Oleh: Florencita, Raja Oloan Tumanggor, Samantha Gloria Nata Charis, Cut Nazira Al Hafitdzah Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
JurnalPost.com Masa remaja awal, yang berada pada rentang usia 11–14 tahun, merupakan salah satu fase paling penting dalam kehidupan individu. Pada tahap ini, remaja mulai mengalami berbagai perubahan yang signifikan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Perubahan tersebut tidak hanya mempengaruhi cara mereka berperilaku, tetapi juga cara mereka memandang diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Di fase ini, remaja mulai membentuk identitas diri, mencari pengakuan, serta memiliki keinginan yang kuat untuk diterima oleh kelompok sosialnya.
Remaja pada tahap ini cenderung lebih peka terhadap penilaian dari lingkungan sekitar. Bahkan, hal kecil seperti komentar dari teman sebaya bisa memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perasaan mereka. Tidak sedikit remaja yang mulai merasa kurang percaya diri, malu, atau meragukan kemampuan dirinya hanya karena merasa tidak sama dengan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa masa remaja awal merupakan fase yang cukup rentan terhadap munculnya masalah kepercayaan diri.
Dalam konteks perkembangan psikologis, terdapat dua konsep penting yang sangat berperan dalam fase ini, yaitu self-esteem dan self-confidence. Self-esteem merujuk pada bagaimana individu menilai dan menghargai dirinya sendiri, baik secara positif maupun negatif (Khansa Mujahidah & Indri Utami Sumaryanti, 2025). Sementara itu, self-confidence berkaitan dengan keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi berbagai situasi dan tantangan.
Kedua aspek ini memiliki hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Individu dengan self-esteem yang baik cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi. Mereka mampu menerima kelebihan dan kekurangan diri, serta lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial. Selain itu, self-esteem yang positif juga mendorong individu untuk berprestasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki, tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar (Agustina et al., 2025).
Sebaliknya, individu dengan self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak berharga, ragu terhadap kemampuan diri, serta memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap kegagalan. Mereka juga sering mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pendapat dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial (Anjali et al., 2024). Kondisi ini tentu dapat menghambat perkembangan sosial maupun akademik remaja apabila tidak ditangani dengan baik.
Rendahnya self-esteem (harga diri) dan self-confidence (kepercayaan diri) pada remaja merupakan fenomena yang masih sering dijumpai. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak remaja yang terlihat kurang berani berbicara di depan umum, ragu untuk mengemukakan pendapat, serta merasa dirinya lebih rendah dibandingkan teman sebaya. Perasaan tidak percaya diri ini umumnya dipengaruhi oleh kebiasaan membandingkan diri secara tidak sehat, kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar, serta terbatasnya ruang untuk mengekspresikan diri.
Jika dilihat dari sudut pandang teori psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Menurut Maslow, setiap individu memiliki kebutuhan yang tersusun secara bertingkat, mulai dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri (Mustofa, 2022). Salah satu kebutuhan penting dalam tahap perkembangan remaja adalah kebutuhan akan penghargaan diri (esteem needs), yaitu kebutuhan untuk dihargai, diakui, serta merasa memiliki nilai di mata orang lain.
Kebutuhan akan penghargaan diri meliputi rasa percaya diri, perasaan bahwa diri memiliki nilai, serta adanya pengakuan terhadap kemampuan yang dimiliki. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu berisiko mengalami berbagai permasalahan psikologis, seperti merasa rendah diri, kurang yakin terhadap kemampuan sendiri, dan kesulitan dalam mengembangkan potensi yang ada. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan penghargaan diri menjadi hal yang sangat krusial, khususnya pada masa remaja awal.
Sejalan dengan hal tersebut, Rosenberg menjelaskan bahwa self-esteem merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara keseluruhan (Rosenberg, n.d.). Individu dengan self-esteem yang tinggi akan memiliki rasa hormat terhadap dirinya sendiri dan meyakini bahwa dirinya layak untuk dihargai. Hal ini menunjukkan bahwa self-esteem tidak hanya berkaitan dengan penilaian internal, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman sosial dan interaksi dengan lingkungan.
Gambaran mengenai rendahnya self-esteem dan self-confidence pada remaja dapat diamati dari hasil observasi yang dilakukan di salah satu RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Dalam kegiatan tersebut, terlihat bahwa sejumlah remaja menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang masih rendah. Hal ini tampak dari sikap mereka yang cenderung pasif selama kegiatan berlangsung, kurang berinisiatif untuk menyampaikan pendapat, serta merasa malu ketika diminta tampil di depan teman-temannya. Selain itu, beberapa remaja juga terlihat gugup, menghindari kontak mata, dan mengalami kesulitan untuk terbuka dalam berinteraksi.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa masih terdapat remaja yang belum mampu mengenali potensi diri secara optimal serta belum memiliki rasa percaya diri yang memadai untuk mengekspresikan diri. Apabila situasi ini terus berlangsung, maka dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan sosial, kemampuan komunikasi, serta keberanian dalam mencoba hal-hal baru.
Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan suatu program intervensi berbasis psikoedukasi yang bertujuan untuk meningkatkan self-esteem dan self-confidence pada remaja awal. Program ini dirancang dengan pendekatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga interaktif, sehingga sesuai dengan karakteristik perkembangan remaja.
Rangkaian kegiatan dalam program ini mencakup diskusi kelompok, permainan interaktif, sesi tanya jawab, serta presentasi sederhana. Melalui kegiatan tersebut, remaja diberikan kesempatan untuk terlibat secara aktif, mengemukakan pendapat, serta melatih kemampuan komunikasi mereka dalam suasana yang mendukung.
Salah satu kegiatan yang terbukti cukup efektif adalah aktivitas menuliskan tiga kelebihan diri. Dalam kegiatan ini, setiap remaja diminta untuk mengidentifikasi serta menuliskan tiga hal positif yang dimiliki, kemudian mempresentasikannya di hadapan teman-temannya. Meskipun sederhana, aktivitas ini memberikan dampak yang signifikan dalam membantu remaja menyadari bahwa setiap individu memiliki keunikan serta potensi yang berbeda-beda.
Kemampuan untuk berbicara di depan umum juga menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan kepercayaan diri. Keterampilan komunikasi yang baik tidak hanya mempermudah interaksi sosial, tetapi juga membantu individu dalam menyampaikan ide dan gagasan secara efektif. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa kemampuan berbicara membutuhkan kepercayaan diri yang kuat (Agustina et al., 2025). Selain itu, aktivitas public speaking juga terbukti dapat meningkatkan rasa percaya diri serta keterampilan komunikasi remaja (Abul et al., 2025).
Seiring dengan berjalannya program, terlihat adanya perubahan perilaku yang cukup signifikan pada remaja. Remaja yang sebelumnya pasif mulai berani untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Mereka juga mulai menunjukkan keberanian untuk tampil di depan serta lebih aktif dalam mengikuti kegiatan. Selain itu, suasana kegiatan yang menyenangkan membuat remaja merasa lebih nyaman dan tidak takut untuk mencoba.
Hasil ini juga diperkuat melalui pengukuran menggunakan Rosenberg Self-esteem Scale (RSES), yang dilakukan sebelum dan setelah program intervensi. RSES merupakan salah satu instrumen yang banyak digunakan untuk mengukur self-esteem karena memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Berdasarkan hasil pengukuran, sebagian besar remaja mengalami peningkatan skor setelah mengikuti program, yang menunjukkan adanya peningkatan self-esteem dan self-confidence.
Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menyatakan bahwa dukungan sosial, kesempatan untuk berpartisipasi, serta pengalaman positif dalam lingkungan sosial dapat meningkatkan self-esteem dan self-confidence individu (Anjali et al., 2024). Melalui aktivitas interaktif, remaja tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman langsung yang membantu mereka membangun rasa percaya diri.
Meskipun demikian, tidak semua remaja menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi lingkungan, tingkat kenyamanan individu, serta durasi intervensi yang relatif singkat. Namun, secara keseluruhan program yang dilakukan tetap memberikan dampak positif bagi sebagian besar peserta.
Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa membangun self-esteem dan self-confidence pada remaja merupakan proses yang membutuhkan waktu, dukungan, dan lingkungan yang tepat. Remaja perlu diberikan ruang untuk mencoba, kesempatan untuk gagal, serta dukungan untuk bangkit kembali.
Pada akhirnya, ketika remaja mampu mengenali dan menghargai dirinya sendiri, mereka akan lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kepercayaan diri yang baik tidak hanya membantu dalam aspek sosial, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mencapai potensi diri secara optimal. (***)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda