Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Intelektual Dipanggil untuk Menyelamatkan Republik

Ketika Intelektual Dipanggil untuk Menyelamatkan Republik

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
10 Mei 2026, 10.13 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Menyelamatkan Republik
Prof. Dr. Hariyono, M.Pd Berorasi di Outdoor Learning Space Universitas Negeri Malang

Oleh: Ghina Mohga Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Malang

JurnalPost.com - Seminar bertema “Merebut Akademik, Merawat Republik” merupakan forum diskusi intelektual yang membahas hubungan antara dunia pendidikan, nasionalisme, dan peran mahasiswa dalam menjaga masa depan bangsa. Seminar ini diselenggarakan oleh UPT Laboratorium Pancasila di Universitas Negeri Malang (UM) pada Senin, (04/05/2026) dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum. Kegiatan tersebut menampilkan orasi 10 dosen Universitas Negeri Malang dan menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan gagasan kritis mengenai kondisi bangsa saat ini. Dalam seminar ini, para pembicara menekankan bahwa kampus bukan hanya tempat mencari gelar, tetapi juga arena perjuangan intelektual. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang berani menyuarakan kebenaran dan peduli terhadap persoalan sosial.

IKLAN

Peristiwa inti dalam seminar ini adalah penyampaian berbagai pandangan mengenai pentingnya merebut kembali fungsi akademik demi menjaga keberlangsungan republik. Para pembicara menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar karena semakin dekat dengan kepentingan industri dan semakin jauh dari nilai kemanusiaan. Kampus seharusnya menjadi tempat tumbuhnya pemikiran kritis, bukan sekadar tempat memenuhi kebutuhan administratif pendidikan. Seminar ini juga membahas bagaimana mahasiswa harus mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pekerjaan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.

Kehamilan
Baca Juga

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Prof. Dr. Hariyono, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri Malang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kesejahteraan bangsa tidak hanya diukur dari tersedianya makanan bagi masyarakat, tetapi juga pendidikan dan kesehatan yang layak. Menurut beliau, negara yang maju adalah negara yang mampu memberikan akses pendidikan dan kesehatan secara merata kepada seluruh rakyatnya. Beliau juga berharap kampus dapat menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan bangsa tanpa rasa takut. Selain itu, negara harus dipimpin oleh penyelenggara yang memiliki nilai-nilai keluhuran dan moralitas yang baik. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki hubungan erat dengan kualitas kehidupan masyarakat dan masa depan bangsa.

Dalam seminar ini juga dibahas pemikiran Tan Malaka melalui karya Menuju Republik Indonesia dan konsep MADILOG (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Pemikiran tersebut menekankan pentingnya berpikir rasional dan berbasis data dalam memahami realitas sosial. Tan Malaka mengkritik masyarakat yang masih terjebak dalam pola pikir mistik sehingga sulit berkembang secara ilmiah. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu berpikir kritis dan membangun teori berdasarkan fakta yang ada. Data tidak hanya dipahami sebagai kumpulan angka, tetapi juga harus diolah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Selain membahas pola pikir kritis, seminar ini juga menyoroti pentingnya ruang inklusif dalam kehidupan kampus. Kampus harus menjadi tempat bertemunya berbagai etnis, budaya, dan pemikiran tanpa adanya diskriminasi. Keberagaman justru dapat memperkaya wawasan intelektual mahasiswa dalam memahami persoalan bangsa. Dalam seminar tersebut juga dijelaskan bahwa seorang Pancasilais tidak cukup hanya memiliki sikap toleransi, tetapi juga harus memiliki kualitas berpikir dan kompetensi yang baik. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap terbuka dan menghargai sesama.

IKLAN

Prof. Hadi Nur, Ph.D., menyampaikan refleksi mengenai makna rumah dan nasionalisme. Menurut beliau, seseorang sering kali baru memahami arti rumah ketika berada jauh dari rumah tersebut. Saat melihat bendera Indonesia di luar negeri, muncul rasa hangat dan bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui simbol negara, tetapi juga melalui rasa memiliki terhadap tanah air. Di tengah arus globalisasi, generasi muda perlu menjaga identitas nasional agar tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Hima Care
Baca Juga

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Dr. Heny Kusdiyanti S.Pd, M.M  dalam seminar tersebut mengajak perempuan untuk terus berkembang secara intelektual dan mempersiapkan diri agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurut beliau, perempuan merupakan motor pertama pergerakan karena perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia juga menekankan pentingnya etika dalam penggunaan teknologi di era digital saat ini. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk menciptakan karya dan membantu memberantas kemiskinan. Selain itu, mahasiswa harus memiliki sikap positif dan semangat untuk terus berkembang karena mereka merupakan agen perubahan di masa depan.

Pandangan lain disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd., yang menyatakan bahwa kampus merupakan arena perjuangan intelektual dan tempat keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Penelitian tidak boleh hanya menjadi formalitas administratif, tetapi harus benar-benar berlandaskan intelektualitas dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Hal ini diperkuat oleh perwakilan mahasiswa dari Ketua BEM FIS, Bima Juliansyah Rodeo yang menuntut adanya kebebasan berpendapat di lingkungan akademik. Mahasiswa harus berani menyuarakan kritik dan gagasan demi terciptanya perubahan sosial yang lebih baik. Dengan adanya kebebasan berpikir, kampus dapat menjalankan fungsinya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

Ahmad Tohe M.A., Ph.D juga menyampaikan bahwa kuliah tidak semata-mata bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk membentuk manusia yang utuh. Saat ini, banyak program studi dianggap tidak relevan dengan dunia kerja karena pendidikan terlalu diukur berdasarkan kebutuhan industri. Padahal, ilmu sosial dan humaniora memiliki peran penting dalam menjaga nilai kemanusiaan. Oleh sebab itu, pendidikan harus mampu menghidupkan kembali semangat demokrasi seperti pada awal kemerdekaan. Mahasiswa perlu memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang menjadi tenaga kerja, tetapi juga tentang menjadi manusia yang peduli terhadap sesama.

Di akhir seminar, Prof. Dr. Djoko Saryono M.Pd menyampaikan kritik terhadap kondisi akademik saat ini yang disebut sebagai “orde baru kedua”. Menurutnya, mahasiswa dan akademisi harus banyak membaca teori dan membangun tradisi berpikir kritis agar dunia akademik tidak kehilangan perannya di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa “merebut akademik demi republik” berarti mengembalikan fungsi kampus sebagai ruang perjuangan intelektual yang berpihak kepada rakyat. Selain itu, Ibu Evynurul Laily Zen S.S, M.A, Ph.D  juga mengingatkan bahwa mahasiswa harus mampu menembus batas dunia dan menjadi wajah Indonesia di mata internasional. Namun, di tengah keterbukaan global, mahasiswa tidak boleh melupakan akar budaya dan nilai-nilai lokal Indonesia.

Mahasiswa
Baca Juga

Inovasi Pendidikan UM: Dosen dan Mahasiswa Kembangkan “DIGESTA” STEAM-Workbook untuk Tingkatkan Keterampilan Kolaborasi Siswa SMP

Melalui seminar ini, peserta mendapatkan banyak pelajaran mengenai pentingnya pendidikan, nasionalisme, dan keberanian berpikir kritis. Seminar ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga masa depan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan kepedulian sosial. Kampus harus tetap menjadi ruang kebebasan intelektual agar lahir generasi yang berani menyuarakan kebenaran. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pekerjaan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moralitas. Dengan semangat “merebut akademik dan merawat republik”, generasi muda diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-intelektual-dipanggil-untuk-menyelamatkan-republik/92999/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.16 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Negeri Malang

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Pilihan Editor

  1. 1 Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah
  2. 2

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  3. 3

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

  4. 4

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  5. 5

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.