JurnalPost.com - Banyak orang tua dan guru belakangan ini memiliki kecemasan yang sama: anak-anak tinggal bertanya kepada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), lalu berhenti berpikir. Kecemasan itu bisa dimengerti. Tugas yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Namun, saya berpendapat bahwa kecemasan tersebut sering kali salah alamat. Bukan AI yang membuat remaja malas berpikir, melainkan cara mereka, dan cara kita, memperlakukan teknologi tersebut.
Alasannya sederhana. Penelitian di Indonesia memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks daripada anggapan bahwa AI merusak kemampuan berpikir anak muda. Sebuah survei terhadap 177 siswa kelas XI di tiga SMA negeri di Kota Bandung menemukan adanya pengaruh positif dan signifikan penggunaan AI terhadap kemampuan berpikir kritis, dengan catatan teknologi tersebut dimanfaatkan secara bijak.
Penelitian lain terhadap siswa kelas XI di tiga SMA negeri di kota yang sama mencatat hubungan yang tergolong cukup kuat, dengan koefisien determinasi sebesar 0,436. Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak semestinya langsung dianggap sebagai musuh yang harus disingkirkan dari ruang kelas.
Bagi saya, temuan ini masuk akal. Remaja yang malu bertanya di kelas kini memiliki teman belajar yang sabar, tersedia kapan saja, dan tidak menertawakan pertanyaan yang dianggap sepele. Mereka bisa meminta penjelasan berulang kali, lengkap dengan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian siswa, kemudahan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami materi yang sebelumnya terasa sulit atau bahkan menakutkan.
Meski begitu, saya tidak sedang mengatakan bahwa AI pasti membawa kebaikan. Penelitian terhadap 216 siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Kauman memberikan pelajaran yang menurut saya justru paling penting. Penggunaan AI dilaporkan berpengaruh positif terhadap kreativitas siswa, tetapi koefisien regresinya hanya sebesar 0,006. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis memiliki koefisien regresi sebesar 0,620.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas tidak cukup dibangun hanya dengan mengandalkan teknologi. Kemampuan berpikir kritis tetap memiliki peran penting dalam membantu siswa mengembangkan gagasan dan memanfaatkan informasi yang diperoleh.
Saya menyadari bahwa penelitian-penelitian tersebut berbasis survei di beberapa sekolah sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan kepada seluruh siswa di Indonesia. Temuan statistiknya juga perlu dibaca secara hati-hati karena hubungan antarvariabel tidak selalu membuktikan sebab-akibat. Namun, berbagai temuan tersebut memberikan alasan untuk melihat persoalan penggunaan AI secara lebih kritis, bukan sekadar menilai seberapa sering siswa membuka aplikasi.
Para peneliti juga mencatat pola yang menarik. Siswa dengan kemampuan berpikir kritis yang baik cenderung menggunakan AI sebagai pemantik gagasan, sedangkan siswa dengan kemampuan berpikir kritis rendah lebih berisiko menjadikannya sebagai jalan pintas.
Alatnya sama, tetapi cara penggunaan dan hasil yang diperoleh bisa berbeda.
Di titik inilah kita perlu jujur. Ketika remaja menggunakan AI sebagai jalan pintas, kita tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa mereka malas. Kita perlu bertanya apakah mereka pernah diajari cara mengajukan pertanyaan yang baik dan apakah sekolah masih lebih menghargai jawaban yang benar daripada proses menemukannya.
Jika penilaian hanya berfokus pada hasil akhir, tidak mengherankan apabila siswa memilih cara tercepat untuk menyelesaikan tugas.
Konteks pendidikan Indonesia juga perlu diperhatikan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa rata-rata skor berpikir kreatif siswa Indonesia berada pada angka 19 poin, masih jauh di bawah rata-rata negara OECD. Data ini mengingatkan kita bahwa tantangan dalam mengembangkan kemampuan berpikir siswa bukanlah persoalan yang baru muncul setelah AI menjadi populer.
Menuding AI sebagai penyebab utama kemerosotan daya pikir memang terasa mudah. Namun, pandangan seperti itu juga berisiko membuat kita mengabaikan persoalan pendidikan yang lebih mendasar.
Kita sebenarnya pernah menghadapi situasi serupa. Kalkulator, mesin pencari, hingga kamus daring pernah dicurigai akan membuat orang berhenti belajar. Akan tetapi, dalam perkembangannya, alat-alat tersebut justru menjadi bagian dari kegiatan pendidikan. Persoalan utamanya bukan semata-mata keberadaan teknologi, melainkan bagaimana manusia diajari menggunakannya.
Tentu saja, risiko penggunaan AI tetap nyata dan tidak boleh diremehkan. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, bahkan menyampaikan kekeliruan tersebut dengan bahasa yang sangat meyakinkan. Remaja yang belum terbiasa memeriksa informasi berpotensi menerima jawaban yang salah tanpa mempertanyakannya.
Selain itu, kebiasaan menyalin jawaban tanpa memahami isinya dapat menghilangkan kesempatan untuk menimbang, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki pemahaman. Padahal, proses-proses itulah yang membantu membentuk kemampuan bernalar.
Namun, larangan total bukanlah jawaban yang tepat. Jika AI dilarang di sekolah, tetapi tetap digunakan secara diam-diam di rumah tanpa bimbingan, remaja justru kehilangan kesempatan untuk mempelajari cara penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Bayangkan dua siswa yang mendapatkan tugas esai yang sama. Siswa pertama meminta AI menuliskan seluruh esai, kemudian menyalin dan mengumpulkannya tanpa melakukan perubahan berarti.
Sementara itu, siswa kedua menyusun kerangka tulisan sendiri, meminta AI menunjukkan kelemahan dalam argumennya, lalu memperbaiki tulisan tersebut menggunakan pemahaman dan kata-katanya sendiri.
Keduanya sama-sama menggunakan AI. Namun, proses belajar yang mereka lalui sangat berbeda. Siswa kedua memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menyusun argumen, dan mengevaluasi gagasannya.
Yang membedakan keduanya bukan teknologinya, melainkan kebiasaan berpikir ketika menggunakan teknologi tersebut.
Oleh karena itu, saya mengajukan beberapa langkah sederhana. Bagi remaja, kebiasaan berpikir kritis dapat dimulai dengan mencoba menyelesaikan persoalan terlebih dahulu sebelum bertanya kepada AI. Setelah memiliki dugaan jawaban, mereka dapat meminta AI mengevaluasi atau menunjukkan kemungkinan kelemahannya.
Remaja juga perlu membiasakan diri mengajukan pertanyaan seperti "mengapa" dan "bagaimana", bukan hanya "apa jawabannya". Bahkan, meminta AI membantah pendapat sendiri dapat menjadi latihan untuk melihat suatu persoalan dari sudut pandang berbeda.
Informasi penting yang diberikan AI pun sebaiknya diperiksa kembali melalui buku, jurnal ilmiah, atau sumber resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi guru, tugas sekolah sebaiknya tidak hanya menilai jawaban akhir, tetapi juga mempertimbangkan proses berpikir siswa. Misalnya, dengan meminta siswa menjelaskan langkah-langkah penyelesaian, alasan memilih suatu jawaban, dan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan tertentu.
Sementara itu, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai hal-hal yang dipelajari melalui AI. Pendekatan ini lebih bermanfaat daripada sekadar melarang penggunaan teknologi atau membiarkan anak menggunakannya tanpa pendampingan.
Sekolah juga perlu menumbuhkan literasi digital sejak dini agar siswa terbiasa mengevaluasi informasi secara kritis, bukan sekadar mengonsumsinya. Tanpa kemampuan tersebut, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, kita hanya akan melatih remaja menjadi penerima jawaban yang pasif.
Memang, membangun kebiasaan berpikir seperti ini mungkin terasa lebih lambat pada awalnya. Namun, berpikir membutuhkan waktu, sedangkan kecepatan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan dalam belajar.
Justru ketika kita bersedia sedikit lebih lambat, ada ruang bagi rasa penasaran untuk tumbuh. Pemahaman yang diperoleh melalui proses bertanya, mencoba, dan mengevaluasi biasanya lebih bermakna daripada jawaban instan yang mudah dilupakan.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah AI baik atau buruk bagi remaja menurut saya kurang tepat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sudahkah kita membekali remaja dengan kemampuan berpikir kritis sebelum menyerahkan teknologi sekuat ini kepada mereka?
AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kemampuan berpikir kritislah yang membantu remaja tetap menjadi pengendali teknologi, bukan sebaliknya.
Tugas kita adalah memastikan bahwa remaja tetap mampu berpikir, bertanya, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Bukankah itu pula yang seharusnya kita harapkan dari pendidikan? Bukan sekadar menghasilkan anak-anak yang pandai menjawab, melainkan generasi yang berani mempertanyakan jawaban.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda