Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kenapa Sulit Lepas dari Kebiasaan Scroll Media Sosial? Mekanisme Adiksi dalam Otak Kita

Kenapa Sulit Lepas dari Kebiasaan Scroll Media Sosial? Mekanisme Adiksi dalam Otak Kita

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
30 November 2025, 14.19 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Bahaya-Kecanduan-Bermain-Media-Sosial.

Oleh: Silmi Kamalia Islami Psikologi, Universitas Brawijaya

JurnalPost.com - Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menyadari bahwa mereka sering kali membuka ponsel tanpa tujuan jelas, lalu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll media sosial. Aktivitas ini terasa ringan, menyenangkan, bahkan dianggap “sekadar hiburan”. Namun di balik kebiasaan yang tampak sederhana itu, terdapat mekanisme biologis dan psikologis yang membuat kita sulit berhenti. Penelitian dalam neurosains beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memiliki karakteristik yang mirip dengan perilaku adiktif lainnya. Baik jurnal internasional maupun penelitian di Indonesia memperlihatkan pola yang serupa: media sosial memberikan rangsangan cepat pada sistem hadiah di otak yang membuat seseorang ingin terus kembali menggunakannya.

IKLAN

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui peran dopamin, yaitu neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang, motivasi, dan pembelajaran kebiasaan. Menurut studi dari Volkow dan Morales (2015), sistem dopamin bekerja sangat sensitif terhadap rangsangan yang tidak dapat diprediksi. Media sosial menyediakan pola interaksi yang persis seperti itu: notifikasi yang datang tiba-tiba, komentar yang tidak disangka, jumlah likes yang berubah setiap kali dilihat, atau konten yang terus diperbarui tanpa henti. Pola rangsangan yang tidak pasti namun menjanjikan kepuasan ini disebut intermittent reward, yang terbukti sangat kuat dalam membentuk perilaku adiktif. Temuan tersebut sejalan dengan riset lain oleh Turel, He, dan Xue (2018) yang menunjukkan bahwa penggunaan berlebihan media sosial mengaktifkan area otak seperti nucleus accumbens, bagian penting dalam sistem hadiah yang juga aktif dalam kecanduan narkotika ringan.

Self-Diagnosis di Media Sosial
Baca Juga

Self-Diagnosis di Media Sosial: Kesadaran Mental vs Kesalahpahaman

Di Indonesia, penelitian oleh Sari dan Nugroho (2020) menemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan media sosial lebih dari empat jam per hari menunjukkan tanda-tanda problematic social media use, salah satunya adalah dorongan kuat untuk terus memeriksa ponsel meskipun sedang melakukan aktivitas lain. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial yang intens dengan meningkatnya impulsivitas, kesulitan konsentrasi, dan kecenderungan menghindari tugas akademik. Mekanisme yang ditemukan dalam penelitian tersebut mendukung temuan internasional bahwa media sosial mempengaruhi sistem kontrol diri di otak, khususnya area prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengaturan impuls.

Dari sudut pandang neurosains, adiksi media sosial terjadi melalui dua proses utama: penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman menyenangkan seperti menerima pujian, menemukan konten lucu, atau merasa terhubung dengan orang lain. Saat hal itu terjadi, dopamin dilepaskan, sehingga otak “belajar” bahwa media sosial adalah sumber kesenangan. Sebaliknya, penguatan negatif muncul ketika seseorang merasakan kecemasan atau ketidaknyamanan saat tidak membuka ponselnya. Menurut penelitian Kuss dan Griffiths (2017), perasaan takut tertinggal informasi (fear of missing out atau FOMO) berperan besar dalam mendorong seseorang untuk terus memeriksa media sosial. Dengan demikian, baik rasa senang ketika membuka media sosial maupun rasa cemas ketika tidak membukanya sama-sama memperkuat kebiasaan tersebut.

Kasus sehari-hari memperjelas bagaimana mekanisme ini bekerja. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu sebelum tidur untuk scrolling, meskipun mata sudah lelah. Bagian otak yang bertugas mengatur kontrol diri mungkin menyadari bahwa kebiasaan itu tidak sehat, namun sistem hadiah bekerja lebih cepat dan otomatis. Bahkan ketika seseorang hanya berniat “mengecek sebentar”, algoritma media sosial dirancang untuk menyajikan konten yang sangat relevan dan menarik sehingga membuat pengguna terjebak dalam durasi yang jauh lebih lama dari yang direncanakan. Hal ini sejalan dengan temuan Pratiwi dan Utami (2021) yang menyebutkan bahwa desain antarmuka yang menampilkan infinite scroll meningkatkan kecenderungan perilaku adiktif pada remaja di Indonesia.

Selain aspek biologis, kehadiran media sosial sebagai pelarian emosional juga memperkuat kecenderungan adiktif. Banyak individu menggunakan media sosial ketika merasa bosan, cemas, atau kesepian. Dalam penelitian oleh Elhai et al. (2017), penggunaan media sosial yang intens sering kali terkait dengan upaya mengurangi ketidaknyamanan emosional. Artinya, orang tidak hanya kembali ke media sosial karena mendapatkan kesenangan, tetapi juga karena ingin meredakan stres, sebuah pola yang juga ditemukan dalam adiksi lain seperti makan berlebihan atau adiksi ringan lainnya.

Focused Study Break on Social Media
Baca Juga

Scrolling Boleh, Pecah Belah Jangan: Menjaga Nilai Pancasila di Tengah Ramainya Media Sosial

Meski begitu, berbagai penelitian juga memberikan strategi untuk mengurangi kecenderungan adiksi tersebut. Para peneliti dan praktisi merekomendasikan pendekatan yang berfokus pada pelatihan kesadaran diri, pengaturan lingkungan digital, serta penguatan kontrol diri. Studi oleh van Velthoven dan Powell (2021) menunjukkan bahwa praktik mindful technology use, yaitu menggunakan gawai dengan kesadaran penuh terhadap tujuan dan batasan waktu, dapat membantu menekan respons otomatis pada sistem dopamin. Praktisi kesehatan mental di Indonesia, seperti yang dijelaskan dalam penelitian Rahmawati dan Hidayat (2022), menekankan pentingnya membuat batasan penggunaan ponsel, seperti menetapkan jam tanpa gawai, mengatur notifikasi agar tidak muncul secara terus-menerus, serta mengganti momen scrolling dengan aktivitas alternatif yang memberi makna atau relaksasi, seperti membaca atau latihan pernapasan. Strategi lain yang direkomendasikan adalah menyusun ulang lingkungan digital, misalnya menonaktifkan fitur infinite scrolling melalui pengaturan aplikasi atau menggunakan aplikasi pembatas waktu. Pendekatan ini bekerja karena membantu mengurangi paparan terhadap pemicu rangsangan yang memperkuat adiksi, sekaligus meningkatkan kemampuan prefrontal cortex dalam mengontrol perilaku.

Pada akhirnya, kesulitan melepaskan diri dari kebiasaan scrolling media sosial bukanlah tanda lemahnya kemauan, melainkan hasil interaksi yang kompleks antara sistem hadiah di otak, desain aplikasi, dan kondisi emosional sehari-hari. Dengan memahami mekanisme ini, kita dapat lebih bijak menata ulang cara kita menggunakan teknologi dan menyusun strategi yang sesuai untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

IKLAN

Daftar Pustaka

Elhai, J. D., Dvorak, R. D., Levine, J. C., & Hall, B. J. (2017). Problematic smartphone use: A conceptual overview and systematic review. Journal of Affective Disorders.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Kuss, D. J., & Griffiths, M. (2017). Social Networking Sites and Addiction: Ten Lessons Learned. International Journal of Environmental Research and Public Health.

Pratiwi, D., & Utami, S. (2021). Desain antarmuka dan perilaku adiktif remaja terhadap media sosial. Jurnal Psikologi Indonesia.

Rahmawati, N., & Hidayat, A. (2022). Regulasi diri dalam penggunaan media sosial pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.

Sari, N., & Nugroho, A. (2020). Hubungan penggunaan media sosial dan impulsivitas pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Indonesia.

Turel, O., He, Q., Xue, G., Xiao, L., & Bechara, A. (2018). Brain activity in the reward and self-control systems predicts social media addiction. Psychological Reports.

van Velthoven, M., & Powell, J. (2021). Digital health and mindful use. Digital Health Journal.

Volkow, N., & Morales, M. (2015). The Brain on Drugs: From Reward to Addiction. Cell.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kenapa-sulit-lepas-dari-kebiasaan-scroll-media-sosial-mekanisme-adiksi-dalam-otak-kita/88573/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.26 WITA

  • #Scroll Media Sosial
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Pilihan Editor

  1. 1 Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat
  2. 2

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  3. 3

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

  4. 4

    Biaya yang Tak Masuk Inflasi

  5. 5

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.