Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Citizen Reporter
  3. Kritik Aktivisme Mahasiswa Oleh: Muhlis Pasakai

Kritik Aktivisme Mahasiswa Oleh: Muhlis Pasakai

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
07 Februari 2019, 15.23 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Muhlis Pasakai
Muhlis Pasakai

JURNALPOST - Oleh: Muhlis Pasakai (Mantan Ketua MPM Stmik Handayani Makassar), Ketika kekuatan konvensional dianggap tidak sanggup mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam mekanisme politik formal, maka gerakan sosial menjadi jalur alternatif untuk mendorong perubahan politik dan kebijakan publik.

Gerakan mahasiswa adalah salah satu varian gerakan sosial yang dianggap memiliki kapasitas dalam mempengaruhi kebijakan, mendorong isu-isu tertentu menjadi tema perdebatan publik, bahkan gerakan secara masif dapat berujung pada tumbangnya sebuah rezim.

IKLAN

Mahasiswa yang memotori gerakan di kampus-kampus disebut sebagai aktivis. Aktivis mahasiswa adalah mereka yang kritis dan mampu menggerakkan massa untuk melakukan demonstrasi. Dalam politik dan pemerintahan, istilah aktivis memang diartikan seseorang yang menggerakkan (demonstrasi dsb).

program SEHATi
Baca Juga

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Tak dapat dipungkiri, bahwa peran para aktivis mahasiswa sangat berjasa dalam mengawal perjalanan demokrasi sebuah negara. Karena itu, menjadi aktivis dikalangan mahasiswa adalah sebuah prestasi yang patut diapresiasi sebagai pelaku sejarah di masanya. Namun demikian, menjadi aktivis mahasiswa yang heroik itu, harus ditautkan pada genuinitas nilai-nilai yang diperjuangkan. Mengapa?, agar generasi mahasiswa tidak menjadikan label “aktivis” itu bermetamorfosis menjadi bajakan.

Aktivis mahasiswa biasanya lahir dari proses dinamika kampus dan kondisi politik melalui pengkaderan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan, internal maupun eksternal dengan segenap afiliasinya. Mereka yang memiliki potensi akan berkembang sesuai corak ideologi dan pemikiran yang membentuknya.

Menjadi aktivis mahasiswa memang memiliki daya tarik tersendiri. Biasanya disegani oleh dosen dan birokrat kampus, memiliki prestise khusus bagi mahasiswa yang lain, dan yang paling magnetis adalah akses terhadap pejabat dan elit penguasa yang melahirkan pergaulan papan atas.

Ketidakadilan, penindasan, melawan, pembebasan, adalah kosakata yang melekat dalam kamus seorang aktivis mahasiswa. Itulah doktrin yang ditanamkan seperti chip dalam memori otak sehingga mampu melacak sinyal ketidakadilan, penindasan dan kawan-kawannya itu, layaknya perangkat teknologi jaringan dalam sistem komunikasi digital.

614314c8bda99
Baca Juga

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Daya kritis itu akan mendorong untuk melakukan pergerakan dan perlawanan, umumnya dalam bentuk demonstrasi. Karena itu, belum lengkap nampaknya mahasiswa disebut sebagai aktivis sebelum turun ke jalan, orasi, membakar ban, dan teriak-teriak menggunakan toa megaphone, bahkan terkadang merusak fasilitas publik.

Berorasi dan menjadi jenderal lapangan memang sesuatu yang sangat bergengsi, disorot beragam media dan terkesan sebagai pahlawan. Apalagi di republik ini, gerakan demonstrasi mahasiswa menjadi salah satu kebanggaan yang melegenda dalam melengserkan rezim orde baru.

Asupan energi lainnya, ada semacam dogma bahwa para bintang seperti di parlemen adalah mantan demonstran. Inilah yang terkadang mendorong gairah mahasiswa semakin bernyali untuk menjadi “singa jalanan”. Apalagi, selalu disuarakan sebagai hak kebebasan mengeluarkan pendapat yang dilindungi oleh pasal 28E UUD 1945.

IKLAN

Demonstrasi mungkin dianggap hal yang biasa, selama tidak mengganggu. Meskipun sebetulnya demonstrasi itu adalah upaya untuk menganggu aktivitas normal agar dapat menyita perhatian publik. Semakin demonstrasi itu “mengganggu”, semakin cepat, semakin besar dan semakin luas respon yang didapatkannya. Itulah sifat dasar demonstrasi. Mungkin karena itulah, salah satu panggung yang paling diminati para aktivis untuk menyalurkan perlawanannya adalah melalui demonstrasi.

Mahasiswa melakukan transaksi mandiri menggunakan QRIS dan kotak pembayaran tunai di Kantin Kejujuran kampus.
Baca Juga

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Demonstrasi memang bukan kolektifitas liar berupa anarkisme jalanan, tapi kerusuhan, teriakan kata-kata kasar, perusakan adalah hal yang rentan bahkan terkadang menjadi langganan dalam sebuah demonstrasi.

Demonstrasi dengan berbagai ekses yang ditimbulkannya ini mungkin disebabkan oleh mindset bahwa untuk menjadi aktivis sejati, untuk membentuk diri menjadi figur, terlebih dahulu harus menjadi demonstran.

Sisi lain yang menarik adalah ketika seorang aktivis mahasiswa sangat kritis namun sekaligus “dekat” dengan para penguasa yang selalu dikritiknya, bahkan terlihat sangat bersahabat, mungkin setelah diajak “ngopi”. Hal semacam ini terkadang menjadi sesuatu yang sulit dimengerti pada diri seorang aktivis. Dikhawatirkan, jika menjadi aktivis hanya modus untuk dapat ikut menikmati hidangan kue kekuasaan yang mewah, itulah hedonisme aktivis.

Tak kalah menariknya dalam dunia aktivisme dan pergerakan adalah mendapatkan “panggung” untuk menokohkan diri. Sering tampil membela dan mendampingi orang-orang yang dianggap sebagai korban adalah salah satu cara praktis untuk menjadi figur. Tentu tidak masalah, selama “panggung” itu tidak dipaksa-paksa atau selera penokohannya yang lebih dominan. Jika iya, maka aktivisme itu hanyalah menjadi sirkulasi penokohan untuk menjadi elit, sehingga siklus yang terbentuk adalah demonstran mendemo mantan demonstran. Menjadi aktivis mahasiswa akhirnya diterjemah sebagai cara melenggang ke panggung kekuasaan.

Untuk menjaga semua itu, untuk merawat sakralitas aktivis, maka muatan istilah “aktivis” harus diperkaya.

Aktivis tidaklah harus selalu identik dengan perlawanan frontal, menyuarakan ketidakadilan, mengadvokasi korba-korban penindasan, dan vokal mengkritik sebuah kebijakan.

Mahasiswa yang berorasi dipinggir jalan untuk mengumpulkan donasi terhadap berbagai korban bencana dan solidaritas kemanusiaan juga adalah aktivis yang melakukan perlawanan terhadap individualisme dan keserakahan. Mahasiswa yang bergabung sebagai pegiat literasi juga aktivis yang melakukan pembebasan terhadap penjara kebodohan. Mahasiswa yang melakukan inovasi-inovasi pemberdayaan ekonomi dan wirausaha juga aktivis yang melawan penindasan kemiskinan. Mahasiswa yang aktif bergerak di bidang da'wah juga aktivis yang melawan virus-virus spiritualitas. Mahasiswa yang berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan yang memberikan perhatian terhadap sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan juga aktivis yang melakukan perang terhadap keterbelakangan. Begitupula dengan mahasiswa dengan aktivitas intelektual di berbagai bidang pemikiran, juga layak disebut sebagai aktivis.

Aktivis adalah orang yang aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya, itulah arti aktivis sebagai nomina dalam KBBI, tidak diartikan sebagai demonstran.

Berhati-hatilah menjadi aktivis yang meneriakkan kebebasan, tapi sekaligus memenjarakan kebebasan. Itu dicela dalam as-Shaff: 2, “mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan”. Alih-alih memperjuangkan dan mengurusi orang lain, diri sendiri saja berantakan bahkan mungkin menjadi beban keluarga, miskin nilai keteladanan, kendati aktivisme itu adalah tentang ekspektasi kolektif. (*)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kritik-aktivisme-mahasiswa-oleh-muhlis-pasakai/8786/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.12 WITA

  • #Kritik Aktivisme
  • #Mahasiswa
  • #Muhlis Pasakai

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa UNDIP Kembangkan Dentavera sebagai Inovasi Perawatan Mulut

KKN Universitas Merdeka Malang Bangun Greenhouse Bambu, Dorong Ketahanan Pangan Warga Pandanrejo

KKN 179 UMM Pasang Papan Jadwal Pembagian Air di Bangelan, Cegah Perebutan Antarwarga

Warga Desa Tlekung Diajak Manfaatkan Urine Sapi Jadi Pupuk Organik Cair untuk Percepat Pertumbuhan Pakan Ternak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Pilihan Editor

  1. 1 Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan
  2. 2

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  5. 5

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.