Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Maduro, Amerika Serikat, dan Alarm Bahaya bagi Negara Berkembang

Maduro, Amerika Serikat, dan Alarm Bahaya bagi Negara Berkembang

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
21 Februari 2026, 19.24 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Amerika Serikat

Oleh: Nino Nafan Hudzaif

JurnalPost.com - Dunia hari ini sedang menyaksikan ujian terhadap gagasan paling mendasar dalam hukum internasional. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh operasi militer besar disertai serangan udara dan pengerahan pasukan khusus Amerika Serikat dilakukan di luar wilayah Amerika, tanpa persetujuan pemerintah setempat, dan tanpa mandat Dewan Keamanan PBB. Ini adalah peristiwa hukum global yang menyentuh kepentingan luas, terutama negara-negara berkembang yang tidak memiliki modal politik atau militer besar.

IKLAN

Lalu, apa motif geopolitik di balik operasi ini? Apa maknanya bagi larangan penggunaan kekuatan dalam hukum internasional? Dan preseden berbahaya apa bagi negara-negara berkembang?

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Membaca Motif Geopolitik Amerika Serikat

Sulit percaya operasi sebesar ini semata-mata digerakkan oleh niat membawa satu orang ke ruang sidang. Justru, operasi semacam ini lebih masuk akal dibaca sebagai upaya menata ulang pengaruh di Amerika Latin. Venezuela menyimpan cadangan minyak terbukti sekitar 303,2 miliar barel sebagai cadangan terbesar di dunia (OPEC, 2024). Sumber energi sebesar itu merupakan penentu posisi strategis dalam peta kekuatan global, mengingat adanya hubungan strategis antara Caracas dengan China, Rusia, dan Iran.

Di tengah memanasnya situasi, wacana kembalinya perusahaan-perusahaan Amerika ke sektor energi Venezuela sudah kembali mengemuka. Ini menunjukkan bahwa dimensi ekonomi, politik, dan strategi saling bertaut dalam satu simpul yang sulit dipisahkan.

Perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa fase pasca-operasi bergerak menuju konsolidasi politik dan stabilisasi strategis. Normalisasi hubungan bilateral melalui kerja sama isu narkotika dan migrasi, disertai pemberian amnesti kepada 379 tahanan politik, mencerminkan upaya simultan untuk meredakan ketegangan domestik sekaligus memulihkan legitimasi internasional. Dengan demikian, dinamika pasca-intervensi tidak hanya bersifat keamanan, tetapi juga merupakan bagian dari reposisi geopolitik yang lebih luas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Baca Juga

Trump Pertimbangkan Serangan Besar ke Iran, Akan Bertemu Pemimpin Enam Negara Teluk

Ketika Larangan Penggunaan Kekuatan Kehilangan Maknanya

Sejak 1945, dunia berusaha keluar dari logika bahwa konflik antarnegara diselesaikan oleh siapa yang paling kuat. Piagam PBB dibangun di atas gagasan bahwa kedaulatan harus dihormati dan penggunaan kekuatan (use of force) dibenarkan hanya dalam 2 (dua) situasi: self-defense atau otorisasi Dewan Keamanan PBB. Selain pada 2 (dua) kondisi tersebut, Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB melarang setiap penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial negara lain.

Kasus Venezuela tidak memenuhi kedua-duanya. Bahkan, ahli hukum internasional, Geoffrey Robertson KC menyatakan operasi AS terhadap Venezuela merupakan pelanggaran Piagam PBB dan termasuk crime of aggression karena tak dapat dibenarkan sebagai self-defense atau penegakan hukum biasa.

IKLAN

Mahkamah Internasional (ICJ) sejak lama juga telah menegaskan bahwa larangan penggunaan kekuatan adalah norma fundamental. Dalam Nicaragua v. United States dan Armed Activities on the Territory of the Congo, ICJ kembali menolak dalih keamanan atau kepentingan nasional sebagai pembenaran operasi militer tanpa mandat PBB.

gedung Capitol di Washington DC
Baca Juga

Laporan Pengawas AS Ungkap Dampak Perang Iran: Stok Senjata Menipis, Pangkalan Rusak

Preseden Berbahaya dan Efek Domino Global

Kegelisahan makin terasa pada World Economic Forum di Davos 22 Januari 2026. Presiden AS Donald Trump meluncurkan Board of Peace sebagai forum baru untuk penyelesaian konflik di luar kerangka PBB. Forum tersebut mengirimkan sinyal bahwa mekanisme multilateral yang ada sedang ditinggalkan karena tidak lagi sejalan dengan kepentingan politik negara kuat. Itulah mengapa Dino Patti Djalal, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia 2014, menekankan bahwa Indonesia perlu mengevaluasi keterlibatannya jika forum semacam itu melenceng dari tujuan perdamaian dan prinsip hukum internasional.

Dalam situasi ini, tidak lagi relevan siapa target pertamanya. Logika preseden ini makin berbahaya jika dikaitkan dengan ketegangan geopolitik yang sudah ada, terutama tekanan terhadap Iran di Timur Tengah yang terus berada di ambang eskalasi serta menguatnya manuver kekuatan besar di Arktik, termasuk atas Greenland sebagai wilayah strategis. Semua ini menunjukkan bahwa penguasaan atas ruang dan sumber daya kian terbuka dipraktikkan. Jika standar hukum digantikan oleh standar kekuatan, setiap krisis politik dan kepentingan strategis akan makin mudah diubah menjadi pembenaran tindakan sepihak.

Indonesia dan Politik Bebas Aktif

Kementerian Luar Negeri Indonesia telah menekankan pentingnya menghormati Piagam PBB, kedaulatan, serta penyelesaian konflik secara damai. Kendati demikian, Prof. Hikmahanto Juwana menegaskan bahwa dengan politik bebas-aktifnya, Indonesia perlu untuk tidak reaktif dan menjaga ruang diplomasi untuk mencegah eskalasi.

Indonesia dapat memainkan peran penting melalui ASEAN atau OKI, mengadvokasi mekanisme PBB, atau memfasilitasi dialog multilateral untuk penyelesaian damai. Strategi ini pun sejalan dengan amanat Pembukaan UUD NRI 1945, yang menegaskan peran Indonesia dalam menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Pada akhirnya, isu Venezuela bukan tentang satu negara semata. Jika tatanan internasional dibiarkan dipimpin oleh logika hukum rimba, negara dengan posisi dominan dalam sistem internasional akan makin leluasa bertindak sewenang-wenang. Hari ini Venezuela, besok bisa siapa saja. Dalam kondisi demikian, perdamaian dan keamanan global menjadi rapuh karena hukum gagal berfungsi sebagai pembatas kekuasaan.

Nino Nafan Hudzaifi

Bio Penulis: Nino Nafan Hudzaifi adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia 2018, lulusan cum laude dan Mahasiswa Berprestasi FH UI. Ia berpengalaman di bidang hukum dan kebijakan publik, serta saat ini menjabat sebagai Tenaga Ahli Muda di Kantor Staf Presiden RI dan Wakil Ketua Bidang Alumni Affairs and Partnership ILUNI UI.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/maduro-amerika-serikat-dan-alarm-bahaya-bagi-negara-berkembang/90939/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.58 WITA

  • #Amerika Serikat
  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Laboratorium ke Genggaman: Menelusuri Evolusi dan Cara Kerja Water Quality Field Test Kit
  2. 2

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  3. 3

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  4. 4

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  5. 5

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.