JurnalPost.com - Di tengah pesatnya digitalisasi, hampir semua informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Kita tidak lagi membutuhkan waktu lama untuk mencari referensi, memahami sebuah materi, atau menemukan ide. Salah satu teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Dalam dunia pendidikan, AI menawarkan potensi yang sangat besar. Teknologi ini dapat menjadi asisten bagi pelajar dan mahasiswa untuk berdiskusi, memahami konsep yang sulit, mengembangkan pemikiran, hingga membantu menuangkan berbagai gagasan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat persoalan baru yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Salah satunya adalah penyalahgunaan AI untuk menyelesaikan kewajiban akademik secara instan. Dengan kemampuan menghasilkan jawaban sesuai kebutuhan pengguna, AI dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk membuat tugas, esai, atau menjawab pertanyaan tanpa melalui proses belajar yang semestinya.
Persoalannya bukan sekadar mengenai plagiarisme. Penggunaan AI tanpa sikap kritis juga dapat membuat seseorang menerima informasi yang belum tentu benar. UNESCO dalam Guidance for Generative AI in Education and Research mengingatkan bahwa keluaran AI generatif dapat mengandung kesalahan maupun bias, meskipun jawaban yang diberikan terlihat meyakinkan.
Karena itu, AI perlu ditempatkan secara lebih bijak. Teknologi seharusnya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan sekaligus mengembangkan kemampuannya, bukan menjadi jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.
Di sinilah pentingnya literasi AI. Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui bagaimana menggunakan AI. Mereka juga perlu memahami kapan teknologi tersebut sebaiknya digunakan, bagaimana menilai jawaban yang dihasilkan, serta kapan sebuah informasi perlu dipertanyakan dan diverifikasi kembali.
AI sebagai Teman Berpikir
Pada dasarnya, AI memiliki potensi luar biasa apabila dimanfaatkan dengan tepat. Bagi pelajar, AI dapat menjadi teman berdiskusi ketika sedang mencari ide, membantu menjelaskan materi yang sulit, menawarkan sudut pandang berbeda, hingga menjadi sarana untuk menguji sebuah gagasan.
Dalam posisi seperti ini, AI tidak harus membuat manusia menjadi pasif. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat membantu generasi muda menjadi lebih kreatif dan inovatif.
Jika digunakan secara tepat, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan diri dan memberikan kontribusi terhadap kemajuan masyarakat.
Perkembangan AI bahkan telah menyatukan berbagai fungsi yang sebelumnya membutuhkan banyak teknologi berbeda. Saat ini, satu platform AI dapat membantu melakukan perhitungan, meringkas materi, mencari referensi, mengembangkan ide, hingga memberikan berbagai pertimbangan saat seseorang hendak menentukan pilihan.
Kemudahan itu tentu menjadi bagian dari kemajuan teknologi. Namun, pada saat bersamaan, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah manusia akan tetap memegang kendali atas teknologi, atau justru perlahan menyerahkan sebagian proses berpikirnya kepada AI?
Ketika Beban Berpikir Dialihkan ke Teknologi
Pertanyaan tersebut semakin relevan karena AI kini tidak hanya membantu manusia menemukan informasi. AI sudah mampu menyusun jawaban, menganalisis persoalan, merangkum data, bahkan menghasilkan ide.
Dalam situasi seperti ini, manusia memiliki kecenderungan untuk mengalihkan sebagian beban berpikir kepada teknologi. Fenomena tersebut dikenal sebagai cognitive offloading.
Secara sederhana, cognitive offloading terjadi ketika seseorang tidak lagi melakukan seluruh proses berpikir secara mandiri karena sebagian tugas tersebut dialihkan kepada perangkat atau teknologi.
Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Manusia sejak lama menggunakan kalkulator untuk menghitung, kalender untuk mengingat jadwal, dan mesin pencari untuk menemukan informasi. Akan tetapi, kemampuan AI yang semakin kompleks membuat bentuk pengalihan proses berpikir tersebut menjadi jauh lebih luas.
Sebuah penelitian yang dilakukan Michael Gerlich pada 2025 terhadap 666 partisipan menemukan adanya hubungan antara frekuensi penggunaan AI, cognitive offloading, dan kemampuan berpikir kritis.
Dalam sampel penelitian tersebut, penggunaan AI yang lebih tinggi berkaitan dengan kecenderungan kemampuan berpikir kritis yang lebih rendah, sementara cognitive offloading menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan kondisi tersebut.
Namun, temuan itu tidak dapat serta-merta diartikan bahwa AI membuat manusia menjadi kurang cerdas. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, bukan membuktikan bahwa penggunaan AI secara langsung menjadi penyebab menurunnya kemampuan berpikir kritis.
(Sumber: Michael Gerlich, “AI Tools in Society: Impacts on Cognitive Offloading and the Future of Critical Thinking”)
Justru dari sini dapat dilihat bahwa persoalan utama bukan semata-mata terletak pada keberadaan AI, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya.
Ketika AI digunakan untuk berdiskusi, mencari perspektif lain, mempertanyakan argumen, atau menguji sebuah gagasan, manusia masih terlibat aktif dalam proses berpikir.
Sebaliknya, ketika seseorang hanya meminta jawaban kepada AI, lalu menerima dan menggunakannya tanpa memahami, mempertanyakan, ataupun memeriksa kembali informasi tersebut, AI dapat berubah fungsi dari asisten menjadi pengganti proses berpikir.
Pada titik itulah kemudahan berpotensi berubah menjadi ketergantungan.
Literasi AI Harus Menjadi Bagian dari Pendidikan
Karena itu, literasi AI tidak dapat lagi dianggap sebagai kemampuan tambahan semata. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memahami bukan hanya cara mengoperasikan teknologi AI, tetapi juga batas-batas penggunaannya.
Literasi AI berarti kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, mempertanyakan informasi yang dihasilkan, mengevaluasi jawaban, memahami kemungkinan bias, dan melakukan verifikasi sebelum menerima suatu informasi sebagai kebenaran.
Dengan kemampuan tersebut, manusia tetap berada dalam posisi sebagai pengendali, sedangkan AI berfungsi sebagai alat pendukung.
Kebutuhan tersebut juga menunjukkan bahwa literasi AI perlu mendapatkan perhatian lebih serius dalam sistem pendidikan Indonesia.
UNESCO melalui AI Competency Framework for Students yang diterbitkan pada 2024 menekankan bahwa kompetensi AI bagi pelajar tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis. Pendidikan AI juga perlu mencakup pola pikir yang berpusat pada manusia, etika, pemahaman mengenai teknologi AI, serta kemampuan memahami, menggunakan, dan bahkan menciptakan teknologi AI secara bertanggung jawab.
Menurut saya, pendekatan semacam ini perlu mulai disesuaikan dengan kurikulum pendidikan di Indonesia.
Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Karena itu, pendidikan tidak dapat terus menggunakan pendekatan yang sama tanpa memperhitungkan perubahan cara manusia belajar, mencari informasi, dan menyelesaikan masalah.
Pemerintah dan institusi pendidikan perlu mendorong kebijakan yang lebih adaptif. Generasi muda tidak cukup diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka juga perlu memahami bagaimana mengendalikan, mempertanyakan, dan bertanggung jawab atas penggunaannya.
Jika hal ini diabaikan, penyalahgunaan AI untuk plagiarisme maupun ketergantungan terhadap jawaban instan berpotensi semakin meluas. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan generasi muda dalam mempertahankan daya analisis dan pemikiran kritis.
UNESCO melalui Guidance for Generative AI in Education and Research juga menekankan pentingnya kebijakan pendidikan yang koheren dan komprehensif agar pemanfaatan AI dalam pendidikan berlangsung secara etis, aman, adil, dan bermakna.
AI Seharusnya Memperkuat, Bukan Menggantikan Manusia
Pada akhirnya, AI seharusnya tidak ditempatkan sebagai pengganti kemampuan manusia, melainkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan tersebut.
Kemampuan berpikir manusia dapat diibaratkan seperti pisau. Apabila jarang digunakan, ketajamannya perlahan akan berkurang. Demikian pula kemampuan menganalisis, mempertanyakan, dan memecahkan masalah. Semua kemampuan tersebut membutuhkan latihan secara terus-menerus.
Kita tetap perlu membaca, belajar, bertanya, berdiskusi, melakukan analisis, dan mempertanyakan sesuatu meskipun AI mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik.
AI boleh membantu proses tersebut, tetapi jangan sampai mengambil alih seluruh prosesnya.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting barangkali bukan apakah AI akan membuat generasi kita menjadi kurang cerdas.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah: apakah kita masih mau berpikir ketika AI selalu siap memberikan jawabannya?
AI dapat menjadi peluang besar ketika manusia menggunakannya untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan kreativitas, dan mengembangkan kemampuan diri. Namun, teknologi yang sama juga dapat menjadi ancaman ketika manusia mulai menyerahkan proses berpikirnya sepenuhnya kepada mesin.
Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar AI yang berhasil kita ciptakan, tetapi juga oleh seberapa bijak manusia menggunakannya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda