kecepatan yang sebanding dengan penggunaannya selama perang.
Meski demikian, pemerintah dan Pentagon tetap menyatakan militer Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menjalankan operasinya.
Perang AS-Iran sendiri telah memasuki bulan ketujuh pada September 2026. Selain berdampak terhadap militer kedua pihak, konflik tersebut turut mengganggu perdagangan dan pengiriman energi di kawasan Teluk, termasuk sekitar Selat Hormuz, serta memberikan tekanan terhadap harga energi global.
Laporan Operation Epic Fury menjadi salah satu penilaian resmi paling rinci sejauh ini mengenai dampak konflik terhadap Amerika Serikat. Selain menunjukkan besarnya biaya finansial, laporan tersebut memperlihatkan bahwa perang juga menimbulkan tekanan terhadap persediaan senjata, infrastruktur militer, aset udara, dan jaringan diplomatik Washington di Timur Tengah.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda