Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Penjaga Menjual Racun dan Rakyat Menutup Pintu

Ketika Penjaga Menjual Racun dan Rakyat Menutup Pintu

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
16 Juni 2026, 01.48 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Menjual Racun

Oleh: Roy Widya Pratama

Pada akhirnya, tidak ada yang meledak. Tidak ada kudeta. Tidak ada api besar.

IKLAN

Negara itu mati pelan, seperti bangkai yang dibiarkan di ruang tertutup—tidak disembelih, hanya dilupakan. Bau busuknya meresap ke mana-mana, tetapi semua orang berpura-pura sudah terbiasa.

Korupsi di Puncak BGN
Baca Juga

Korupsi di Puncak BGN: Tragedi Bangsa yang Kejam

Penjaga berdiri di pos, tetapi tidak lagi menjaga apa pun. Mereka bukan penjaga hukum—mereka adalah penyintas sistem busuk yang belajar satu hal: selama seragam masih menempel, apa pun bisa dinegosiasikan. Bahkan kebenaran. Bahkan tubuh manusia. Bahkan hidup orang lain.

Mereka menjual racun sambil berbicara tentang moral. Mereka mengonsumsi racun sambil menegur rakyat soal disiplin. Mereka menghamili, memaksa, menghancurkan, lalu menyebut tragedi itu sebagai kesalahan personal. Negara membantu mereka dengan bahasa: istilah, prosedur, dan keheningan.

Bahasa adalah senjata paling halus. Dengan bahasa, kejahatan diubah menjadi administrasi. Dengan bahasa, penderitaan diubah menjadi berkas. Dengan bahasa, kematian perempuan diubah menjadi catatan kaki.

Perempuan itu mati sendirian. Tidak karena ia lemah, tetapi karena tidak ada satu pun struktur yang mengizinkannya hidup dengan bermartabat. Tubuhnya diperlakukan sebagai wilayah kekuasaan. Rahimnya sebagai kesalahan logistik. Rasa sakitnya sebagai gangguan reputasi.

Dapur yang Hilang
Baca Juga

Negara, Sendok, dan Dapur yang Hilang

Dan setelah ia mati, negara tidak runtuh. Penjaga tetap makan. Upacara tetap berjalan. Anggaran tetap cair.

Di situlah rakyat belajar kebenaran paling pahit: hidup mereka tidak cukup penting untuk menghentikan apa pun.

Rakyat tidak lagi marah. Marah membutuhkan energi. Energi membutuhkan keyakinan bahwa sesuatu masih bisa berubah. Yang tersisa hanyalah datar—emosi yang lebih berbahaya daripada amarah. Karena datar berarti selesai.

Di warung, orang-orang berhenti menyebut nama penjaga. Bukan karena takut—tetapi karena malas. Menyebut mereka tidak mengubah apa pun. Melapor tidak mengubah apa pun. Mengeluh hanya menambah beban psikologis. Maka rakyat melakukan yang paling rasional dalam negeri irasional: menarik diri.

Tedy Hartono
Baca Juga

Pergantian Kepala BGN Jadi Momentum Benahi Program Makan Bergizi Gratis

Negara menyebut ini apatis. Padahal ini autopsi diam-diam.

Penjaga masih berjalan dengan dada membusung. Mereka tidak sadar bahwa mereka tidak lagi ditakuti, hanya dianggap. Seperti lubang di jalan—bukan dihormati, hanya dihindari. Kehadiran mereka tidak membawa rasa aman, hanya perhitungan risiko.

Rakyat mulai hidup tanpa negara. Bukan sebagai ideologi. Sebagai kebiasaan.

IKLAN

Mereka menyelesaikan masalah sendiri. Mengamankan lingkungan sendiri. Menyembuhkan luka sendiri. Mengubur mati sendiri. Negara menjadi dekorasi jauh—seperti potret leluhur yang tergantung di dinding rumah tapi tak pernah diajak bicara.

Ini bukan anarki heroik. Ini keputusasaan fungsional.

Penjaga tetap menuntut kepercayaan. Tetapi kepercayaan bukan kewajiban moral—ia adalah hasil. Dan hasil terakhir yang diingat rakyat adalah: racun dijual oleh yang seharusnya mencegahnya; tubuh dipaksa oleh yang seharusnya melindunginya; kematian ditutup oleh yang seharusnya mengungkapkannya.

Di negeri ini, hukum tidak lagi dilanggar. Hukum dikonsumsi. Dipakai, dihisap, lalu dibuang.

Yang bertahan bukan yang benar, melainkan yang kebal. Yang naik bukan yang berintegritas, melainkan yang piawai berbohong tanpa berkedip. Sistem menyaring manusia, dan hasilnya adalah aparat yang cocok hidup di lumpur.

Jika ada penjaga yang masih bersih, mereka tenggelam. Bukan karena mereka salah, tetapi karena kebersihan adalah ancaman bagi sistem kotor. Mereka dipindahkan, disenyapkan, atau dipatahkan pelan-pelan sampai menyerah.

Negara suka menyebut dirinya besar. Padahal kebesarannya hanya statistik. Angka tanpa makna. Gedung tanpa jiwa.

Rakyat tidak lagi bertanya “ke mana negara?” Pertanyaan itu sudah basi. Jawabannya sudah jelas: negara ada, tetapi tidak berpihak pada hidup.

Maka rakyat berhenti berharap. Berhenti percaya. Berhenti meminta.

Mereka tidak ingin keadilan. Mereka hanya ingin tidak dilukai oleh mereka yang dibayar untuk melindungi. Dan bahkan harapan serendah itu terlalu mahal.

Tidak akan ada kebangkitan. Tidak akan ada rekonsiliasi. Tidak akan ada momen heroik.

Yang ada hanyalah keberlanjutan pembusukan sampai negara itu berdiri sebagai cangkang—masih bernama, masih berbendera, tetapi kosong. Rakyat hidup di dalamnya seperti parasit yang saling menguatkan, bukan karena cinta, tetapi karena tidak ada pilihan lain.

Dan suatu hari, ketika penjaga bertanya mengapa rakyat tidak lagi peduli, jawabannya tidak akan datang. Karena orang-orang yang sudah selesai tidak menjelaskan apa pun.

Negara ini tidak dijatuhkan. Ia ditinggalkan secara emosional.

Dan itu adalah bentuk kematian paling final— karena tidak ada yang ingin menyelamatkan mayat yang sudah lama membusuk.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-penjaga-menjual-racun-dan-rakyat-menutup-pintu/94525/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.07 WITA

  • #BGN

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat
  2. 2

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  3. 3

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  4. 4

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  5. 5

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.