Oleh: Ghina Mohga Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Malang
JurnalPost.com - Seminar bertema “Merebut Akademik, Merawat Republik” merupakan forum diskusi intelektual yang membahas hubungan antara dunia pendidikan, nasionalisme, dan peran mahasiswa dalam menjaga masa depan bangsa. Seminar ini diselenggarakan oleh UPT Laboratorium Pancasila di Universitas Negeri Malang (UM) pada Senin, (04/05/2026) dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum. Kegiatan tersebut menampilkan orasi 10 dosen Universitas Negeri Malang dan menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan gagasan kritis mengenai kondisi bangsa saat ini. Dalam seminar ini, para pembicara menekankan bahwa kampus bukan hanya tempat mencari gelar, tetapi juga arena perjuangan intelektual. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang berani menyuarakan kebenaran dan peduli terhadap persoalan sosial.
Peristiwa inti dalam seminar ini adalah penyampaian berbagai pandangan mengenai pentingnya merebut kembali fungsi akademik demi menjaga keberlangsungan republik. Para pembicara menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar karena semakin dekat dengan kepentingan industri dan semakin jauh dari nilai kemanusiaan. Kampus seharusnya menjadi tempat tumbuhnya pemikiran kritis, bukan sekadar tempat memenuhi kebutuhan administratif pendidikan. Seminar ini juga membahas bagaimana mahasiswa harus mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pekerjaan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.
Prof. Dr. Hariyono, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri Malang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kesejahteraan bangsa tidak hanya diukur dari tersedianya makanan bagi masyarakat, tetapi juga pendidikan dan kesehatan yang layak. Menurut beliau, negara yang maju adalah negara yang mampu memberikan akses pendidikan dan kesehatan secara merata kepada seluruh rakyatnya. Beliau juga berharap kampus dapat menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan bangsa tanpa rasa takut. Selain itu, negara harus dipimpin oleh penyelenggara yang memiliki nilai-nilai keluhuran dan moralitas yang baik. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki hubungan erat dengan kualitas kehidupan masyarakat dan masa depan bangsa.
Dalam seminar ini juga dibahas pemikiran Tan Malaka melalui karya Menuju Republik Indonesia dan konsep MADILOG (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Pemikiran tersebut menekankan pentingnya berpikir rasional dan berbasis data dalam memahami realitas sosial. Tan Malaka mengkritik masyarakat yang masih terjebak dalam pola pikir mistik sehingga sulit berkembang secara ilmiah. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu berpikir kritis dan membangun teori berdasarkan fakta yang ada. Data tidak hanya dipahami sebagai kumpulan angka, tetapi juga harus diolah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Selain membahas pola pikir kritis, seminar ini juga menyoroti pentingnya ruang inklusif dalam kehidupan kampus. Kampus harus menjadi tempat bertemunya berbagai etnis, budaya, dan pemikiran tanpa adanya diskriminasi. Keberagaman justru dapat memperkaya wawasan intelektual mahasiswa dalam memahami persoalan bangsa. Dalam seminar tersebut juga dijelaskan bahwa seorang Pancasilais tidak cukup hanya memiliki sikap toleransi, tetapi juga harus memiliki kualitas berpikir dan kompetensi yang baik. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap terbuka dan menghargai sesama.
Prof. Hadi Nur, Ph.D., menyampaikan refleksi mengenai makna rumah dan nasionalisme. Menurut beliau, seseorang sering kali baru memahami arti rumah ketika berada jauh dari rumah tersebut. Saat melihat bendera Indonesia di luar negeri, muncul rasa hangat dan bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui simbol negara, tetapi juga melalui rasa memiliki terhadap tanah air. Di tengah arus globalisasi, generasi muda perlu menjaga identitas nasional agar tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Dr. Heny Kusdiyanti S.Pd, M.M dalam seminar tersebut mengajak perempuan untuk terus berkembang secara intelektual dan mempersiapkan diri agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurut beliau, perempuan merupakan motor pertama pergerakan karena perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia juga menekankan pentingnya etika dalam penggunaan teknologi di era digital saat ini. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk menciptakan karya dan membantu memberantas kemiskinan. Selain itu, mahasiswa harus memiliki sikap positif dan semangat untuk terus berkembang karena mereka merupakan agen perubahan di masa depan.
Pandangan lain disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd., yang menyatakan bahwa kampus merupakan arena perjuangan intelektual dan tempat keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Penelitian tidak boleh hanya menjadi formalitas administratif, tetapi harus benar-benar berlandaskan intelektualitas dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Hal ini diperkuat oleh perwakilan mahasiswa dari Ketua BEM FIS, Bima Juliansyah Rodeo yang menuntut adanya kebebasan berpendapat di lingkungan akademik. Mahasiswa harus berani menyuarakan kritik dan gagasan demi terciptanya perubahan sosial yang lebih baik. Dengan adanya kebebasan berpikir, kampus dapat menjalankan fungsinya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Ahmad Tohe M.A., Ph.D juga menyampaikan bahwa kuliah tidak semata-mata bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk membentuk manusia yang utuh. Saat ini, banyak program studi dianggap tidak relevan dengan dunia kerja karena pendidikan terlalu diukur berdasarkan kebutuhan industri. Padahal, ilmu sosial dan humaniora memiliki peran penting dalam menjaga nilai kemanusiaan. Oleh sebab itu, pendidikan harus mampu menghidupkan kembali semangat demokrasi seperti pada awal kemerdekaan. Mahasiswa perlu memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang menjadi tenaga kerja, tetapi juga tentang menjadi manusia yang peduli terhadap sesama.
Di akhir seminar, Prof. Dr. Djoko Saryono M.Pd menyampaikan kritik terhadap kondisi akademik saat ini yang disebut sebagai “orde baru kedua”. Menurutnya, mahasiswa dan akademisi harus banyak membaca teori dan membangun tradisi berpikir kritis agar dunia akademik tidak kehilangan perannya di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa “merebut akademik demi republik” berarti mengembalikan fungsi kampus sebagai ruang perjuangan intelektual yang berpihak kepada rakyat. Selain itu, Ibu Evynurul Laily Zen S.S, M.A, Ph.D juga mengingatkan bahwa mahasiswa harus mampu menembus batas dunia dan menjadi wajah Indonesia di mata internasional. Namun, di tengah keterbukaan global, mahasiswa tidak boleh melupakan akar budaya dan nilai-nilai lokal Indonesia.
Melalui seminar ini, peserta mendapatkan banyak pelajaran mengenai pentingnya pendidikan, nasionalisme, dan keberanian berpikir kritis. Seminar ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga masa depan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan kepedulian sosial. Kampus harus tetap menjadi ruang kebebasan intelektual agar lahir generasi yang berani menyuarakan kebenaran. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pekerjaan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moralitas. Dengan semangat “merebut akademik dan merawat republik”, generasi muda diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda