Oleh: Muhamad Firman
JurnalPost.com - Di era digital, media sosial telah menjelma menjadi ruang utama pertukaran informasi. Setiap hari, jutaan pengguna menggulirkan layar mereka untuk mencari tahu kabar terbaru dari politik, bencana, hingga gosip selebritas. Namun, di balik kemudahan dan kecepatan akses informasi ini, kita menghadapi sebuah persoalan besar: krisis kepercayaan terhadap berita.
Kondisi ini bukan tanpa sebab. Media sosial, yang awalnya dipuji karena membuka akses informasi seluas-luasnya, kini justru menjadi ladang subur bagi hoaks dan disinformasi. Tanpa mekanisme penyuntingan atau verifikasi, siapa pun bebas menyebarkan apa saja entah itu fakta, opini, atau kebohongan yang disamarkan sebagai kebenaran. Batas antara berita dan manipulasi pun semakin kabur.
Sayangnya, media arus utama juga tidak luput dari kritik. Tuduhan keberpihakan politik, sensasionalisme, hingga pelanggaran etika jurnalistik membuat sebagian publik merasa tak lagi bisa mempercayai media konvensional. Banyak yang kemudian berpaling ke “sumber alternatif” yang justru sering kali lebih berbahaya karena tidak terikat standar jurnalistik apa pun.
Akar dari masalah ini terletak pada rendahnya literasi media di masyarakat. Banyak orang belum terbiasa bersikap kritis terhadap informasi yang mereka terima. Judul bombastis atau potongan video tanpa konteks mudah dipercaya, bahkan langsung dibagikan ulang tanpa pikir panjang. Padahal, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk memilah dan memverifikasi berita menjadi keterampilan hidup yang sangat penting.
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab? Jawabannya: semua pihak. Media massa perlu introspeksi dan kembali kepada jati dirinya sebagai penjaga kebenaran. Independensi, akurasi, dan etika jurnalistik harus ditegakkan, bukan dikompromikan demi klik atau rating. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus lebih serius dalam membekali masyarakat dengan literasi digital dan berpikir kritis sejak dini.
Namun, tanggung jawab terbesar tetap ada di tangan kita sebagai pengguna. Bersikap skeptis terhadap informasi yang kita baca bukan berarti anti-media, melainkan bentuk kewaspadaan. Tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang kita percaya itu fakta. Membagikan informasi berarti ikut bertanggung jawab atas dampaknya.
Media sosial hanyalah alat. Ia bisa menjadi jembatan pencerahan, atau jurang disinformasi tergantung bagaimana kita menggunakannya. Di tengah krisis kepercayaan ini, kita perlu kembali menempatkan akal sehat, nalar kritis, dan etika sebagai kompas dalam bermedia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda