Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Citizen Reporter
  3. Kenali lebih Dalam Dampak dari Pola Asuh yang salah Yuk simak!

Kenali lebih Dalam Dampak dari Pola Asuh yang salah Yuk simak!

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
29 April 2021, 21.24 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
10 menit baca
Kenali lebih Dalam Dampak dari Pola Asuh yang salah Yuk simak!
JURNALPOST - Bagaimana pola asuh orang tua yang benar? Tahukah mama papa, bahwa anak merupakan tanggung jawab orang tua dalam mengasuh, mendidik, memahami,  serta melindungi anak. Sangat penting lho orang tua dalam mendukung proses perkembangan anak di usia dini ini. Dikarenakan orang tua merupakan guru pertama untuk anak dalam mempelajari banyak hal.  Kebanyakan di lingkungan moderen ini, orang tua selalu mengabaikan hal-hal “spele” yang berdampak besar terhadap perkembangan anak. Mulai dari kekeliruan orang tua dalam mendididk anak bahkan hingga proses interaksi yang salah antara orang tua dan anak yang akan kita bahas di bawah ini. Yuk disimak! Sebelumnya, tahukah kamu apa itu pola asuh? Nah disisni pola asuh diartikan sebagai suatu proses orang tua dalam mendukung perkembangan fisik anak, emosional anak serta kognitif anak dalam mencapai proses kedewasaan anak. Pola asuh merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh oleh orang tua dalam mendidik anak baik secara langsung maupun tidak langsung. Tujuan utama pola asuh ini adalah untuk mempertahankan kehidupan fisik dan meningkatkan kesehatan anak, serta memfasilitasi anak dalam mengembangkan kemampuan sejalan dengan tahapan perkembangannya. Perkembangan anak juga jangan sampai diabaikan ya! Karena orang tua memiliki peran vital untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si buah hati. Sebagai orang tua, kamu pasti sering mendengar tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, bahwa tumbuh kembang yang dialami pada anak begitu penting untuk dipantau. Jadi orang tua sangat berperan penting dalam optimalisasi perkembangan anak. Lantas, bagaimana hubungan pola asuh terhadap perkembangan anak? Kita ketahui bahwa setiap orang tua memiliki sudut pandang berbeda dan cara/pola tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak. Setiap pola asuh orang tua yang diberikan kepada anak memberikan pengaruh cukup besar dalam kehidupan anak di masa mendatang. Dikarenakan tumbuh kembang seorang anak tergantung dengan pola asuh yang diberikan oleh orang tua. Jadi disini dapat dilihat bahwa seorang anak akan mencapai dan melewati pertumbuhan dan perkembangannya secara normal sesuai dengan pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepadanya. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial pertama dan utama bagi anak sehingga memberi pengaruh terbesar bagi perkembangan anak. Keluarga terutama ayah dan ibu memberikan pembentukan dasar pada tingkah laku, watak, moral, bahkan dalam pendidikan anak. Orang tua juga harus selalu memberi ransang atau stimulasi kepada anak dalam semua aspek perkembangan baik dari segi motorik kasar maupun halus, bahasa, serta dalam lingkungan sosial. Tanpa disadari, banyak orang tua yang tidak sengaja atau bahkan sengaja mengabaikan pertumbuhan anaknya. Mengapa ini bisa terjadi? Kebanyakan sebagian besar orang tua sibuk bekerja sehingga mereka menitip anaknya ke tempat  pengasuhan yang berbayar. Hal ini membuat anak menjadi kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Keadaan ini dapat memengaruhi tumbuh kembang anak khususnya pada perkembangan psikologis anak. Anak yang kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, biasanya cenderung mengalami berbagai masalah baik secara fisik maupun mental. Sebagai contoh, anak akan memiliki masalah kepercayaan. Anak-anak akan beranggapan bahwa orang tuanya saja tidak dapat memberikan rasa aman dan nyaman apalagi orang lain. Hal ini membuat anak menjadi ragu dan bingung bagaimana cara menjalani hubungan yang baik dengan orang lain. Kesalahan dalam mendidik anak dapat menyebabkan anak mulai menciptakan pandangan yang berdampak buruk pada kehidupan masa depannya. Berikut ini merupakan beberapa masalah yang dialami pada anak akibat pola asuh orang tua yang salah:
  • Anak mengalami stress dan depresi
Depresi pada anak dapat terjadi ketika daya tahan kejiwan mereka tidak kuat dalam menghadapi tekanan. Sebagai contoh, orang tua memaksa anaknya untuk belajar yang keras, dan dalam waktu yang sama orang tua juga menuntut anaknya agar mendapatkan nilai yang bagus. Dalam proses tersebut, banyak di antara mereka yang mengalami stres dan depresi. Anak yang depresi ini akan menghabiskan energinya, kemudian mengalami kesedihan yang berkepanjangan, dan energinya akan habis dalam melawan dirinya sendiri. Mungkin sebagian orang tua beranggapan bahwa memaksa seorang anak untuk belajar itu tidak salah, akan tetapi kamu harus tahu bahwa proses kognitif anak itu berbeda dengan anak yang lain.
  • Anak merasa terkekang
Anak yang merasa tidak diberikan kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi akan menimbulkan rasa semakin jauh dengan orang tuanya.  Jika orang tua selalu mengatur apapun yang dilakukan anak, dan tidak memberi kesempatan pada anak dalam memilih sesuatu, anak tersebut akan merasa terkekang dengan kelakuan orang tuanya. Tanpa disadari, kelakuan orang tua ini semakin memperburuk risiko depresi pada anak.
  • Anak mudah merasa takut
Anak mudah merasa takut apabila orang tua terlalu melindunginya dari berbagai hal. Akibatnya, anak tersebut sulit dalam mengambil risiko apapun, dan anak juga akan takut dalam  menjalin pertemanan baru, atau bahkan mencoba kegiatan baru. Jika orang tua terlalu protektif dalam mendidik, ini akan membuat anak kesulitan dalam melakukan hal apapun. Perlindungan anak itu perlu, akan tetapi jangan sampai anak mengalami ketakutan akibat dari perlindungan orang tua. Biarkan si buah hati mencari kebebasan hidupnya  meskipun dalam pengawasan orang tua.
  • Anak cenderung merasa tidak dihargai
Tahukah kamu, bahwa jika kamu selalu marah bahkan berteriak di depan anak, anak tersebut akan merasa tertekan. Hal ini justru akan berdampak serius pada kepercayaan anak. Anak merasa tidak dihargai, tidak mendapat kasih sayang bahkan merasa bahwa dirinya selalu salah. Penting sekali sifat sabar ditanamkan ke dalam diri orang tua. Orang tua semestinya memberikan contoh atau teladan yang baik terhadap anak. Karena anak akan mencontohi tiap perilaku baik buruknya orang tua terhadap dirinya.
  • Anak terlalu manja
Rasa sayang yang berlebihan juga akan berdampak buruk terhadap anak. Anak akan sulit untuk mandiri. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa rasa sayangnya yang berlebihan itu justru memberikan efek kurang baik terhadap perkembangan anak, terutama secara psikologis. Sebagai contoh, kebiasaan anak memperoleh segala sesuatiu yang diinginkan secara instan tanpa disertai adanya usaha dapat mengakibatkan kurangnya kemandirian dalam diri anak. Ketika anak baranjak dewasa,  ia akan menjadi orang yang sangat bergantung pada orang lain. Akibatnya, anak tidak mampu hidup di lingkungan sosial dengan baik. Nah itu merupakan beberapa contoh yang sering dialami pada anak ketika orang tua merasa kelakuannya sudah benar padahal sangat berdampak terhadap perkembangannya. Kita juga sering lihat bahwa banyak kebiasaan orang tua yang “spele”, seperti menakuti anak dengan hal-hal tertentu agar si anak menuruti permintaan orang tua. Sebagai contoh, “ayok makan sedikit lagi, kalau tidak makan, nanti disuntik dokter lho”. Kita sering mendengar kalimat orang tua tersebut ketika si anak tidak mau makan. Sebaiknya orang tua menghindari menakut-nakuti anak ketika ingin melarang sesuatu. Orang tua harus mengedukasi anak dengan menggunakan kalimat positif yang mampu membangun pengetahuan anak dengan cara yang menyenangkan. Kita ketahui bahwa, peran orang tua dalam perkembangan anak sangat krusial. Beberapa penilitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki kaitan erat dengan prestasi anak. Keterlibatan orang tua bukan hanya proses yang statis tetapi berlangsung sepanjang waktu dan sangat dinamis. Setiap orang tua tentu berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya. Akan tetapi, sebagian orang tua tidak menyadari pola pengasuhan yang di lakukan itu sebenarnya keliru dan berdampak negatif bagi anak. Menurut para psikolog, ada beberapa pola asuh yang keliru, di antaranya adalah:
  • Terlalu dimanjakan. Orang tua yang berusaha memenuhi setiap permintaan anak dipercaya akan membuat anak bahagia. Padahal, pola asuh seperti ini akan membuat anak sulit merasa puas dan membuat mereka suka memaksa. Sebagian orang tua juga mengira anak-anak harus di stimulasi setiap waktu agar tidak merasa bosan. Kebiasaan seperti ini justru dapat membuat anak kurang kreatif dan tidak tahu cara menghilangkan rasa bosan.
  • Membebaskan anak menonton TV atau main gadget. Anak-anak lebih cepat menyerap hal-hal yang pernah mereka lihat dan dengar. Oleh karena itu, pemberian smartphone dan tontonan TV pada usia dini dapat merubah perilaku anak. Agar tidak terjadi hal-hal yang seperti itu, sebaiknya orang tua harus lebih hati-hati dalam memberikan sesuatu kepada anak. Dalam semua kegiatan anak, orang tua harus selalu memantau perkembangan dan pertumbuhan anak. Hal ini dapat mencegah masuknya pengaruh buruk terhadap anak itu sendiri. Dengan pengawasan intensif dari orang tua, maka anak akan menjadi terpantau dan selalu dalam pengawasan keluarga.
  • Terlalu melindungi anak. Pola asuh seperti ini dapat membuat anak menjadi takut dalam beraktivitas sosial. Anak akan takut dalam pengambilan keputusan serta takut dalam menjalin pertemanan baru. Anak merasa bahwa dirinya dikekang dengan peraturan yang dibuat oleh orang tua. Menurut sebagian orang tua bahwa ini sebagai keselamatannya juga, padahal ini akan berdampak buruk sekiranya berlebihan.
Dari segi fisik, terdapat beberapa kekeliruan dalam penggunaan produk praktis terhadap anak. Sebagai contoh, Baby Walker. Tidak jarang lagi kita melihat beberapa anak diletakkan ke dalam baby walker. Kebanyakan orang tua membeli alat ini ketika orang tua mulai kelelahan dalam mengejar bayi yang mulai aktif. Sebenarnya, tanpa kita sadari bahwa alat ini akan memberi dampak negatif terhadap perkembangan anak. Ketika bayi berada dalam alat ini, orang tua tidak dapat melihat langsung bagaimana kakinya bergerak dengan baik. Akibatnya, keterampilan bayi juga akan terhambat. Sebaiknya ajari anak berjalan tanpa menggunakan pertolongan dari baby walker. Kemudian ada lagi yaitu ayunan listrik. Biasanya, bayi lebih cepat terlelap dalam ayunan. Kebanyakan alasan orang tua meletakkan bayi ke dalam ayunan listrik adalah agar bayi bisa tidur dengan lama. Sehingga seorang ibu boleh melakukan kegiatan lainnya yang belum terpenuhi. Kelakuan ini sangat menghambat perkembangan bayi. Ayunan listrik ini menggantikan peran orang tua dalam mengayun anak. Ketika anak berada dalam ayunan listrik, orang tua tidak akan tahu kapan anaknya kehausan bahkan kelaparan. Orang tua membiarkan anak tersebut di dalam ayunan sehingga anak tersebut merewel. Ayunan listrik ini juga akan memberi ketergantungan pada anak. Karena anak sudah merasa nyaman untuk tidur di dalam ayunan listrik. Namun jika tiba-tiba terjadi pemadaman listrik, dan ayunan tersebut tidak berfungsi lagi, apa yang akan terjadi? Anak akan mengalami kesulitan untuk tidur bahkan menjadi sangat rewel dari sebelumnya. Lantas, bagaimana cara mendidik anak dengan benar dalam perspektif islam? Nah, ketika orang tua mendidik anak, didiklah mereka dengan benar karena didikan orang tua akan berpengaruh pada akhlak dan masa depan sang anak. Di dalam Al-Quran, Allah SWT telah menjelaskan cara mendidik anak dengan benar. Seperti Luqman Al-Hakim dan para Nabi lainnya. Beliau merupakan tauladan yang terbaik yang harus dicontohi. Orang tua yang mampu memposisikan diri sebagai pelindung, pengayom, dan pendidik anak tentunya akan koheren dengan harapan agar mendapat calon generasi penerus yang baik, karena sifat dasar anak adalah membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Wasiat Luqman Al-Hakim dalam Qur’an surah Luqman ayat 13-19 merupakan manifestasi dari pentingnya pendidikan anak oleh orang tua dalam keluarga. Orang tua sepantasnya mampu melaksanakan pendidikan holistik kepada anak dalam keluarga sehingga mampu mewujudkan dan menjadikan mereka sebagai insan yang berguna. Salah satu pola asuh orang tua yang baik yaitu dengan selalu mengepresikan kasih sayang, seperti memeluk, mencium, memberi pujian, melatih emosi dan melakukan pengontrolan pada anak. Ini akan mengakibatkan anak merasa diperhatikan dan lebih percaya diri. Sehingga hal ini akan membentuk pribadi anak yang baik. Ketika orang tua berhasil dalam memberikan pola asuh yang benar, anak akan merasa diperhatikan dan disayangi oleh orang tuanya dan anak tidak takut untuk bergaul dengan orang lain. Anak juga lebih berekspresif, kreatif, dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru sehingga perkembangan anak akan lebih maksimal. Jadi orang tua harus memberi contoh yang terbaik pada anaknya karena orang tua lah sebaik-baik contoh yang dapat ditiru oleh sang anak. Karena anak merupakan penerus bangsa. Nah, demikianlah beberapa poin penting dalam membimbing anak yang dapat diambil dan dapat diterapkan dalam kehidupan. Semoga menginspirasi. Bagikan artikel ini apabila bermanfaat. Terima Kasih. Penulis: Siti Zahrah Athaillah. Mahasiswi Psikologi, Fakultas Kedokteran. Universitas Syiah Kuala.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kenali-lebih-dalam-dampak-dari-pola-asuh-yang-salah-yuk-simak/20226/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.17 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa UNDIP Kembangkan Dentavera sebagai Inovasi Perawatan Mulut

KKN Universitas Merdeka Malang Bangun Greenhouse Bambu, Dorong Ketahanan Pangan Warga Pandanrejo

KKN 179 UMM Pasang Papan Jadwal Pembagian Air di Bangelan, Cegah Perebutan Antarwarga

Warga Desa Tlekung Diajak Manfaatkan Urine Sapi Jadi Pupuk Organik Cair untuk Percepat Pertumbuhan Pakan Ternak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur
  2. 2

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  3. 3

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  4. 4

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  5. 5

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.