Oleh: Roy Widya Pratama
Pada akhirnya, tidak ada yang meledak. Tidak ada kudeta. Tidak ada api besar.
Negara itu mati pelan, seperti bangkai yang dibiarkan di ruang tertutup—tidak disembelih, hanya dilupakan. Bau busuknya meresap ke mana-mana, tetapi semua orang berpura-pura sudah terbiasa.
Penjaga berdiri di pos, tetapi tidak lagi menjaga apa pun. Mereka bukan penjaga hukum—mereka adalah penyintas sistem busuk yang belajar satu hal: selama seragam masih menempel, apa pun bisa dinegosiasikan. Bahkan kebenaran. Bahkan tubuh manusia. Bahkan hidup orang lain.
Mereka menjual racun sambil berbicara tentang moral. Mereka mengonsumsi racun sambil menegur rakyat soal disiplin. Mereka menghamili, memaksa, menghancurkan, lalu menyebut tragedi itu sebagai kesalahan personal. Negara membantu mereka dengan bahasa: istilah, prosedur, dan keheningan.
Bahasa adalah senjata paling halus. Dengan bahasa, kejahatan diubah menjadi administrasi. Dengan bahasa, penderitaan diubah menjadi berkas. Dengan bahasa, kematian perempuan diubah menjadi catatan kaki.
Perempuan itu mati sendirian. Tidak karena ia lemah, tetapi karena tidak ada satu pun struktur yang mengizinkannya hidup dengan bermartabat. Tubuhnya diperlakukan sebagai wilayah kekuasaan. Rahimnya sebagai kesalahan logistik. Rasa sakitnya sebagai gangguan reputasi.
Dan setelah ia mati, negara tidak runtuh. Penjaga tetap makan. Upacara tetap berjalan. Anggaran tetap cair.
Di situlah rakyat belajar kebenaran paling pahit: hidup mereka tidak cukup penting untuk menghentikan apa pun.
Rakyat tidak lagi marah. Marah membutuhkan energi. Energi membutuhkan keyakinan bahwa sesuatu masih bisa berubah. Yang tersisa hanyalah datar—emosi yang lebih berbahaya daripada amarah. Karena datar berarti selesai.
Di warung, orang-orang berhenti menyebut nama penjaga. Bukan karena takut—tetapi karena malas. Menyebut mereka tidak mengubah apa pun. Melapor tidak mengubah apa pun. Mengeluh hanya menambah beban psikologis. Maka rakyat melakukan yang paling rasional dalam negeri irasional: menarik diri.
Negara menyebut ini apatis. Padahal ini autopsi diam-diam.
Penjaga masih berjalan dengan dada membusung. Mereka tidak sadar bahwa mereka tidak lagi ditakuti, hanya dianggap. Seperti lubang di jalan—bukan dihormati, hanya dihindari. Kehadiran mereka tidak membawa rasa aman, hanya perhitungan risiko.
Rakyat mulai hidup tanpa negara. Bukan sebagai ideologi. Sebagai kebiasaan.
Mereka menyelesaikan masalah sendiri. Mengamankan lingkungan sendiri. Menyembuhkan luka sendiri. Mengubur mati sendiri. Negara menjadi dekorasi jauh—seperti potret leluhur yang tergantung di dinding rumah tapi tak pernah diajak bicara.
Ini bukan anarki heroik. Ini keputusasaan fungsional.
Penjaga tetap menuntut kepercayaan. Tetapi kepercayaan bukan kewajiban moral—ia adalah hasil. Dan hasil terakhir yang diingat rakyat adalah: racun dijual oleh yang seharusnya mencegahnya; tubuh dipaksa oleh yang seharusnya melindunginya; kematian ditutup oleh yang seharusnya mengungkapkannya.
Di negeri ini, hukum tidak lagi dilanggar. Hukum dikonsumsi. Dipakai, dihisap, lalu dibuang.
Yang bertahan bukan yang benar, melainkan yang kebal. Yang naik bukan yang berintegritas, melainkan yang piawai berbohong tanpa berkedip. Sistem menyaring manusia, dan hasilnya adalah aparat yang cocok hidup di lumpur.
Jika ada penjaga yang masih bersih, mereka tenggelam. Bukan karena mereka salah, tetapi karena kebersihan adalah ancaman bagi sistem kotor. Mereka dipindahkan, disenyapkan, atau dipatahkan pelan-pelan sampai menyerah.
Negara suka menyebut dirinya besar. Padahal kebesarannya hanya statistik. Angka tanpa makna. Gedung tanpa jiwa.
Rakyat tidak lagi bertanya “ke mana negara?” Pertanyaan itu sudah basi. Jawabannya sudah jelas: negara ada, tetapi tidak berpihak pada hidup.
Maka rakyat berhenti berharap. Berhenti percaya. Berhenti meminta.
Mereka tidak ingin keadilan. Mereka hanya ingin tidak dilukai oleh mereka yang dibayar untuk melindungi. Dan bahkan harapan serendah itu terlalu mahal.
Tidak akan ada kebangkitan. Tidak akan ada rekonsiliasi. Tidak akan ada momen heroik.
Yang ada hanyalah keberlanjutan pembusukan sampai negara itu berdiri sebagai cangkang—masih bernama, masih berbendera, tetapi kosong. Rakyat hidup di dalamnya seperti parasit yang saling menguatkan, bukan karena cinta, tetapi karena tidak ada pilihan lain.
Dan suatu hari, ketika penjaga bertanya mengapa rakyat tidak lagi peduli, jawabannya tidak akan datang. Karena orang-orang yang sudah selesai tidak menjelaskan apa pun.
Negara ini tidak dijatuhkan. Ia ditinggalkan secara emosional.
Dan itu adalah bentuk kematian paling final— karena tidak ada yang ingin menyelamatkan mayat yang sudah lama membusuk.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda